Rupiah Tertekan Ketidakpastian Geopolitik dan Kebijakan Perdagangan AS
ORBITINDONESIA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menghadapi tekanan di tengah ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pada Rabu (25/2/2026), rupiah ditutup menguat tipis setelah sebelumnya melemah, menggambarkan dinamika pasar yang penuh tantangan.
Situasi geopolitik dan kebijakan ekonomi dalam negeri menjadi fokus utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Ketegangan antara Iran dan AS mengenai pembicaraan nuklir serta kebijakan perdagangan Donald Trump menambah ketidakpastian. Dari dalam negeri, kebijakan fiskal pemerintah juga turut mewarnai dinamika nilai tukar.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti risiko pelemahan rupiah yang dipengaruhi oleh sentimen global dan domestik. Perundingan nuklir Iran-AS dan kebijakan tarif AS berpotensi mengganggu pasar. Sementara itu, kebijakan fiskal Indonesia menunjukkan peningkatan utang dan pembiayaan non-utang, yang berimplikasi pada stabilitas ekonomi.
Ketidakpastian global dan kebijakan fiskal dalam negeri menggambarkan betapa kompleksnya tantangan ekonomi saat ini. Dengan kebijakan tarif yang agresif dari AS dan situasi geopolitik yang tegang, Indonesia harus berhati-hati dalam mengelola kebijakan ekonomi untuk menjaga stabilitas rupiah. Ini adalah momen krusial bagi pemerintah untuk menunjukkan kebijakan yang adaptif dan responsif.
Dalam menghadapi ketidakpastian global dan tantangan domestik, Indonesia harus memperkuat fondasi ekonominya. Kebijakan yang jelas dan terencana menjadi kunci untuk stabilitas jangka panjang. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia akan beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika global yang terus berubah? Ini adalah tantangan besar yang harus dihadapi dengan strategi matang dan langkah berani.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Februari 2026)