Dari Kampus ke Lapangan: Cara Pelindo Ubah Sampah Jadi Peluang Bisnis Mahasiswa
ORBITINDONESIA.COM — Di sebuah auditorium kampus di Medan, diskusi tentang tanggung jawab sosial perusahaan berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup. Bukan sekadar teori di atas kertas, tetapi cerita nyata tentang bagaimana sampah bisa diubah menjadi peluang, dan mahasiswa bisa menjadi bagian dari solusi.
Itulah yang terjadi saat Pelindo Multi Terminal hadir sebagai narasumber dalam kuliah umum di Universitas Satya Bhinneka. Kegiatan ini menghadirkan perspektif baru tentang Corporate Social Responsibility (CSR)—bahwa ia bukan hanya kewajiban perusahaan, melainkan strategi masa depan yang berdampak langsung pada masyarakat.
Di hadapan para mahasiswa, Senior Vice President Sekretariat Perusahaan Pelindo Multi Terminal, Finan Syaifullah, membuka diskusi dengan satu gagasan penting: keberlanjutan harus dibuat sederhana agar bisa dijalankan.
Konsep besar seperti SDGs atau triple bottom line tidak boleh berhenti sebagai jargon. Ia harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang bisa dilakukan di tingkat komunitas.
Dari sinilah cerita berubah arah.
Pelindo Multi Terminal tidak hanya berbicara tentang CSR, tetapi menunjukkan bagaimana program itu dijalankan. Fokusnya ada pada tiga hal: pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Melalui program Pelindo Mengajar, perusahaan masuk ke ruang-ruang pendidikan. Di sisi lain, rehabilitasi mangrove dan pengelolaan sampah menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Sementara pelatihan UMKM membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Namun dari semua program itu, satu inisiatif paling menarik perhatian mahasiswa: Rumah Kelola Sampah (RKS).
Program ini bukan sekadar tempat pengolahan limbah, tetapi sebuah ekosistem pembelajaran. Di sana, masyarakat, akademisi, dan perusahaan bekerja bersama dalam satu ruang yang setara.
Di RKS, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir, tetapi sebagai awal.
Sampah rumah tangga dipilah, diolah menjadi pupuk, dimanfaatkan untuk hidroponik, bahkan dikembangkan dengan dukungan energi surya. Dari proses sederhana itu, lahir peluang usaha baru yang bisa dijalankan masyarakat.
Mahasiswa pun tidak hanya menjadi penonton.
Mereka diajak turun langsung ke lapangan—mengamati, bereksperimen, hingga menciptakan inovasi berbasis lingkungan. RKS menjadi semacam “laboratorium hidup”, tempat teori yang dipelajari di kelas diuji dalam realitas.
Finan menegaskan, ketika perusahaan, kampus, dan masyarakat bisa bekerja bersama, dampaknya akan jauh lebih besar.
Bagi kampus, kolaborasi ini membuka ruang baru bagi mahasiswa untuk belajar secara kontekstual. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Martin, bahkan melihat peluang lebih luas untuk mengembangkan kerja sama, termasuk dalam program kewirausahaan mahasiswa seperti bazar kreatif.
Sementara bagi Pelindo Multi Terminal, keterlibatan generasi muda menjadi kunci.
Perusahaan percaya bahwa transformasi menuju ekonomi berkelanjutan tidak bisa berjalan tanpa peran mahasiswa—mereka yang kelak menjadi penggerak perubahan di masa depan.
Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini menjadi penting.
Karena solusi tidak selalu datang dari teknologi besar atau kebijakan tinggi.
Kadang, ia justru lahir dari ruang sederhana—dari kampus, dari komunitas, dan dari keberanian untuk melihat sampah bukan sebagai masalah, tetapi sebagai peluang.***