Syaefudin Simon: Tiyo Ardianto, MBG, dan ODM
Oleh Syaefudin Simon, Kolumnis Satupena Jakarta
ORBITINDONESIA.COM - Di tengah riuh rendah politik yang gemar memendekkan akronim menjadi slogan, seorang mahasiswa filsafat berdiri dan membalik maknanya.
Tiyo Ardianto, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, mengkritik habis program MBG. Bagi pemerintah, MBG adalah “Makan Bergizi Gratis”. Bagi Tiyo, dengan satire yang getir, ia menyebutnya “Makan Beracun Gratis”.
Sindiran itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia merujuk pada fakta pahit: ribuan siswa penerima program dilaporkan mengalami keracunan makanan di berbagai daerah. Alih-alih menjadi perayaan gizi, MBG berubah menjadi kepanikan orang tua, antrean di puskesmas, dan berita tentang muntah, diare, serta dugaan kelalaian distribusi. Program yang diniatkan sebagai nutrisi justru menyisakan ironi.
Tiyo bukan sekadar aktivis kampus yang gemar berteriak di depan mikrofon tanpa pijakan etis. Ia ditempa oleh sebuah rumah belajar di Kudus yang menjadikan dongeng sebagai metode pendidikan: Omah Dongeng Marwah (ODM). Sebuah konsep pendidikan yang mengajarkan moral dan etika yang baik adalah landasan hidup yang sejati. Dan ajaran moral plus etika tersebut masuk dalam hati perserta didik melalui dongeng.
Hasilnya? Persis seperti dikatakan Yuval Noah Harari – manusia dari jenis homo sapiens itu maju dan berkembang pikirannya karena dongeng. Itulah sebabnya, kitab-kitab suci pun menyajikan berbagai dongeng yang bagus untuk membangun peradaban manusia.
ODM yang digagas aktivis Hasan Aoni dan kawan-kawan pegiat sosial, jurnalis, guru, mahasiswa, dan pecinta lingkungan tahun 2015 ini berusaha menghidupkan kembali tradisi mendongeng. Di sana, matematika bisa diselipkan dalam kisah petualangan. Logika disamarkan dalam cerita tentang pembagian harta kerajaan. Lalu moral pun tumbuh dari imajinasi dongeng itu. Tanpa paksaan.
Dongeng, bagi mereka, bukan pengantar tidur. Ia adalah metode belajar. Dongeng adalah media yang sangat efektif untuk menyajikan materi akademik dan pesan moral dengan cara menyenangkan. Anak-anak tidak dijejali hafalan, tetapi diajak memahami. Lalu meresapi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ratusan anak kini belajar di ODM. Mereka tak hanya mengejar ijazah kesetaraan. Mereka membuat film—seperti Mata Jiwa yang diputar di Festival Anak dan Remaja di Gedung Kemendikbud pusat, Senayan. Mereka juga menulis lagu, bermain teater, menari, dan bermusik.
Penyanyi balada Tsaqivah Kinasih, alumnus ODM, misalnya, berhasil menciptakan ratusan lagu dengan aransemen yang sangat menggugah. Salah satu lagunya -- Betapa Sulit Menjadi Manusia -- yang lirik dan aransemennya digubah Tsaqivah mendapat acungan jempol dari musisi cum flisuf UGM, Dr. Farid Mustofa. Luar biasa bagus lagu itu, Ujar Farid setelah mendengar lagu gubahan putri Hasan Aoni di Youtube tadi.
Beberapa lulusan ODM yang belajar sesuai potensi dan passion masing-masing, telah melangkah ke kampus-kampus besar seperti ISI Surakarta, UNNES, dan UGM. Tiyo Ardianto adalah salah satu buktinya. Jalur nonformal tidak menghalangi langkahnya menjadi mahasiswa filsafat dan Ketua BEM di kampus bergengsi itu.
Mungkin di situlah akar keberanian para alumnus ODM. Dongeng mengajarkan struktur cerita: ada tokoh, ada konflik, ada penyelesaian. Dalam dongeng yang baik, keadilan menemukan jalannya. Dalam politik, keadilan sering tersesat di lorong anggaran.
Ketika Tiyo menyebut MBG sebagai “Makan Beracun Gratis”, ia bukan sedang bercanda. Ia sedang mengingatkan bahwa kebijakan publik bukan sekadar soal niat baik dan akronim manis. Program gizi yang abai pada kualitas, distribusi, dan pengawasan bisa berubah menjadi ancaman kesehatan. Kata “bergizi” bisa runtuh oleh satu fakta keracunan massal.
Tak hanya itu. Kata Tiyo, MBG juga sarang korupsi. Penuh intrik dan politik. Yang terakhir ini klarifikasinya panjang. Karena menyangkut konspirasi bisnis, politik, dan nepotisme. Ruwet.
Dongeng mengajarkan anak-anak membedakan mana kisah dan mana fakta. Tiyo tampaknya membawa pelajaran itu ke ruang publik. Ia membaca narasi kebijakan dengan kacamata kritis: apakah ini benar-benar solusi, atau sekadar cerita indah untuk panggung politik?
Ya. Omah Dongeng Marwah mengajarkan tentang pentingnya marwah — harga diri dan kehormatan yang harus eksis pada manusia. Tanpa marwah, fondasi moral dan etika runtuh. Manusia pun berubah jadi binatang buas yang serakah.
Tiyo yang berani mengritik MBG tampaknya sedang melaksanakan pesan-pesan almamaternya itu. Menegakkan kebenaran, kejujuran, dan kebajikan. Demi tegaknya etika dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Pendidikan bukan hanya tentang ijazah, tetapi tentang keberanian menjaga nilai. Dari rumah belajar sederhana di Kudus itu, kini telah lahir seorang mahasiswa yang berani berkata pahit di tengah tepuk tangan seremonial. Tiyo, publik Indonesia kini menaruh harapan besar padamu untuk memperbaiki negeri ini dan para pemimpinnya yang niretika.
Barangkali negeri ini memang kekurangan dongeng yang baik. Terlalu banyak cerita manis yang meninabobokan, terlalu sedikit kisah yang menumbuhkan keberanian untuk bertanya.
Tiyo Ardianto, anak didik OMD, memilih berdiri di sisi yang tidak nyaman: menyebut luka sebagai luka. Menyebut bodoh sebagai bodoh.
Kenapa Tiyo seberani itu? Karena dalam pendidikan yang sejati, kata-kata bukan kosmetik kekuasaan. Ia adalah cermin. Dan cermin, seberapa pun buruk bayangannya, tetap diperlukan. ***