Cerpen Syaefudin Simon -- Takdir Selingkuh

Kartu lebaran itu datang di sepuluh malam terakhir Ramadan.

“Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin…”

ttd

Minarsih

Namanya membuat hatiku bergetar seperti tasbih yang jatuh dari genggaman.

Aku menutup mata. Tetiba wajahnya muncul begitu saja di lorong kampus UGM, di bawah pohon cemara, dengan senyum yang selalu menyimpan rahasia.

Dulu kami dekat. Terlalu dekat untuk sekadar teman.
Tapi terlalu takut untuk menyebutnya cinta.

Aku sering berpikir: mungkin Tuhan sengaja tidak menyatukan kami… karena kami belum siap.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan kami di Jakarta.

Mall Kelapa Gading menjadi saksi sesuatu yang tak pernah kami rencanakan.

Dia sudah bersuami.
Aku sudah punya kehidupan sendiri.

Tapi hati… ternyata tak tunduk pada status.
Kami berbincang. Tertawa. Menggali masa lalu.
Dan di antara semua itu, ada satu kesadaran yang pelan-pelan tumbuh: Rasa ini belum selesai.

Apa yang terjadi setelahnya, sulit aku sebut dengan kata yang suci. Kami lupa status. Menikmati gairah Cleopatra di pelukan Mark Antony. 

Bukan karena cinta yang besar, tapi karena iman yang lemah.

Namun anehnya, saat itu kami mencoba membungkusnya dengan bahasa yang terdengar religius.

“Ini mungkin penggenapan karma, ” kata Minarsih lirih.
“Seperti takdir yang tertunda. Atau seperti perselingkuhan pedofili Saibaba."

Aku mengangguk, meski di dalam hati ada sesuatu yang menolak. Kami seperti mencari dalih.

Seperti orang yang tersesat tapi bersikeras bahwa jalan gelap itu adalah bagian dari cahaya.

Minarsih pernah berkata, dengan mata yang sulit kutafsirkan:   

“Kadang manusia menyebut dosa sebagai takdir… supaya tidak perlu merasa bersalah.”
Aku diam.

Karena kalimat itu sebenarnya menampar kami berdua. Kami hanya melakukannya sekali.
Satu pertemuan yang terasa panjang dan sekaligus hampa.

Setelah itu, ada keheningan yang berbeda.
Bukan lagi hangat—tapi seperti ruang kosong yang ditinggalkan sesuatu.

Kami berpisah tanpa janji. Beberapa bulan kemudian, aku mendengar kabar: Suaminya meninggal di Makassar. 

Hatiku bergetar lagi.
Kali ini bukan karena cinta… tapi karena godaan yang kembali menemukan celah.

Apakah ini jalan yang dibukakan? pikirku.
Sekarang tidak ada lagi yang dilanggar…
Aku hampir menghubunginya.
Hampir.

Sampai kartu lebaran itu datang.
Tulisan tangannya masih sama. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda, lebih tenang, lebih pasrah. 
“Mohon maaf lahir batin.
Kita berhenti sampai di sana"

Lanjutnya:  "Apa yang kita sebut ‘takdir’ waktu itu… ternyata hanya nafsu yang kita bungkus dengan kata-kata indah. Aku sudah belajar melepaskan.”

Aku membaca pelan bagian berikutnya.

“Aku tidak mau lagi mencari pembenaran.
Aku ingin kembali kepada Yang Suci.
Jika ada ‘cinta’, biarlah itu cinta yang tidak perlu disembunyikan di hadapan Tuhan.”

Aku terdiam lama.
Ada satu kalimat terakhir yang membuatku terpaku:
“Jangan ulangi lagi. Tidak semua yang terasa ‘ditakdirkan’ benar-benar berasal dari Tuhan.”
Aku menutup kartu itu.

Di luar, takbir mulai terdengar.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Aku menunduk.
Untuk pertama kalinya, aku berani jujur pada diri sendiri: 

Bukan takdir yang salah.
Kami yang mencoba menulis ulang takdir… sesuai keinginan kami. Tapi apakah keinginan kami salah? 

Apakah takdir yang selingkuh salah? Benar2 misteri. Aku segera sadar, jika daun kering yang jatuh terjadi atas kehendakNYA,  mengapa takdir selingkuh juga bukan atas kehendakNYA? 

Dalam kegaluan takdir itu, tetiba Rumi berbicara di batinku. Cahaya tak selalu datang dari matahari. Tapi juga dari kegelapan. 

Minarsih telah menemukan cahaya itu. Kau tinggal mengikutinya. Dari kegelapan akan muncul cahaya.
Di antara gelap dan cahaya  ada ruang kosong. Kau harus menunggu di sana -- bisik Rumi.