Zhao Lusi Menjadikan Popularitas sebagai Jembatan Petani

Di layar ponsel, ia tersenyum sambil mengangkat sekantong beras. Bukan beras premium dalam kemasan mewah, melainkan beras desa dengan label sederhana, seperti yang dijual di pasar kampung. Suaranya ringan, sesekali tertawa, namun matanya serius ketika bercerita tentang seorang petani tua di Sichuan yang panennya tak lagi terserap pasar.

Hari itu, Zhao Lusi tidak sedang mempromosikan drama terbarunya. Ia sedang mempromosikan harapan hidup para petani.

Aktris muda yang dikenal lewat drama romantis populer itu menghabiskan sekitar tujuh jam dalam satu sesi live streaming. Ia memperkenalkan cabai kering, madu hutan, beras, dan buah-buahan lokal dari kampung halamannya. Ia menyebut nama desa,  wajah petani, bahkan kisah keluarga mereka. Ia tidak membaca skrip promosi. Ia bercerita.

Di dunia hiburan yang sering mengukur nilai dari angka pengikut dan nilai kontrak, keputusan Zhao Lusi terasa ganjil sekaligus menggetarkan: ia tidak mengambil komisi. Seluruh keuntungan penjualan diserahkan kepada petani. Popularitasnya dipanen, tetapi bukan untuk dirinya.

Di balik layar, kisahnya berawal dari kegelisahan sederhana. Ia mendengar bahwa banyak produk pertanian lokal tidak terserap pasar digital karena petani tak punya akses pemasaran. Platform e-commerce berkembang cepat di China, tetapi tak semua desa ikut tumbuh. Jurang itu sunyi dan sunyi jarang viral.

Zhao Lusi memilih menjadikannya viral.

Dalam hitungan jam, jutaan penonton bergabung. Kolom komentar dipenuhi kalimat singkat: beli untuk dukung petani, terima kasih sudah peduli desa, ini baru idola. Transaksi mengalir seperti arus musim panen. Namun yang paling mengalir justru empati: orang membeli bukan hanya produk, tetapi cerita manusia di baliknya.

Ada satu momen yang terekam kamera penggemar. Zhao Lusi memegang sekotak madu, lalu berhenti sejenak. Ia membaca catatan kecil dari produsen: “Lebah kami mati separuh saat musim dingin.” Ia mengulang kalimat itu pelan, seolah memastikan penonton mendengarnya. Wajahnya tetap profesional, tetapi suaranya menurun satu nada, nada yang hanya muncul ketika seseorang tersentuh.

Itulah kecerdasan emosional yang jarang terlihat di panggung selebritas: kemampuan menjaga martabat orang yang dibantu. Ia tidak menampilkan petani sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai produsen yang layak dihargai. Ia tidak menjual kesedihan; ia menjual kerja keras.

Banyak figur publik berbicara tentang dampak sosial. Zhao Lusi menunjukkan bentuk konkretnya: menjembatani desa dan kota dengan teknologi, reputasi, dan kepercayaan. Ia memahami bahwa di era digital, pengaruh adalah mata uang. Dan mata uang itu bisa diputar untuk keuntungan pribadi atau dibagikan.

Sesi live streaming itu akhirnya mencatat penjualan puluhan juta yuan. Angka yang besar, tetapi yang lebih besar adalah pesan yang tersisa: bahwa popularitas bisa menjadi infrastruktur sosial. Bahwa satu wajah di layar bisa membuka jalan bagi ratusan keluarga tani. Bahwa empati, jika dipadukan dengan strategi digital yang cerdas, mampu mengubah rantai ekonomi.

Di akhir siaran, Zhao Lusi membungkuk kecil ke kamera, gestur sopan yang biasa ia lakukan kepada penggemar. Namun kali ini, rasanya berbeda. Seolah ia tidak hanya berterima kasih kepada penonton, tetapi juga kepada para petani yang telah mempercayakan panen mereka pada suaranya.

Di ladang yang jauh dari sorot lampu studio, mungkin ada keluarga yang malam itu tidur lebih tenang. Panen mereka akhirnya menemukan pembeli. Dan di dunia yang sering merayakan ketenaran kosong, seorang aktris muda mengingatkan bahwa ketenaran juga bisa menumbuhkan.

Zhao Lusi tidak sekadar bersinar. Ia menanam harapan.