Peringatan May Day, 1 Mei 2026, Diangkut Bus untuk Nonton Konser
ORBITINDONESIA.COM - Pada peringatan May Day, 1 Mei 2026, terjadi 2 unjuk rasa kelompok buruh dengan mengambil tempat yang berbeda di Jakarta. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menggelar unjuk rasa di lapangan Monas. Satu kelompok lainnya, Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (Kasbi), menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPR, Senayan.
Kedua kelompok buruh itu memang berseberangan jalan menyangkut sejumlah hal. Kubu Kasbi menyebut kubu yang menggelar aksi di Monas itu sudah dikooptasi pemerintah. Dalam acara unjuk rasa di Monas kemarin yang menjadi "bintang panggung" adalah Presiden Prabowo. Seperti biasa, setiap kali di atas panggung dan di depan massa, Prabowo berpidato berapi-api.
Sementara arena aksi di DPR jauh dari sorotan. Perwakilan buruh diterima oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Dalam pertemuan tersebut Dasco mengungkapkan, pemerintah sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Mitigasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan Kesejahteraan Buruh. Buruh akan dilibatkan dalam satgas tersebut.
Namun, di ruang berbeda dari unjuk rasa di Monas dan DPR itu, polisi dari Polda Metro Jaya meringkus sebanyak 101 orang. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin menyebut, mereka ditangkap karena diduga akan menyusup ke dalam massa pendemo untuk menyulut rusuh. Penangkapan mereka, konon berdasarkan informasi intelijen.
Masih menurut Iman, dari tangan orang yang ditangkap itu ditemukan sejumlah bukti. Ada rundown acara berisi detail mereka melakukan serangan atau serbuan, datang dari mana, kembalinya di mana.
Selain itu, ditemukan dari mereka botol beling yang diduga akan digunakan sebagai molotov, ketapel dan gotri, paku beton, serta sejumlah uang di tangan koordinator lapangan yang akan digunakan untuk membayar orang yang mau melakukan kerusuhan.
Mereka ditangkap polisi sebelum mereka tiba di lokasi unjuk rasa. Sebagian dari mereka disebut berasal dari luar Jakarta. Setelah menjalani pemeriksaan, 101 orang itu sudah dipulangkan, kata Kabid Humas Polda Kombes Pol Budi Hermanto, hari ini. Namun, Polda Metro Jaya masih melakukan pendalaman untuk menemukan aktor utama yang diduga menjadi penyandang dana.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang melakukan pengumpulan bukti atas kasus penangkapan tersebut menemukan hal yang berbeda dengan klaim Polda Metro Jaya.
Pengacara Publik LBH Jakarta, Nabil Hafizhurrahman mengungkapkan, sebagian dari orang yang ditangkap itu diarahkan oleh pihak yang diduga aparat polisi untuk menaiki bus dengan dalih menuju sebuah konser. Namun, mereka justru dibawa ke Markas Polda Metro Jaya.
Dari penangkapan tersebut, Polda Metro Jaya berjanji akan menemukan "aktor" penggerak atau otak rencana rusuh. Janji yang sama juga sudah disuarakan oleh Polri ketika menangani kerusuhan dalam demonstrasi Agustus 2025 yang merebak di sejumlah kota, yang menewaskan 12 orang.
Berdasarkan catatan Kontras per Februari 2026, sebanyak 6.719 orang ditangkap dalam peristiwa tersebut. Polri menetapkan 959 orang sebagai tersangka (664 dewasa, 295 anak di bawah umur), terkait kerusuhan. Berdasarkan temuan Komisi Pencari Fakta, sebanyak 703 orang masih ditahan.
Namun, dari semua yang ditangkap dan sebagian sudah diadili, tidak ada satu pun yang bisa dikatakan sebagai aktor intelektual atau otak gerakan rusuh. Jadi otak atau si dalang gerakan itu hanya sekadar pengalihan isu, atau memang ada dan diketahui bersama untuk dimaklumi, dan dilupakan.
(Sumber: BDS Alliance) ***