Perjuangan Agustinus Nitbani, Guru Honorer NTT yang Menumpang Truk Demi Mengajar

‎Pagi di Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur, suara mesin truk pengangkut barang melintas perlahan di jalanan berdebu. Di antara karung dan barang-barang muatan, seorang guru honorer ikut menumpang perjalanan. Ia menyimpan tas berisi buku pelajaran, lembar soal, dan seutas harapan agar hari itu bisa tiba di sekolah tepat waktu untuk mengajar murid-muridnya.

‎Mengapa ia harus sampai menumpang truk?

‎Jawabannya tak lepas dari kecilnya gaji yang ia terima. Dengan penghasilan yang jauh dari kata layak, ongkos transportasi menjadi beban yang tak selalu mampu ia tanggung. Pilihan menumpang truk bukanlah sekadar cara berhemat, melainkan satu-satunya jalan agar ia tetap bisa berdiri di depan kelas dan menunaikan panggilan hatinya sebagai pendidik.

‎Kisah guru honorer di wilayah Kupang Barat ini sempat viral di media sosial. Ia diketahui tetap mengajar meski menerima gaji sekitar Rp223.000 per bulan. Sosok guru honorer tersebut adalah Agustinus Nitbani yang mengabdi di SD Negeri Batu Esa. 

‎Di banyak daerah di Nusa Tenggara Timur, tantangan geografis memang bukan cerita baru. Data dari berbagai laporan pendidikan menunjukkan bahwa wilayah NTT masih menghadapi persoalan pemerataan guru, keterbatasan sarana prasarana, serta rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik honorer. Tak sedikit guru honorer yang menerima honor di bawah standar upah minimum, bahkan dibayarkan tidak rutin.

‎Namun di balik angka-angka itu, ada wajah-wajah yang memilih bertahan.

‎Di ruang kelas sederhana dengan dinding yang mulai mengelupas, pak Agusthinus berdiri di depan papan tulis. Murid-murid duduk di bangku kayu panjang, sebagian tanpa alas kaki. Mereka memanggilnya “Pak Guru” dengan mata berbinar, seolah tak tahu berapa rupiah yang diterima setiap bulan oleh orang yang mengajari mereka membaca dan berhitung.

‎Bagi sang guru, mengajar bukan sekadar pekerjaan. Ia pernah mengatakan dalam wawancara yang beredar, bahwa melihat anak-anak di desanya bisa membaca lancar dan berani bercita-cita adalah kebahagiaan tersendiri. Gaji memang kecil, tetapi rasa tanggung jawab jauh lebih besar.

‎Fenomena guru honorer bergaji minim sebenarnya telah lama menjadi sorotan nasional. Pemerintah pusat melalui berbagai skema seperti PPPK berupaya meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik. Namun prosesnya bertahap dan belum menjangkau semua guru honorer, terutama di daerah terpencil.

‎Di tengah situasi itu, pilihan untuk tetap mengajar adalah keputusan yang tidak mudah. Perjalanan menumpang truk bukan hanya soal kendaraan, tetapi tentang risiko dan ketidakpastian. Ketika hujan turun, jalanan tanah berubah licin. Ketika truk tak lewat, ia harus mencari alternatif lain atau berjalan lebih jauh.

‎Namun kelas tak pernah ia biarkan kosong.

‎Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidikan di Indonesia masih banyak ditopang oleh pengabdian. Di kota-kota besar, diskusi tentang kurikulum dan teknologi pendidikan terus berkembang. Sementara di pelosok, ada guru yang lebih dulu memastikan muridnya hadir, duduk, dan memahami huruf demi huruf.

‎Dedikasi Agustinus Nitbani di Kupang Barat bukan sekadar cerita viral sesaat. Ia adalah cermin tentang ketimpangan yang nyata, sekaligus bukti bahwa semangat mengajar tidak selalu sebanding dengan kesejahteraan yang diterima.

‎Di atas truk yang melaju perlahan, di antara debu dan angin kering NTT, ada satu keyakinan yang tak ikut goyah: bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan.