Hari ke-10: Aksi Trump Berakhir dengan Kegagalan Strategis, Tidak Ada Perubahan Rezim dan Iran Masih Bertahan
ORBITINDONESIA.COM - Dalam pidatonya kepada publik Amerika, Presiden Trump menggambarkan perang AS-Israel dengan Iran sebagai “ekskursi jangka pendek” yang kini hampir berakhir.
Ia mengatakan operasi tersebut akan segera berakhir dan mengklaim bahwa kemampuan angkatan laut dan udara Iran telah dinetralisir, kapasitas rudal Iran telah dimusnahkan, dan kepemimpinannya telah dihancurkan.
Trump bersikeras bahwa kampanye tersebut berjalan lebih cepat dari jadwal, meskipun ia mencatat bahwa ia menunda serangan terhadap infrastruktur penting tertentu sambil mengkritik transisi kepemimpinan yang sedang berlangsung di Teheran.
Pasar Bereaksi terhadap Narasi Perang
Saran Trump bahwa perang dapat berakhir "segera" langsung menggerakkan pasar global. Indeks saham AS naik sementara harga minyak mentah turun dalam perdagangan lanjutan.
Sebelumnya, harga minyak telah melonjak di atas $100 per barel karena konflik tersebut. Lonjakan itu tampaknya menjadi alasan utama mengapa Trump sekarang mencoba untuk mengakhiri perang dengan cepat.
Guncangan Minyak di Balik Pergeseran
Harga minyak telah melonjak ke level yang belum pernah terlihat sejak 2022. Minyak mentah Brent melonjak setinggi $119,50 per barel pada 9 Maret sebelum stabil mendekati $103. West Texas Intermediate, patokan AS, diperdagangkan mendekati $101 per barel sebelum pasar dibuka di New York.
Sementara itu, harga bensin rata-rata di Amerika Serikat naik menjadi sekitar $3,50 per galon. Trump menyebutnya "harga kecil yang harus dibayar," tetapi kenaikan biaya bahan bakar secara langsung memengaruhi konsumen Amerika dan perekonomian yang lebih luas.
Tekanan Strategis Energi
Eropa menghadapi tekanan tambahan karena serangan Iran telah menargetkan infrastruktur energi utama yang terkait dengan aliran gas menuju Eropa. Gas Minyak Bumi Cair (LPG), termasuk propana dan butana, dikirim dari Timur Tengah ke Eropa menggunakan kapal pengangkut gas khusus. Gangguan dalam rantai pasokan ini dapat semakin memperketat pasar energi Eropa, terutama karena aliran energi global sudah dialihkan ke Asia.
Ancaman Selat Hormuz
Trump juga mengancam akan mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal kapal melalui Selat Hormuz jika Iran mencoba menutupnya.
Selat tersebut memiliki lebar sekitar 21 mil laut pada titik tersempitnya, menjadikannya titik rawan yang sangat sensitif untuk pengiriman minyak global. Konfrontasi militer apa pun di sana dapat langsung mengganggu pasar energi global.
Para kritikus berpendapat bahwa pengoperasian formasi angkatan laut besar di area yang terbatas seperti itu membuat mereka rentan terhadap ancaman rudal dan drone dari garis pantai sekitarnya.
Tekanan Politik di Dalam Negeri
Kenaikan harga energi menghadirkan risiko politik serius bagi Trump di dalam negeri. Kepresidenannya sangat bergantung pada janji-janji kekuatan dan stabilitas ekonomi.
Jika harga bensin terus naik, hal itu dapat melemahkan klaim ekonomi tersebut dan melemahkan dukungan politik menjelang pemilihan mendatang. Ekonomi yang lesu dapat menggeser kendali kongres, berpotensi memberi Demokrat pengaruh untuk menyelidiki pemerintahannya dan keputusan-keputusan masa perangnya.
Strategi Perubahan Rezim Gagal
Salah satu tujuan mendasar dari perang tersebut adalah perubahan rezim di Iran. Trump berulang kali menyatakan bahwa tekanan dan serangan militer dapat memicu keresahan internal yang akan menyebabkan runtuhnya pemerintahan Iran.
Hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, sebagian besar penduduk Iran bersatu di sekitar negara dalam menghadapi serangan eksternal.
Iran dengan Cepat Mengatur Ulang Kepemimpinan
Setelah pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Iran bergerak cepat untuk menerapkan rencana suksesi. Mojtaba Khamenei, putranya, diangkat ke posisi Pemimpin Tertinggi. Trump menyatakan kekecewaannya atas hasil tersebut dan menyatakan bahwa ia lebih menyukai skenario kepemimpinan yang berbeda dalam struktur politik Iran.
Opsi Shah Ditolak
Trump juga tampaknya menolak kemungkinan untuk mengembalikan putra Shah sebagai pemimpin Iran. Menempatkan tokoh pengasingan akan berisiko mengulangi kesalahan AS di masa lalu di Timur Tengah di mana keruntuhan rezim yang cepat menciptakan kekosongan kekuasaan yang memicu ketidakstabilan dan gerakan ekstremis.
Realitas Medan Perang
Meskipun Amerika Serikat dan Israel menimbulkan kerusakan serius pada infrastruktur dan aset militer Iran, Iran membalas dengan cara yang tidak sepenuhnya diantisipasi oleh Washington dan Tel Aviv. Serangan Iran menargetkan pangkalan AS di seluruh wilayah, menciptakan guncangan strategis dan memaksa respons defensif yang cepat.
Tidak Ada Keruntuhan di Teheran
Asumsi utama di balik perang—bahwa pemerintah Iran akan runtuh di bawah tekanan—terbukti salah. Alih-alih memicu pemberontakan internal yang meluas, konflik tersebut tampaknya telah mengkonsolidasikan dukungan politik di sekitar kepemimpinan Iran.
Hasil Strategis yang Jauh dari Tujuan
Trump dan Netanyahu mungkin mengklaim keberhasilan taktis dalam melemahkan beberapa kemampuan Iran. Tetapi tujuan utama mereka—menggulingkan pemerintah Iran dan membentuk kembali tatanan politik di Teheran—jelas telah gagal.
Penilaian Akhir Perang
Setelah sepuluh hari eskalasi, kehancuran, dan guncangan ekonomi di seluruh dunia, konflik tampaknya berakhir bukan dengan kemenangan yang menentukan, tetapi dengan perhitungan ulang politik. Apa yang dijual sebagai perang cepat untuk membentuk kembali Iran malah menjadi konfrontasi yang mahal tanpa perubahan rezim dan tanpa penyerahan diri.
Pada akhirnya, "ekskursi jangka pendek" mungkin akan diingat sebagai salah satu kesalahan perhitungan strategis terbesar dalam perang ini.
(Sumber: The Movement For Social Change - GH) ***