Wow, Menhan Pakistan Ucapkan Apa yang Jutaan Orang Pikirkan Tentang Israel
ORBITINDONESIA.COM - Di saat para diplomat berkumpul di Islamabad untuk merundingkan perdamaian, bom-bom Israel terus berjatuhan di Lebanon. Itulah kontradiksi pahit yang mendorong Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, mengeluarkan pernyataan paling keras yang pernah diucapkan seorang pejabat pemerintahan terhadap Israel.
Melalui unggahan di platform X pada Kamis, 9 April 2026, Asif menulis tanpa basa-basi: "Israel adalah kejahatan dan kutukan bagi kemanusiaan. Sementara pembicaraan damai sedang berlangsung di Islamabad, genosida tengah dilakukan di Lebanon. Warga sipil yang tidak bersalah terus dibunuh oleh Israel — pertama Gaza, lalu Iran, dan kini Lebanon. Pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti."
Tidak berhenti di situ. Asif juga menyebut Israel sebagai "negara kanker" yang dipaksakan berdiri di atas tanah Palestina, dan mengungkapkan harapannya agar mereka yang menciptakannya terbakar di neraka.
Pernyataan ini langsung menjadi sorotan global karena disampaikan oleh seorang menteri kabinet dari negara yang tengah memposisikan diri sebagai mediator netral. Unggahan tersebut belakangan dihapus dari akun X Asif.
Israel pun bereaksi keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut pernyataan itu "keterlaluan", sementara Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar mengecamnya sebagai "fitnah antisemit yang terang-terangan" dari negara yang mengklaim diri sebagai mediator perdamaian.
Latar belakang pernyataan Asif tidak bisa dilepaskan dari situasi di lapangan. Pada Rabu, 8 April, Lebanon mengalami hari paling mematikan dalam perang yang sedang berlangsung.
Lebih dari 300 orang tewas dan 1.150 lainnya terluka akibat serangan besar-besaran Israel yang menargetkan berbagai wilayah, termasuk kawasan permukiman dan komersial yang padat di pusat Beirut, tanpa peringatan terlebih dahulu.
Israel menamai operasi ini "Operation Eternal Darkness", mengklaim hanya menargetkan infrastruktur Hizbullah. Namun pengamat lain menyebut serangan itu tidak terseleksi dan menghantam kawasan sipil Lebanon, termasuk ibu kota Beirut. Rumah sakit-rumah sakit di Beirut dilaporkan kewalahan menampung korban.
Secara akumulatif, sejak Israel melanjutkan operasinya di Lebanon pada 2 Maret 2026, lebih dari 1.530 orang telah tewas, termasuk lebih dari 100 perempuan dan 130 anak-anak, serta lebih dari 1,2 juta orang terpaksa mengungsi.
Yang membuat situasi ini semakin pelik adalah perang narasi tentang gencatan senjata. Pakistan memediasi kesepakatan gencatan senjata 15 hari antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Rabu lalu.
Pakistan dan Iran menyatakan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata itu. Namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kompak menyatakan sebaliknya — Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan.
Netanyahu bahkan mengumumkan langkah berbeda: Israel akan membuka perundingan langsung dengan Lebanon, berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah dan normalisasi hubungan kedua negara.
Pernyataan Asif dinilai melampaui batas kritik diplomatik biasa dan menjadi salah satu serangan verbal paling tajam dari seorang pejabat aktif Pakistan terhadap Israel. Ironisnya, ini terjadi di saat Pakistan tengah berupaya menunjukkan dirinya sebagai kekuatan diplomatik yang dipercaya di panggung internasional. ***