Hendrajit: Tentang Dolar Menguat, Kita Jangan Terkena Sihir Sistem Ekonomi Bretton Woods
Oleh Hendrajit, pengamat geopolitik
ORBITINDONESIA.COM - Kalau kita ikut-ikutan panik dolar menguat terhadap rupiah, sama saja kita kena sihir Sistem Ekonomi Bretton Woods.
Pada Konferensi Bretton Woods 1944, setahun jelang berakhirnya Perang Dunia II, mata uang dolar AS ditetapkan sebagai mata uang cadangan utama keuangan internasional. Sebagai tolok ukur transaksi perdagangan internasional, dan transaksi keuangan internasional dan tolok ukur devisa negara.
Jadi dolar jadi fondasi tata ekonomi dunia pasca Perang Dunia II dalam Konferensi Bretton Woods di negara bagian New Hampshire, AS.
Sekarang, 82 tahun sudah Konferensi Bretton Woods berlalu. Adanya BRICS mulai muncul inspirasi untuk mencari ekosistem alternatif untuk mengimbangi atau bahkan menantang dominasi dolar.
Salah satunya muncul solusi baru berupa mata uang digital bank sentral (CBDC) dan Sistem Pembayaran Lintas Batas (CIPS).
Kedua skema tersebut mulai serius didalami oleh negara negara anggota BRICS karena beberapa negara di dalamnya sempat kena sanksi ekonomi berbasis dolar seperti China, Iran dan Rusia. Ini malah mendorong negara negara berkembang memikirkan alternatif untuk mematahkan dominasi mata uang dolar AS.
Sekarang adanya CBDC dan CIPS yang dikombinasi oleh dukungan strategis BRICS, De-Dolarisasi dan De-Globalisasi sudah diambang pintu.
Berarti selain mengancam dominasi dolar AS, juga jadi momentum tata ulang tatanan global pasca Perang Dunia II sudah semakin dekat. Sebab dolar lah yang jadi pasak bumi tata ekonomi dunia sejak akhir Perang Dunia II.
Kalau perolehan devisa negara saja diukur dolar kan sama saja saya ini kaya atau tidak ditentukan orang orang yang sama sekali tidak mengenal saya dengan baik.
Adanya fenomena CBDC dan CIPS memang belum sempurna, namun sudah mulai menyadarkan banyak negara bahwa dominasi dolar bisa dipatahkan kok. Dan CBDC dan CIPS baru langkah awal yang strategis. Yang pada perkembangannya nanti akan menguatkan mata uang lokal atau mata uang reguonal sehingga BRICS bisa punya mata yang bersama seperti Euro sebagai mata uang Uni Eropa.
Seharusnya Presiden Prabowo merespons keresahan publik terkait meroketnya rupiah di atas Rp17 ribu dengan membahas dari perspektif ini. Meski dengan bahasa sederhana dan renyah Bukannya dengan menyatakan orang desa tidak memakai dolar yang malah menuai pro kontra.
Sebab adanya tren menuju De-Dolarisasi dan De-Globalisasi bukan cuma penting disadari oleh lapisan menengah perkotaan tapi juga oleh lapisan masyarakat pedesaan.
Masalah krusial yang mestinya disadari presiden, bukan orang desa tidak memakai dolar. Tapi dolar AS sebagai mata uang cadangan utama dunia, mulai longsor dan tidak relevan lagi.
Saya khawatir, baik presiden Prabowo maupun kaum oposisi, sama sama mengalami ilusi optik. Sama sama masih beranggapan kalau dolar AS itu masih digdaya. ***