Peta Toleransi Beragama di Pulau Jawa: Antara Penerimaan dan Penolakan
ORBITINDONESIA.COM - Peta persepsi masyarakat terhadap kegiatan ibadah agama lain di Pulau Jawa menunjukkan adanya variasi sikap yang cukup mencolok antarwilayah.
Di Jawa Barat, dominasi warna merah hingga oranye mengindikasikan tingkat penolakan yang relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Sementara itu, beberapa bagian Jawa Timur juga memperlihatkan kecenderungan serupa, meskipun tidak merata di seluruh daerahnya.
Sebaliknya, Jawa Tengah tampak lebih banyak didominasi warna hijau, yang menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap kegiatan ibadah agama lain.
Sebagian wilayah Jawa Timur juga masuk dalam kategori ini, mencerminkan adanya kantong-kantong toleransi yang cukup kuat.
Adapun wilayah berwarna putih menggambarkan sikap masyarakat yang cenderung netral—tidak sepenuhnya menolak, tetapi juga belum sepenuhnya menerima.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial yang lebih luas. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Pulau Jawa memiliki komposisi penduduk yang sangat beragam dari sisi agama. Artinya, interaksi antarumat beragama merupakan realitas sehari-hari yang tidak terhindarkan.
Namun demikian, laporan dari Setara Institute dan INFID mengungkap bahwa praktik penolakan terhadap kegiatan ibadah agama lain masih terjadi di sejumlah wilayah, bahkan cenderung berulang. Hal ini menunjukkan bahwa keberagaman tidak selalu diikuti dengan tingkat penerimaan yang sama.
Perbedaan sikap antarwilayah ini kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tingkat pendidikan, kondisi sosial-ekonomi, peran tokoh masyarakat, hingga dinamika kebijakan lokal.
Dengan kata lain, toleransi bukan hanya soal keberagaman itu sendiri, tetapi juga bagaimana ruang sosial dibentuk dan dikelola oleh masyarakat serta pemangku kepentingan.
Jika keberagaman adalah realitas yang sama di seluruh Pulau Jawa, maka perbedaan tingkat penerimaan ini menjadi indikator penting adanya faktor struktural dan kultural yang memengaruhi cara masyarakat merespons perbedaan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat nilai toleransi dan harmoni sosial di masa depan.
(Sumber: Badan Pusat Statistik; Setara Institute; INFID)***