Manuel Kaisiepo: Barbara S. Harvey, "Pemberontakan Setengah Hati"
Oleh Manuel Kaisiepo, akademisi dan pengamat politik.
ORBITINDONESIA.COM - Terlambat saya mengetahui berita duka ini: ilmuwan politik Barbara Sillars Harvey meninggal dunia pada 23 April lalu.
Saya baru baca berita singkat tentang kepergiannya dalam The Washington Post, 7 Mei 2026.
Sebagai Indonesianis dari Universitas Cornell, mungkin nama Barbara Harvey tidak "seterkenal" Ben Anderson dan Ruth McVey, atau Bill (William) R. Liddle dari Ohio State University.
Tapi bagi peminat kajian sejarah politik Indonesia modern pascakemerdekaan, nama Barbara Harvey cukup dikenal melalui beberapa hasil kajiannya yang sudah dipublikasikan.
Ilmuwan politik dan juga mantan diplomat ini dikenal dan disegani terutama karena penelitiannya tentang dua peristiwa pergolakan politik di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara akhir 1950an hingga awal 1960an.
Pertama, kajian doktoralnya tentang gerakan DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Sudah dipublikasikan tahun 1974 dengan judul TRADITION, ISLAM AND REBELLION: South Sulawesi, 1950-1965.
Kedua, kajiannya tentang pergolakan di Sulawesi Utara, dipublikasikan dengan judul PERMESTA HALF A REBELLION (terbit 1977).
Subjudul "Half A Rebellion" dalam buku PERMESTA sudah mewakili sudut pandang Barbara Harvey yang berbeda dengan anggapan umum waktu itu.
Dia tidak menganggap pergolakan di kedua daerah itu sebagai pemberontakan yang bercorak separatis, melainkan sebagai "pemberontakan setengah hati".
Harvey menunjukkan bahwa latar belakang dan motif di balik gerakan perlawanan di Sulawesi (dan juga di daerah lainnya) periode 1950an - awal 1960an jauh lebih kompleks daripada motif separatisme semata.
Melalui kedua kajiannya itu, Barbara Harvey sesungguhnya sudah berjasa sejak awal mengingatkan kita bahwa tidak semua pergolakan di daerah bermotif separatis.
Desain kebijakan pembangunan yang sentralistik, tidak adil dan merata, justru merupakan faktor utama lahirnya ketidakpuasan sosial, yang bila terus dibiarkan, dapat bereskalasi menjadi gerakan perlawanan. Walaupun motif utamanya, seperti ditunjukkan Harvey, bukanlah pemberontakan separatis.
Minat akademik Barbara Harvey terhadap dinamika politik Indonesia mungkin sudah muncul sejak dia sebagai diplomat bertugas di Konsulat Amerika di Surabaya, 1961-1964. Dia kemudian melanjutkan studi doktor di Cornell University dengan kajian tentang DI/TII di Sulawesi Selatan.
Setelah mengajar empat tahun di Monash University, Australia, dia kembali ke Kementerian Luar Negeri Amerika, dan ditugaskan lagi di Indonesia tahun 1984-1987, dilanjutkan 1993-1997.
Barbara Sillars Harvey dikaruniai usia yang panjang. Dia meninggal dengan tenang pada 23 April 2026 dalam usia 92 tahun. RIP. ***