Resensi Buku Our Dollar, Your Problem Karya Kenneth Rogoff: Hegemoni Dollar & Masa Depan Kekuasaan Finansial Global

ORBITINDONESIA.COM – Buku Our Dollar, Your Problem: An Insider's View of Seven Turbulent Decades of Global Finance (2025) karya Kenneth Rogoff merupakan salah satu intervensi intelektual paling penting dalam perdebatan tentang masa depan sistem moneter global. Ditulis oleh mantan kepala ekonom IMF dan profesor Harvard, buku ini tidak sekadar membahas dolar sebagai mata uang, tetapi sebagai instrumen kekuasaan geopolitik Amerika Serikat.

Rogoff mengangkat satu tesis utama yang provokatif: dominasi dolar AS bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan struktur kekuasaan global yang menciptakan ketergantungan dunia terhadap stabilitas—dan sekaligus kebijakan sepihak—Washington. Dalam dunia yang semakin multipolar, pertanyaannya bukan lagi apakah dolar akan tetap dominan, tetapi berapa lama dunia bersedia hidup dalam bayang-bayangnya.

Isi dan Gagasan Utama: Dolar sebagai Senjata Tak Terlihat

Buku ini menelusuri bagaimana dolar AS menjadi mata uang cadangan dunia sejak berakhirnya Perjanjian Bretton Woods, ketika sistem keuangan global direstrukturisasi di bawah kepemimpinan Amerika Serikat. Sejak saat itu, dolar tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga jangkar stabilitas ekonomi internasional.

Rogoff menjelaskan bahwa dominasi ini memberi Amerika “keistimewaan eksorbitan” (exorbitant privilege): kemampuan untuk membiayai defisit besar, mencetak uang tanpa konsekuensi langsung, dan mengendalikan sistem keuangan global melalui lembaga-lembaga seperti IMF dan jaringan perbankan internasional.

Namun, kekuatan ini juga memiliki sisi gelap. Dalam beberapa dekade terakhir, dolar telah berubah menjadi alat tekanan politik—terutama melalui sanksi ekonomi. Negara-negara seperti Iran, Rusia, hingga Venezuela merasakan bagaimana akses terhadap sistem dolar dapat diputus sebagai bentuk hukuman geopolitik.

Di sinilah Rogoff mengajukan kritik halus namun tajam: ketika mata uang global digunakan sebagai alat politik, maka kepercayaan terhadap sistem itu sendiri mulai retak.

Analisis: Dunia di Antara Ketergantungan dan Pemberontakan Finansial

Secara ideologis, buku ini berada di persimpangan antara realisme ekonomi dan skeptisisme terhadap hegemoni. Rogoff tidak secara eksplisit menyerukan runtuhnya dominasi dolar, tetapi ia menunjukkan tanda-tanda bahwa dunia mulai mencari alternatif.

Kebangkitan Tiongkok, eksperimen mata uang digital bank sentral (CBDC), hingga upaya dedolarisasi oleh negara-negara BRICS menjadi indikasi bahwa sistem moneter global sedang mengalami tekanan struktural. Namun, Rogoff juga realistis: tidak ada mata uang lain yang saat ini memiliki kombinasi kepercayaan, likuiditas, dan stabilitas seperti dollar.

Paradoks inilah yang menjadi inti buku ini: dunia tidak menyukai dominasi dollar, tetapi juga belum siap untuk meninggalkannya.

Dalam konteks ini, Rogoff seperti mengingatkan bahwa kekuasaan finansial tidak runtuh secara tiba-tiba, melainkan terkikis perlahan—oleh kesalahan kebijakan, penyalahgunaan kekuatan, dan perubahan keseimbangan geopolitik global.

Relevansi: Ketika Ekonomi Menjadi Perpanjangan Politik

Membaca Our Dollar, Your Problem hari ini berarti memahami bahwa ekonomi global tidak pernah netral. Sistem moneter internasional adalah arena kekuasaan, di mana mata uang dapat berfungsi sebagai alat dominasi sekaligus senjata.

Bagi negara-negara berkembang, buku ini menjadi peringatan: ketergantungan pada dolar bukan hanya risiko ekonomi, tetapi juga kerentanan politik. Krisis nilai tukar, tekanan utang, hingga intervensi eksternal sering kali berakar pada struktur sistem yang tidak seimbang.

Sementara itu, bagi Amerika Serikat, buku ini adalah refleksi kritis: apakah dominasi dollar akan dipertahankan dengan kebijaksanaan, atau justru dipercepat kehancurannya oleh penggunaan kekuasaan yang berlebihan?

Penutup: Masa Depan Tanpa Pusat?

Pada akhirnya, Our Dollar, Your Problem (2025) bukanlah ramalan tentang kejatuhan dollar, melainkan meditasi tentang masa depan dunia tanpa pusat tunggal kekuasaan finansial.

Rogoff menunjukkan bahwa sistem yang terlalu bergantung pada satu mata uang mengandung risiko inheren—bukan hanya bagi dunia, tetapi juga bagi pemilik kekuasaan itu sendiri. Dalam sejarah, setiap hegemoni pada akhirnya diuji oleh waktunya sendiri.

Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah dolar akan bertahan, tetapi apakah dunia mampu membangun sistem yang lebih adil tanpa jatuh ke dalam kekacauan.

Di antara stabilitas yang ditawarkan dolar dan keinginan untuk kemandirian finansial, dunia berdiri dalam dilema klasik: memilih antara ketertiban yang timpang atau kebebasan yang belum tentu stabil.***