Hendrajit tentang Wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Prabowo Subianto
Oleh Hendrajit, pengamat geopolitik
ORBITINDONESIA.COM - Najwa Shihab kalau berpikir dan dengan naluri sebagai jurnalis, sudah betul ketika bertanya kepada Prabowo apa yang membedakan yang murni kritis intelektual dan mana yang kritis apriori bahwa semua yang dari pemerintah buruk.
Harusnya sampai di situ saja pertanyaannya. Persilakan presiden menjawab. Dan semua orang akan mengerti jalan berpikir presiden terkait isu menghebohkan ini.
Sayangnya, Najwa terpancing untuk beropini dan menambahi soal makar dan sebagainya. Alhasil, inti pertanyaan Najwa terkait klarifikasi langsung pernyataan Prabowo tentang peran pengamat kritis yang ditunggu publik malah ia mentahkan sendiri.
Alhasil, Prabowo pun terpancing untuk menyanggah Najwa terkait makar, alih alih pertanyaan awal soal bedanya pengamat kritis murni dan mana yang sarat kepentingan politis.
Atau memang Prabowo secara sadar lebih memilih menyanggah Najwa tentang makar, yang sebagai tentara Prabowo paham betul subyek ini, daripada menjawab pertanyaan awal Najwa yang lebih strategis.
Dan serentak itu, oleh sebab ego Najwa, jurnalisme gagal memainkan peran sebagai ruang bagi orang nomor satu negeri ini untuk memperjelas konsep dan ide tentang pengamat dan intelektual kritis dalam kancah dan pusaran politik.
Padahal kalau Najwa cukup mengajukan pertanyaan yang mengarah pada pembahasan itu, kita pun mampu menilai obyektif pandangan presiden apa beda kaum pergerakan dan yang cuma aktivis panggung belaka.
Ego Najwa jadinya gagal untuk dua kemungkinan. Gagal menjebak presiden kalau jawaban Prabowo mengundang masalah baru.
Tapi juga gagal memberi ruang buat citra positif Prabowo kalau jawaban presiden cespleng dan tepat sasaran.
Retno Pinasti menurut saya punya naluri jurnalstik lebih bagus daripada Najwa. Berhasil memancing emosi Prabowo tapi jadinya Prabowo secara tidk sadar malah membongkar banyak hal yang selama ini tidak diketahui publik.
Misalnya, Indonesia memang tidak ada niat atau rencana membayar Rp 17 triliun ke BOP. Ini poin bagus buat Prabowo.
Perkara hal ini Prabowo jadinya secara sadar atau tak sadar terpancing membuka strategi atau siasatnya, tapi secara jurnalistik Retno berhasil. Mengungkap hal yang tadinya orang tidak tahu. ***