Analisis Mohammad Marandi: Israel Telah Menderita Kerusakan yang Tidak Dapat Dipulihkan

ORBITINDONESIA.COM - Analisis terbaru dari cendekiawan Iran Mohammad Marandi telah mengguncang kalangan geopolitik. Klaimnya bahwa Israel telah menderita kerusakan yang tidak dapat dipulihkan menandai pergeseran dramatis dalam cara penafsiran keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

Menurut Marandi, pengajar di Universitas Teheran, dampak ekonomi dan psikologisnya begitu dalam sehingga "tidak ada yang akan berinvestasi di Israel di masa depan," membingkai momen ini sebagai awal dari akhir bagi sistem yang telah lama dilindungi oleh dukungan Barat.

Terlepas dari apakah seseorang setuju atau tidak, ini adalah penilaian berani yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan diri dari apa yang disebut Global Selatan.

Marandi juga berpendapat bahwa Iran sekarang memiliki pengaruh strategis, menunjuk pada tekanan yang terlihat pada sistem pertahanan AS-Israel.

Dia mencatat bahwa sirene peringatan di Tel Aviv sekarang berbunyi hanya beberapa detik sebelum benturan—jauh dari penyangga sepuluh menit yang pernah diandalkan Israel.

Menurutnya, ini bukan hanya pergeseran taktis tetapi juga simbolis: tanda bahwa model pencegahan lama sedang runtuh.

Bahkan pernyataan Donald Trump baru-baru ini tentang "misi selesai," menurut Marandi, bukanlah tentang kemenangan, melainkan lebih tentang mencari jalan keluar dari konfrontasi yang tidak lagi dapat dikendalikan oleh Washington.

Analis tersebut melangkah lebih jauh, mengungkapkan bahwa Iran menolak dua upaya terpisah dari utusan Trump untuk membuka pembicaraan—dengan alasan pengkhianatan di masa lalu dan bersikeras bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.

Ia juga menyoroti kebangkitan Ayatollah Mojtaba Khamenei, menggambarkannya sebagai seorang cendekiawan dengan dua dekade mengajar dan gaya hidup sederhana, yang mewakili kesinambungan daripada perubahan besar.

Bagi Marandi, transisi kepemimpinan ini memperkuat kohesi internal Iran pada saat tekanan eksternal gagal.

Pada akhirnya, ia membingkai ketahanan Iran sebagai kemenangan bukan hanya untuk negara itu tetapi untuk apa yang disebutnya sebagai "mayoritas global"—negara-negara yang mencari kemerdekaan dari dominasi Barat.

Dalam penjelasannya, ekonomi perlawanan tetap kokoh, strategi jangka panjang membuahkan hasil, dan tatanan geopolitik baru sedang muncul.

Entah dipandang sebagai kemenangan, tragedi, atau transformasi, jelas bahwa kawasan ini memasuki babak baru—babak yang akan membentuk kembali politik global selama bertahun-tahun mendatang. ***