OECD Memperkirakan Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 4,8% pada 2026 dan 5% pada 2027

ORBITINDONESIA.COM - Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 dan 2027. Dalam laporan terbarunya, OECD memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,8% pada 2026 dan 5% pada 2027.

Sebelumnya, pada Desember 2025, OECD memperkirakan ekonomi RI bisa tumbuh 5% pada 2026 dan 5,1% pada 2027. Proyeksi OECD ini lebih rendah dari asumsi makro APBN 2026, sebesar 5,4%. Bahkan jauh di bawah target Menkeu Purbaya sebesar 6% tahun ini.

Tak hanya Indonesia, hampir semua negara mengalami revisi penurunan proyeksi pertumbuhan akibat perang di Timur Tengah. India bahkan diperkirakan hanya tumbuh 6,1% dan China diprediksi melambat hingga 4,4%.

Sementara itu, secara global, OECD memperkirakan ekonomi melambat hingga 4,8% pada 2026. OECD juga mengingatkan gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz atau penutupan fasilitas minyak dan gas yang berkelanjutan, dapat menyebabkan hasil yang jauh lebih buruk.

Sementara itu, mulai hari  Senin, 30 Maret 2026, Bank Indonesia (BI) resmi mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter, yakni penggunaan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai agunan atau underlying dalam transaksi valas.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market.

Kehadiran instrumen ini, menurut Erwin, dapat memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas.

Selain itu, penambahan fitur repo kepada BI semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA). Melalui penguatan instrumen ini, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan semakin meningkat.***