Bank Indonesia Akan Perketat Pembelian Dolar AS dengan Menurunkan Natas Pembelian Tanpa Underlying

ORBITINDONESIA.COM -  Bank Indonesia (BI) akan memperketat pembelian dolar AS dengan menurunkan batas pembelian tanpa underlying menjadi USD 25 ribu/orang/bulan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, tujuannya untuk menjaga nilai tukar rupiah. Ketentuan saat ini, pembelian tanpa underlying dibatasi USD 50 ribu/orang/bulan yang baru berlaku 1 April 2026. 

Menurut dia, transaksi spot USD menurun usai kebijakan pembelian valas diperketat. Per 17 April, rata-rata harian transaksi spot nasabah turun dari USD 78 juta menjadi USD 60 juta. Sementara penggunaan dokumen underlying dalam transaksi spot meningkat dari 89,2% jadi 93,5%.

Sementara Menkeu Purbaya mengatakan, pemerintah akan menerbitkan bond atau surat utang dengan China untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Dengan penerbitan Panda Bond dengan bunga lebih rendah tersebut, Indonesia tak terlalu banyak tergantung pada dolar AS lagi. Rencananya, peluncuran surat utang dalam mata uang renminbi atau yuan tersebut bisa direalisasikan pada semester II-2026.

Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda menilai ada ketidaksesuaian antara capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61% dengan data penunjangnya. Pertama, konsumsi rumah tangga tumbuh signifikan 5,52% dari 4,96% tahun lalu, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret sebesar 122,9 bps, merosot dibanding Januari 127 bps. Umumnya, IKK mencerminkan konsumsi rumah tangga. 

Ketidaksesuaian berikutnya, ada perlambatan pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya dibandingkan kuartal I-2025. Sementara tahun lalu, konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan, tumbuh 6,86% tapi konsumsi rumah tangga melambat. Ketiga, pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) kendaraan yang tumbuh 12,39%, tapi pertumbuhan industri alat angkutan terkontraksi hingga 5,02%. 

Nailul menduga PMTB kendaraan disumbang impor kendaraan Kopdes Merah Putih. Data terakhir, industri pengolahan yang mengalami tekanan cukup tinggi sehingga hanya tumbuh 5,04%. Ia pun mempertanyakan bagaimana pertumbuhan ekonomi justru sangat tinggi sedangkan pertumbuhan industri jauh melambat. Sebab, kontribusi sektor industri pengolahan mencapai 19% terhadap PDB.***