Ridho, Remaja Tangguh yang Berjualan Kopi Sambil Menggendong Adiknya
Di usia ketika sebagian remaja masih sibuk bermain media sosial, Ridho justru harus menjalani hidup dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari usianya. Remaja 16 tahun itu berjualan kopi keliling sambil menggendong sang adik, Salsa, yang tengah berjuang melawan berbagai penyakit serius. Tak ada keluhan berlebihan dari wajah Ridho. Ia tetap menjalani hari-harinya meski dengan pundak yang memikul beban berat. Setiap hari, ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain menawarkan kopi dagangannya, sementara Salsa selalu berada dalam pelukannya. Bagi Ridho, menjaga adiknya bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk kasih sayang yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.
Salsa yang baru berusia enam tahun menderita cerebral palsy, skoliosis, hernia, tumor, serta epilepsi yang membuatnya kerap mengalami kejang. Kondisi itu membuat Salsa tidak dapat berjalan maupun berbicara seperti anak-anak lain seusianya. Ia membutuhkan perhatian hampir sepanjang waktu. Ridho memahami betul risiko yang bisa terjadi jika sang adik ditinggalkan sendirian, sehingga ia memilih membawa Salsa ke mana pun dirinya pergi.
Sepulang sekolah, Ridho tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Ia segera menyiapkan dagangan kopi lalu berkeliling menjajakan jualannya. Penghasilannya tidak besar, hanya sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per hari. Namun dari uang itulah kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan Salsa perlahan diupayakan.
Di balik langkah kecilnya menyusuri jalan, ada beban hidup yang tidak ringan. Biaya obat Salsa mencapai sekitar Rp600.000 setiap bulan, jumlah yang jauh dari kemampuan ekonomi keluarga mereka. Orang tua Ridho bekerja serabutan dan kerap berada di luar rumah demi mencari nafkah, membuat Ridho menjadi sosok yang paling sering diandalkan untuk menjaga dan merawat adiknya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Ridho tidak menunjukkan rasa malu atas pekerjaan yang dijalaninya. Ia memahami bahwa mencari nafkah halal adalah bentuk perjuangan yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Ketika banyak anak muda yang takut dipandang rendah karena pekerjaan sederhana, Ridho justru memperlihatkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh jenis pekerjaannya, melainkan oleh ketulusan dan kerja kerasnya.
Kisah Ridho menyentuh banyak orang karena menghadirkan potret kasih sayang yang sederhana, namun begitu kuat. Ia bukan sosok yang dikenal karena prestasi besar atau kehidupan yang penuh sorotan, melainkan seorang remaja yang tumbuh bersama tanggung jawab dan perjuangan hidup yang tidak ringan. Di usianya yang masih muda, Ridho memilih tetap bertahan demi merawat sang adik dengan penuh ketulusan.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan ancaman putus sekolah, Ridho tetap berusaha menjaga harapan. Ia ingin adiknya mendapatkan perawatan yang lebih baik, sekaligus berharap dirinya masih bisa melanjutkan pendidikan.
Melalui perjuangannya, Ridho mengajarkan bahwa hidup yang berat tidak selalu harus dijalani dengan keluh kesah. Di usianya yang masih muda, ia memilih tetap berdiri, bertahan, dan menjaga harapan di tengah keadaan yang tidak mudah.