Resensi Buku Breakneck: China’s Quest to Engineer the Future (2025) Karya Dan Wang
ORBITINDONESIA.COM – Buku Breakneck: China’s Quest to Engineer the Future (2025) karya Dan Wang merupakan potret tajam tentang bagaimana China tidak hanya mengejar ketertinggalan, tetapi berusaha mendefinisikan ulang masa depan melalui kekuatan teknologi dan rekayasa negara.
Berbeda dengan banyak analisis Barat yang melihat China melalui lensa ancaman ideologis, Wang justru menempatkan China sebagai proyek peradaban yang bergerak dengan kecepatan luar biasa—“breakneck”—di mana negara, pasar, dan teknologi melebur menjadi satu mesin besar yang diarahkan untuk memenangkan abad ke-21.
Buku ini tidak sekadar membahas pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang bagaimana sebuah negara membangun masa depan secara sadar, terencana, dan sering kali tanpa kompromi terhadap nilai-nilai liberal Barat.
Isi dan Gagasan Utama: Negara sebagai Arsitek Inovasi
Wang mengajak pembaca masuk ke dalam jantung transformasi China: dari pabrik dunia menjadi laboratorium teknologi global. Ia menggambarkan bagaimana negara memainkan peran sentral dalam mengarahkan inovasi—dari kecerdasan buatan, kendaraan listrik, hingga infrastruktur digital.
Berbeda dengan model kapitalisme laissez-faire di Barat, China mengembangkan bentuk “kapitalisme terkoordinasi” di mana pemerintah tidak hanya mengatur, tetapi juga mengarahkan dan mengakselerasi sektor-sektor strategis. Dalam model ini, perusahaan teknologi bukan sekadar entitas bisnis, melainkan bagian dari proyek nasional.
Buku ini juga menyoroti bagaimana kecepatan menjadi nilai utama. Di China, eksperimen dilakukan dalam skala besar, kegagalan ditoleransi selama menghasilkan pembelajaran cepat, dan regulasi dapat disesuaikan untuk mendukung inovasi. Hasilnya adalah ekosistem yang dinamis, tetapi juga penuh tekanan dan kontrol.
Namun, Wang tidak menutup mata terhadap sisi gelapnya: pengawasan digital, pembatasan kebebasan individu, dan ketergantungan pada kekuasaan negara yang sangat kuat.
Analisis: Teknokrasi vs Liberalisme
Secara ideologis, Breakneck adalah refleksi tentang benturan dua model dunia: teknokrasi otoriter versus kapitalisme liberal. China, dalam narasi Wang, bukan sekadar pesaing ekonomi, tetapi alternatif sistemik terhadap dominasi Barat.
Jika Barat mengandalkan inovasi berbasis individu dan pasar bebas, China menunjukkan bahwa inovasi juga dapat lahir dari koordinasi negara yang ketat. Ini menantang asumsi lama bahwa kebebasan politik adalah prasyarat utama kemajuan teknologi.
Namun, di sinilah letak dilema besar. Model China mungkin efisien, tetapi juga berisiko menciptakan masyarakat yang dikendalikan oleh logika produktivitas semata. Ketika teknologi menjadi alat negara, pertanyaannya bukan lagi apa yang bisa dilakukan teknologi, tetapi siapa yang mengendalikannya.
Wang tampaknya tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi ia memperlihatkan bahwa dunia tidak lagi memiliki satu jalur tunggal menuju modernitas.
Relevansi Global: Perlombaan Tanpa Garis Akhir
Buku ini sangat relevan dalam konteks meningkatnya rivalitas antara China dan Barat, terutama dalam bidang teknologi strategis. Dari semikonduktor hingga kecerdasan buatan, perlombaan ini bukan hanya tentang ekonomi, tetapi tentang siapa yang akan menentukan standar global di masa depan.
Bagi negara-negara berkembang, Breakneck membuka pertanyaan penting: apakah model China dapat ditiru, atau justru hanya dapat berjalan dalam konteks politik dan budaya tertentu?
Sementara itu, bagi Barat, buku ini adalah cermin yang tidak nyaman—bahwa keunggulan teknologi tidak lagi menjadi monopoli, dan bahwa kecepatan serta koordinasi bisa mengalahkan kreativitas yang tidak terarah.
Penutup: Masa Depan yang Direkayasa atau Diperdebatkan?
Pada akhirnya, Breakneck adalah kisah tentang ambisi—ambisi sebuah negara untuk tidak sekadar mengikuti sejarah, tetapi menulis ulang arahnya. China dalam buku ini tampil sebagai insinyur masa depan, yang percaya bahwa dunia dapat dirancang, dioptimalkan, dan dipercepat.
Namun, pertanyaan yang tersisa bersifat filosofis: apakah masa depan seharusnya direkayasa oleh negara, atau diperdebatkan oleh masyarakat?
Di antara efisiensi dan kebebasan, antara kecepatan dan refleksi, dunia kini berdiri di persimpangan. Dan seperti yang ditunjukkan Wang, siapa pun yang memenangkan perlombaan ini tidak hanya akan menguasai teknologi—tetapi juga menentukan arti kemajuan itu sendiri.