Cahaya di Atas Tanah Hati: Risalah Rintik Ilmu

oleh Hasantoha Adnan

Gerimis tipis mengiringi langkah saya menuju masjid dekat rumah untuk melaksanakan shalat Isya dan Tarawih berjamaah di hari kedua Ramadhan. 

Di jeda antara shalat Isya dan shalat Tarawih, sang Imam naik mimbar dan berceramah. Seolah mencermati suasana gerimis yang syahdu, Ia membukanya dengan menyitir sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari & Muslim tentang ilmu yang diibaratkan sebagai hujan yang turun dan membawa manfaat (ghaits), tidak rintik tapi juga tak deras.

Darinya kita belajar memahami bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang diajarkan—ia adalah sesuatu yang turun menyentuh bumi. Metafora ini sesungguhnya menggambarkan peta psikologis tentang manusia. Tentang bagaimana hati, sebagai pusat kesadaran dan kemauan, menentukan nasib setiap tetes kebenaran.

 

Tanah yang Subur: Ketika Hati Menjadi Rahim Makna

Ada jiwa yang seperti tanah lembab setelah musim panjang penantian. Begitu hujan turun, ia tidak hanya basah; ia hidup. Benih-benih yang lama tertidur bangun, akar-akar menemukan arah, dan hijau pun merekah tanpa suara.

Inilah hati yang telah mencapai al-fahm—pemahaman yang menyentuh kedalaman makna—dan berlanjut pada al-‘amal—tindakan yang menjelma kebiasaan. Ilmu tidak berhenti sebagai informasi; ia bertransformasi, menata ulang cara pandang, memperhalus respons, dan melunakkan nada suara.

Tanah subur tidak pernah menyombongkan hujan yang ia terima. Ia justru sibuk menumbuhkan manfaat. Dari dirinya, orang lain berteduh. Dari akhlaknya, orang lain belajar tanpa merasa digurui. Dalam diri seperti ini, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan penumbuhan kesadaran. Hati menjadi rahim makna—mengandung ilmu, melahirkannya sebagai adab.

 

Tanah yang Keras: Keteguhan yang Menjaga Air

Namun tidak semua tanah menumbuhkan taman. Ada yang keras, padat, tak mudah ditembus akar, disebut sebagai tanah ajadib. Tetapi jangan tergesa menilainya. Sebab tanah semacam itu kadang justru menyimpan air di permukaannya, menjadi telaga kecil bagi musafir yang lewat.

Secara psikologis, inilah jiwa penjaga amanah. Ia mungkin tidak selalu kreatif dalam merumuskan hikmah, tetapi ia teguh dalam menjaga kemurnian ilmu. Ia menghafal, mencatat, meriwayatkan. Tanpa dirinya, mata rantai transmisi akan putus; hujan akan hilang tanpa jejak.

Dalam tradisi Islam, tipe ini adalah fondasi peradaban. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan bukan hanya soal inovasi, tetapi juga soal integritas. Bahwa menjaga lebih sulit daripada menemukan. Dan bahwa setiap peran—menumbuhkan atau menyimpan—sama-sama bernilai di hadapan Allah.

 

Tanah yang Tandus: Cermin yang Menggetarkan

Lalu ada tanah yang tidak menyerap, tidak pula menahan. Hujan turun, lalu mengalir pergi. Tidak ada yang tumbuh, tidak ada yang tertampung.

Di sinilah pendidikan berubah menjadi cermin. Kita bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar: apakah hatiku sedang mengeras? Apakah kesombongan, prasangka, atau kelelahan spiritual telah membuatku kedap terhadap nasihat dan kebenaran?

Dalam perspektif psikologi Islami, hati yang keras bukanlah vonis abadi. Ia adalah kondisi yang bisa direhabilitasi. Proses belajar sejati adalah proses melunakkan diri, mengikis ego, mengakui keterbatasan, membuka ruang bagi koreksi. Setiap sujud adalah terapi. Setiap tafakur adalah proses pembajakan tanah batin.

Ilmu yang bermanfaat tidak hanya menambah apa yang kita tahu, tetapi mengurangi apa yang menghalangi kita untuk berubah. Ia menertibkan niat, memperbaiki orientasi, dan menata ulang tujuan belajar: bukan demi pengakuan, melainkan demi kedekatan dengan Yang Maha Mengetahui.

Menjadi Oase

Barangkali kita tidak bisa memilih jenis hujan apa yang turun pada zaman kita. Tetapi kita selalu bisa memilih jenis tanah seperti apa yang hendak kita rawat dalam diri.

Karenanya, laksana oase, jadilah tanah yang ramah pada hujan. Jika mampu, tumbuhkan taman. Jika belum, setidaknya jadilah telaga yang menyimpan. Jangan menjadi cadas yang menolak segalanya.

Sebab ketika ilmu dan hati bertemu dalam harmoni, lahirlah peradaban yang sejuk—peradaban yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Di sana, setiap insan dapat berteduh, mereguk air jernih iman, dan percaya bahwa hujan yang turun hari ini tidak pernah sia-sia.