Satrio Arismunandar: Juwono Sudarsono Pernah Mengawasi Insinyur Elektro Mengajar di Hubungan Internasional FISIP UI
Oleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Saya mohon maaf jika judul tulisan ini sedikit didramatisasi. Tentu saja, embel-embel “insinyur elektro” itu cuma pelengkap. Diperlukan kapasitas lain, untuk bisa dan dibolehkan mengajar di FISIP UI. Tetapi intinya, saya hanya ingin mengenang dan menceritakan pengalaman saya yang berkesan, dalam berinteraksi dengan Prof. Juwono Sudarsono.
Menteri Pertahanan pada masa Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu meninggal pada Sabtu, 28 Maret 2026, pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Almarhum juga pernah jadi Menteri Negara Lingkungan Hidup (era Presiden Soeharto) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (di bawah Presiden BJ Habibie).
Di dunia akademik, Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia (1988-2020) tersebut pernah menjabat Ketua Jurusan Hubungan Internasional, dan lalu menjadi Dekan FISIP UI (1988–1994).
Pada masa kepemimpinannya, FISIP UI semakin dikenal sebagai pusat kajian politik dan hubungan internasional di Indonesia. Ia membawa pengalaman akademik dari luar negeri untuk memperkuat kurikulum dan jaringan internasional fakultas. Banyak akademisi dan diplomat Indonesia yang dibentuk melalui kepemimpinannya di FISIP UI.
Sebagai wartawan Harian Kompas (1988-1995), saya menganggap Juwono adalah narasumber yang paling enak diwawancarai. Ia mampu menjelaskan masalah yang kompleks dengan cara yang sederhana, sehingga mudah dipahami lawan bicara. Dia bukan tipe narsum yang suka menggunakan jargon-jargon rumit atau istilah asing biar kelihatan pintar.
Juwono, yang yang meraih Master dari University of California, Berkeley (1970) dan Ph.D. dari London School of Economics (1978) jelas adalah orang yang cerdas, tetapi rendah hati. Pembawaannya yang kalem dan anggun, saya sebut saja begitu, justru menyiratkan tingkat pemahaman keilmuan yang tinggi. Begitu lembutnya Juwono sehingga --menurut penuturan sejarawan Ong Hok Ham-- dia tipe orang yang tidak bisa bilang “tidak.”
Dengan penuh kesabaran, secara runtun dan sistematis, Juwono bersedia pelan-pelan menjelaskan suatu masalah kepada para reporter junior. Sebagian besar reporter itu mungkin belum memahami latar belakang isu yang ditanyakan. Juwono tampaknya berpendapat, lebih baik ia meluangkan waktu untuk menjelaskan pelan-pelan, daripada si reporter nanti malah keliru menulis berita.
Begitu runtun dan teraturnya penjelasan yang dituturkan Juwono, sehingga saya berani menjamin bahwa jika ucapannya itu dikutip apa adanya --tanpa mengubah struktur dan alur penuturannya-- itu sudah layak dimuat sebagai berita di media. Sudah enak dibaca. Tak perlu diedit lagi!
Nah, interaksi langsung saya dengan Juwono terjadi pada 15 Desember 1993, ketika ia menjabat Dekan FISIP UI. Waktu itu, posisi Ketua Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI dijabat oleh Dr. Hero U. Kuntjoro-Jakti.
Saya yang lulusan Elektro FTUI saat itu bekerja sebagai wartawan desk luar negeri Kompas. Waktu itu yang menjadi Redaktur Desk Luar Negeri adalah Budiarto Shambazy, yang kebetulan juga dosen di FISIP UI. Atasan saya ini setahu saya juga Master lulusan East-West Center, Hawaii.
Di desk luar negeri, saya sering meliput konflik di Timur Tengah, termasuk meliput perang Teluk di Baghdad, Irak (1991). Terakhir, tentang proses perdamaian Palestina-Israel, di era pemimpin PLO Yasser Arafat dan PM Israel Yitzhak Rabin.
Mungkin karena liputan-liputan yang gencar itu, saya diundang menjadi Dosen Tamu untuk memberi kuliah di Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI dengan topik “Persetujuan PLO-Israel dan Prospek Implementasinya.”
Saya merasa sangat diapresiasi dan berbesar hati. Maka pada hari mengajar, saya datang ke kampus FISIP UI. Di ruang kelas, cukup banyak mahasiswa yang hadir. Saya agak gugup karena basis keilmuan saya bukan Hubungan Internasional. Jadi saya tak tahu, bagaimana pendekatan yang pas untuk menyampaikan materi terkait politik luar negeri.
Saya pun berimprovisasi. Sesudah memperkenalkan diri, saya memulai dengan narasi tentang konflik dasar Palestina-Israel, disusul dengan perkembangan terakhir proses perdamaian yang disponsori AS dan Rusia. Karena saya jurnalis, pendekatan saya agak jurnalistik. Seperti melaporkan berita, ditambah dengan komentar-komentar kritis, serta sedikit kisah tentang pengalaman liputan di lapangan.
