Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM Subsidi Jenis Pertalite dan Solar Tidak Akan Naik dalam Waktu Dekat
ORBITINDONESIA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, hari Senin, 9 Maret 2026 memastikan harga BBM subsidi jenis pertalite dan solar tidak akan naik dalam waktu dekat meskipun harga minyak mentah dunia sudah menembus USD 100 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah dunia terjadi setelah meletus perang AS-Israel vs Iran pada 28 Februari 2026. Sebelum terjadi perang harga di kisaran USD 72 per barel. APBN 2026 disusun dengan asumsi harga minyak mentah USD 70 per barel.
Senin pagi harga Brent tercatat USD 113,68/barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) USD 113,25/barel. Sejumlah produsen di Timur Tengah mulai menekan produksi.
Kuwait mengumumkan pemangkasan produksi, Irak memangkas sekitar 70% produksinya dari 4,3 juta menjadi 1,3 juta barel per hari. Dalam analisis Reuters, jika krisis geopolitik berlanjut, harga Brent berpotensi ke USD 120-128/barel, sementara WTI bisa ke USD 130,50/barel.
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson memperkirakan, jika biaya energi naik 10% secara berkelanjutan, inflasi Indonesia berpotensi mencapai 4,8% pada akhir tahun. Bahkan, jika naik 20%, inflasi 4,8% itu bisa terjadi pada April-Mei, dan akhir tahun mendekati 7,5%.
Namun, ia menilai tekanan inflasi belum tentu memicu pengetatan kebijakan moneter. BI diperkirakan tetap berhati-hati mengingat pertumbuhan ekonomi masih relatif rapuh, sementara kenaikan harga energi berpotensi menggerus daya beli.
Kurs rupiah sempat terjun 76 poin (0,45%) menjadi Rp 17.001/USD, bahkan di sejumlah bank tembus Rp 17.243/USD. Pada pukul 14.14 kemarin, rupiah kembali ke level Rp 16.953/USD. Menkeu Purbaya menilai, pelemahan itu dipengaruhi sentimen pernyataan ekonom bahwa Indonesia mengalami resesi seperti 1997-1998.
Alih-alih resesi, kata dia, ekonomi masih ekspansi. Purbaya menegaskan, daya beli mulai membaik terlihat dari ramainya pusat grosir Pasar Tanah Abang. Itu, kata dia, juga membuktikan melambungnya harga minyak dunia belum berefek ke aktivitas ekonomi Indonesia. ***