Labib Muhsin: No Kings - Menyelamatkan Wajah Rakyat AS dari Noda Trumpisme

Oleh Labib Muhsin

ORBITINDONESIA.COM - Hari Sabtu 28 Maret 2026, jutaan warga Amerika Serikat turun ke lebih dari 3.000 titik lokasi menjawab seruan Robert De Niro: bergabung dalam aksi damai “No Kings.”

Aktor kawakan itu menyerukan perlawanan terhadap apa yang disebutnya “tiran sakit mental” yang hendak melancarkan “perang asing gila” sekaligus menghancurkan kebebasan dari dalam.

Gerakan ini bukan protes dadakan. Pada Oktober 2025, sekitar 7 juta orang telah membanjiri 2.700 kota. Hari ini targetnya lebih jauh: menjadikan aksi ini protes terbesar dalam sejarah Amerika—pesan tak terbantahkan bahwa rakyat AS menolak menjadi kaki tangan imperialisme.

Plakat “No More War”, “Hands Off Iran”, “Free Palestine” membuktikan ada Amerika lain—Amerika yang membela keadilan, bukan mesin perang.

Salah satu dimensi terpenting gerakan ini adalah penolakan terbuka terhadap zionisme yang telah membajak kebijakan luar negeri AS. De Niro menyebut bahwa tirani yang mereka lawan bekerja sama dengan Netanyahu untuk melancarkan perang demi kepentingan asing—bukan kepentingan rakyat Amerika.

Dengan turun ke jalan, para demonstran memisahkan diri dari kebijakan itu: jangan samakan kami dengan Trump, jangan samakan kami dengan Netanyahu.

Ada ironi pahit di balik wacana “America First”: miliaran dolar pajak dikuras untuk perang di negeri orang, sementara biaya hidup rakyat sendiri terus meningkat.

Gerakan ini menegaskan bahwa perlawanan terhadap tirani dalam negeri tak bisa dipisahkan dari perlawanan terhadap imperialisme di luar negeri—keduanya dua sisi dari mata uang yang sama.

Aksi “No Kings” akan tercatat bukan sekadar sebagai protes terbesar dalam sejarah Amerika, tetapi sebagai momen ketika rakyat AS secara kolektif memilih berdiri di sisi sejarah yang benar.

De Niro mengingatkan: 250 tahun lalu rakyat Amerika menolak hidup di bawah raja. Hari ini, mereka bangkit lagi. Dan dunia yang selama ini menjadi korban kebijakan imperialis AS pantas memberi hormat—karena para demonstran ini adalah sekutu dalam perjuangan melawan penindasan, tanpa batas negara. ***