Rupiah Tertekan Cukup Dalam Kemarin, Penutupan Terburuk Sepanjang Masa
ORBITINDONESIA.COM - Rupiah mengalami tekanan cukup dalam hari Kamis, 23 April 2026. Di pasar spot rupiah ditutup di level Rp 17.286/USD, melemah 0,61% dibanding penutupan Rabu di Rp 17.181 per dolar AS.
Ini jadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Rupiah pun jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Sejak dibuka, rupiah sudah melemah 0,23% di Rp 17.210/USD. Secara intraday, bahkan sempat jatuh ke Rp 17.305/USD pada pukul 09.32.
Pelemahan rupiah juga menyengat pasar surat utang. Kenaikan imbal hasil merata di hampir semua tenor. Berdasar data realtime Bloomberg pada 11.15 WIB, tenor 1 tahun naik 9,5 bps ke 5,75%, tenor 2 tahun naik 2,1 bps menjadi 6%, tenor 3 tahun melonjak 10,2 bps menjadi 6,2%, dan 4 tahun naik 12,2 bps ke 6,42%. Sementara tenor 5 tahun naik 12,2 bps ke 6,48%, tenor 6 tahun naik 7,2 bps ke 6,49%.
Analis pasar mata uang Ibrahim Assuabi dan Kepala Ekonom BCA David Sumual, melihat jatuhnya kurs rupiah masih dipicu sentimen negatif pelaku pasar terhadap dinamika konflik Timur Tengah dan harga minyak yang masih bergejolak.
Selain itu David mengatakan, masih ditambah lagi dengan tingginya permintaan dolar akibat masuknya periode musiman pembayaran dividen.
Kepala Ekonom dan Riset Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai, pergerakan ini juga mencerminkan langkah BI yang mulai lebih berhati-hati melakukan intervensi demi menjaga cadangan devisa tak tergerus semakin dalam. BI sebelumnya melaporkan per Maret cadangan devisa tersisa USD 148,2 miliar, merosot USD 3,7 miliar dibanding bulan sebelumnya USD 151,9 miliar.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, tekanan terhadap rupiah tak lepas dari tingginya ketidakpastian global. Rupiah tidak melemah sendirian, tekanan juga dirasakan mata uang regional.
Ia memastikan, BI akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat struktur suku bunga instrumen promarket untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.
Menurut BDS Alliance, pelemahan rupiah ke titik terendah sepanjang sejarah bukan sekadar gejala pasar, tetapi refleksi dari kombinasi rapuhnya ketahanan eksternal dan terbatasnya ruang kebijakan domestik: cadangan devisa terkikis, intervensi semakin hati-hati, sementara tekanan global tak mereda.
Pada saat yang sama, struktur ekonomi memperlihatkan kontradiksi tajam: investasi dan kredit masih tumbuh, tetapi manfaatnya tidak terdistribusi secara adil, sebagaimana ditunjukkan oleh ketimpangan ekstrem di mana kekayaan 50 orang setara dengan 55 juta penduduk.
Ini bukan lagi sekadar isu sosial, melainkan kegagalan sistemik dalam desain kebijakan fiskal, perpajakan, dan pengelolaan sumber daya yang terlalu permisif terhadap konsentrasi kekayaan.
Ketika praktik-praktik penyimpangan di sektor hukum dan tata kelola terus muncul, kepercayaan terhadap institusi semakin tergerus dan biaya ekonominya nyata: premi risiko naik, investasi menjadi lebih berhati-hati, dan pertumbuhan kehilangan kualitasnya.
Bahkan stabilitas yang tampak seperti arus modal yang masuk kembali atau kredit yang meningkat, lebih menyerupai kejadian sementara dan bukan pemulihan mendasar.
Namun, di tengah lanskap yang suram ini, masih ada celah koreksi: kapasitas perbankan yang tetap kuat, ruang optimalisasi kredit yang belum terserap, serta potensi reformasi pajak (termasuk wacana pajak kekayaan) dapat menjadi pintu masuk untuk memperbaiki arah.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah tekanan ini akan dipakai untuk membenahi struktur ekonomi yang timpang, atau kembali diredam sementara tanpa perubahan berarti.***