Penerangan Kota dan Dampaknya pada Musim Serbuk Sari

ORBITINDONESIA.COM – Setiap musim semi, jutaan orang menghadapi tantangan serbuk sari yang berkepanjangan, dan ternyata lampu kota adalah penyebab yang mengejutkan.

Musim serbuk sari yang lebih lama setiap tahun telah dikonfirmasi oleh para ilmuwan, dan sumbernya adalah pencahayaan buatan kota di malam hari. Pencahayaan ini menunda akhir musim serbuk sari, memperpanjang waktu paparan alergen bagi penduduk kota.

Dr. Lin Meng dari Vanderbilt University menemukan bahwa pencahayaan buatan di malam hari (ALAN) mempengaruhi panjang musim serbuk sari. Di kota-kota Timur Laut, ALAN terbukti berkorelasi dengan musim serbuk sari yang lebih panjang. Penelitian ini menggunakan data dari 2012 hingga 2023 yang menunjukkan keterkaitan kuat antara kecerahan malam dan durasi musim serbuk sari.

Pencahayaan buatan tidak hanya memperpanjang musim serbuk sari tetapi juga meningkatkan hari-hari dengan tingkat paparan parah. Hal ini menambah beban pada klinik dan tempat kerja karena meningkatnya kebutuhan obat dan waktu istirahat bagi penderita alergi. Area dengan pencahayaan malam yang tinggi mengalami 27% hari dengan paparan parah dibandingkan 17% di area yang lebih gelap.

Dengan lebih dari 80% populasi global hidup di bawah langit yang tercemar cahaya, penting bagi perencana kota untuk mempertimbangkan dampak pencahayaan malam. Langkah-langkah kecil seperti mengurangi pencahayaan yang tidak perlu dapat membantu mengurangi paparan alergen. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menguji penyebab secara langsung, tetapi langkah awal dapat dimulai dengan mengurangi cahaya malam yang tidak perlu.