Nah, ketika paparan saya sudah muIai lancar, tiba-tiba ada “tamu” masuk ke ruang kelas. “Tamu” itu ternyata adalah Dekan FISIP UI, Juwono Sudarsono. Tanpa menyela kuliah saya yang sedang berlangsung, beliau langsung duduk di salah satu kursi dan dengan tenang, tanpa ekspresi, lalu mengamati kuliah yang saya berikan.
Waduh! Saya membatin. Mengapa Juwono menyempatkan diri datang ke kelas ini? Mungkinkah Juwono ingin menilai, seperti apa sih wartawan Kompas yang kebetulan insinyur elektro ini, kok berani-beraninya menyampaikan materi hubungan internasional di kelas FISIP UI?
Atau, apakah Juwono cuma sekadar ingin tahu isi materi kuliah saya, yang berdasarkan liputan jurnalistik di lapangan? Saya tahu, berdasarkan penuturannya sendiri, Juwono punya kebiasaan pada waktu subuh selalu mendengarkan siaran radio BBC London. Begitulah salah satu caranya untuk memantau perkembangan politik internasional.
Namun, berita dari media Barat seperti BBC, CNN, Time, Newsweek, tentu diproduksi dari sudut pandang atau perspektif Barat. Perlunya media nasional di Indonesia mengirim jurnalisnya sendiri untuk meliput di luar negeri adalah untuk memperoleh sudut pandang Indonesia. Ini sesuatu yang tidak bisa diketemukan di pemberitaan BBC, CNN, dan sebagainya.
Sebagai dosen yang punya latar belakang Sarjana Publisistik dari Universitas Indonesia (1965), Juwono pasti paham sekali hal ini. Jadi, saya akhirnya menduga, Juwono mungkin cuma ingin membandingkan, bagaimana konflik Timur Tengah dilihat dari perspektif media Barat dan perspektif media nasional Indonesia, yang mengirim jurnalisnya ke kawasan konflik.
Bagaimana pun, saya cuma bisa menebak-nebak apa yang ada di benak Juwono. Di ruang kelas, Juwono cuma duduk dengan tenang, mengamati jalannya kuliah, dan tidak menginterupsi apa pun. Maka saya juga melanjutkan memberi kuliah. Jika ada mahasiswa yang bertanya tentang materi kuliah, saya menjawab. Seperti diskusi biasa saja.
Akhirnya, kuliah pun selesai. Saat saya akan meninggalkan ruang kelas, Juwono menghampiri. Sambil tersenyum tipis dan sopan, dia menyalami saya. “Terima kasih!” Itu saja yang diucapkan Juwono, sebagai penghargaan kepada saya sebagai dosen tamu.
Kembali ke kantor saya di Kompas, saya bertemu dengan atasan saya, Budiarto Shambazy. Saya bercerita tentang pengalaman mengajar di Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI, dengan kehadiran Juwono di kelas, yang terus mengamati selama saya mengajar.
Budiarto terbahak-bahak. “Apakah Juwono tidak bilang apa-apa, sesudah kamu selesai mengajar?” tanya Budiarto, yang Master lulusan East-West Center, Hawaii ini.
“Tidak. Beliau cuma bilang terima kasih!” jawab saya.
“Oh, bagus. Berarti kamu aman. Tidak ada masalah,” ujar Budiarto.
Ucapan Budiarto menenangkan hati saya. Saya senang, pengalaman saya sebagai jurnalis --yang meliput konflik Palestina-Israel-- dianggap punya nilai manfaat secara akademis. Dan saya juga bersyukur, Juwono tidak melihat ada masalah dalam cara saya mengajar di Hubungan Internasional FISIP UI.
Depok, 25 April 2026
*Dr. Ir. Satrio Arismunandar, M.Si., MBA adalah penulis buku dan wartawan senior. Saat ini menjabat Pemimpin Redaksi media online OrbitIndonesia.com dan majalah pertahanan/geopolitik/hubungan internasional ARMORY REBORN.
Ia saat ini menjadi Staf Ahli di Biro Pemberitaan Parlemen, Sekretariat Jenderal DPR RI. Juga, Sekjen Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA (sejak Agustus 2021).
Ia pernah menjadi jurnalis di Harian Pelita (1986-1988), Harian Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-2001), Executive Producer di Trans TV (2002-2012), dan beberapa media lain.
Ia lulus S1 dari Jurusan Elektro Fakultas Teknik UI (1989), S2 Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional UI (2000), S2 Executive MBA dari Asian Institute of Management (AIM), Filipina (2009), dan S3 Filsafat dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (2014). Disertasinya tentang perilaku korupsi elite politik di Indonesia dalam perspektif strategi kebudayaan. *WA: 081286299061. ***