Slow Living di Perkotaan: Antara Kedaulatan Waktu dan Tantangan Ekonomi
ORBITINDONESIA.COM – Di era digital yang serba cepat, slow living menjadi oasis bagi kaum urban yang lelah. Namun, apakah hidup pelan bisa dicapai di tengah hiruk-pikuk kota besar?
Banyak pekerja perkotaan terjebak dalam rutinitas yang menuntut dan melelahkan. Waktu menjadi barang mewah di kota-kota besar, di mana segala sesuatu bergerak cepat dan efisiensi menjadi prioritas.
Gerakan slow living sejatinya bermula dari protes terhadap industrialisasi yang mengorbankan kualitas hidup. Penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan waktu berkaitan erat dengan kemiskinan pendapatan, memperburuk kesejahteraan mental.
Slow living bukan sekadar hak istimewa, melainkan kebutuhan untuk memulihkan keseimbangan hidup. Tanpa perubahan struktural, hanya segelintir orang yang bisa menikmati kedaulatan waktu ini.
Penting bagi pemerintah dan institusi untuk menciptakan kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja-hidup. Kita perlu bertanya, bagaimana kota-kota bisa menjadi lebih manusiawi dan menghargai ritme hidup warganya?
(Orbit dari berbagai sumber, 12 Mei 2026)