Resensi Buku Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025) Karya Vali Nasr
Pendahuluan: Membaca Iran Bukan sebagai Fanatisme, tetapi Rasionalitas Negara
ORBITINDONESIA.COM- Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025) karya Vali Nasr merupakan salah satu karya geopolitik paling penting tentang Iran modern dalam beberapa tahun terakhir. Diterbitkan oleh Princeton University Press pada tahun 2025, buku ini hadir sebagai upaya besar untuk menjelaskan Iran bukan sebagai negara “gila”, “irasional”, atau semata-mata “teokrasi fanatik”, melainkan sebagai negara modern yang memiliki logika strategis, memori historis, dan kepentingan geopolitik yang konsisten.
Vali Nasr — profesor hubungan internasional dan salah satu pakar Timur Tengah paling berpengaruh di dunia — menulis buku ini dengan pendekatan yang berbeda dari banyak analis Barat. Jika sebagian besar kajian tentang Iran cenderung melihat Republik Islam hanya melalui lensa ideologi Syiah atau anti-Amerikanisme, Nasr justru menempatkan Iran dalam kerangka “grand strategy” — yakni strategi jangka panjang sebuah negara untuk mempertahankan keamanan, stabilitas, dan pengaruhnya di dunia.
Buku ini lahir dalam konteks Timur Tengah yang berubah drastis: perang Suriah, normalisasi Arab–Israel, kebangkitan Tiongkok, melemahnya dominasi Amerika Serikat, dan meningkatnya konflik regional yang melibatkan Iran secara langsung maupun tidak langsung. Dalam situasi itu, Nasr mencoba menjawab pertanyaan mendasar: apa sebenarnya yang diinginkan Iran?
Jawaban Nasr cukup mengejutkan sekaligus provokatif. Menurutnya, Iran tidak terutama digerakkan oleh fanatisme ideologis, melainkan oleh dua ketakutan historis yang sangat dalam: ancaman invasi asing dan ancaman disintegrasi internal. Dari dua trauma itulah, tulis Nasr, seluruh strategi Iran modern dibentuk.
Isi dan Struktur Buku: Dari Revolusi ke Strategi Ketahanan Negara
Buku ini disusun secara historis sekaligus analitis. Nasr tidak langsung membahas program nuklir Iran atau jaringan militianya di Timur Tengah. Ia justru memulai dari akar sejarah Iran modern — dari keruntuhan Dinasti Qajar, intervensi Inggris dan Rusia, kudeta terhadap Mohammad Mossadegh pada 1953, hingga pengalaman traumatis Perang Iran–Irak 1980–1988.
Bagi Nasr, perang melawan Irak adalah momen paling menentukan dalam pembentukan strategi Iran kontemporer. Selama delapan tahun, Iran menghadapi invasi brutal Saddam Hussein dengan dukungan banyak negara Arab dan Barat. Pengalaman itu menanamkan kesadaran kolektif bahwa Iran tidak boleh lagi bergantung pada kekuatan asing untuk bertahan hidup.
Dari sini, Nasr menunjukkan bagaimana Iran mengembangkan apa yang ia sebut sebagai “strategi ketahanan” — membangun kemampuan militer mandiri, jaringan sekutu regional, dan sistem pertahanan asimetris untuk mencegah isolasi serta invasi di masa depan. Dalam perspektif Iran, dukungan terhadap Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, rezim Assad di Suriah, dan Houthi di Yaman bukan semata proyek ekspor revolusi Islam, tetapi bagian dari strategi menciptakan “lingkar pertahanan” di luar perbatasannya.
Nasr menolak pandangan simplistis bahwa kebijakan luar negeri Iran hanya dikendalikan oleh doktrin agama. Menurutnya, Republik Islam memang menggunakan bahasa revolusioner dan simbol-simbol religius, tetapi praktik geopolitiknya jauh lebih pragmatis daripada yang sering dibayangkan Barat. Iran, tulis Nasr, bertindak seperti negara rasional yang ingin mengamankan kelangsungan hidupnya di lingkungan geopolitik yang bermusuhan.
Dalam bagian-bagian selanjutnya, Nasr membahas program nuklir Iran, hubungan dengan Amerika Serikat, persaingan dengan Arab Saudi, dan dinamika internal antara ulama, Garda Revolusi, dan elite politik sipil. Ia menunjukkan bahwa di balik retorika ideologis, keputusan strategis Iran selalu berakar pada pertimbangan keamanan nasional.
Analisis Geopolitik: Iran sebagai Negara Peradaban
Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah cara Nasr membaca Iran bukan sekadar negara Timur Tengah biasa, tetapi sebagai “negara peradaban” dengan kesadaran sejarah yang panjang. Iran bukan hanya Republik Islam pasca-1979; ia adalah pewaris tradisi Persia yang telah bertahan ribuan tahun di tengah invasi, kekaisaran, dan pergantian zaman.
Kesadaran historis inilah yang membuat Iran melihat dirinya berbeda dari negara-negara Arab di sekitarnya. Iran merasa dirinya memiliki misi historis dan posisi geopolitik yang unik. Nasr menunjukkan bahwa elite Iran — baik yang religius maupun nasionalis — sama-sama dipengaruhi oleh ingatan kolektif tentang intervensi asing dan ancaman disintegrasi nasional.
Dalam konteks ini, strategi Iran sering kali bersifat defensif meskipun tampak agresif dari luar. Iran membangun pengaruh regional bukan hanya untuk ekspansi ideologis, tetapi untuk memastikan bahwa perang tidak lagi terjadi di tanah Iran sendiri.
Nasr juga menyoroti bagaimana Iran memandang Amerika Serikat. Menurutnya, ketakutan Iran terhadap Washington tidak sekadar lahir dari ideologi anti-Barat, tetapi dari pengalaman konkret: kudeta CIA tahun 1953, dukungan AS terhadap Saddam Hussein, embargo ekonomi, dan ancaman perubahan rezim selama beberapa dekade. Karena itu, kebijakan Iran sering kali berangkat dari asumsi bahwa Amerika pada akhirnya ingin melemahkan atau mengganti rezim Tehran.
Gaya Penulisan dan Pendekatan Intelektual
Vali Nasr menulis dengan gaya yang tenang, akademik, tetapi tetap naratif dan mudah diikuti. Ia tidak menulis seperti propagandis Iran, namun juga tidak memakai bahasa demonisasi khas media Barat pasca-9/11.
Kekuatan Nasr terletak pada kemampuannya menggabungkan sejarah, geopolitik, dan wawancara mendalam dengan elite Iran. Buku ini dipenuhi pembacaan kontekstual yang membuat tindakan Iran tampak lebih masuk akal, bahkan ketika pembaca tidak setuju dengannya.
Namun justru karena pendekatan empatik ini, Nasr juga menuai kritik. Sebagian pembaca menilai ia terlalu memahami logika rezim Iran hingga tampak “melunakkan” otoritarianisme Republik Islam. Diskusi di komunitas pembaca Iran sendiri menunjukkan bahwa sebagian oposisi Iran menganggap Nasr terlalu simpatik terhadap elite Republik Islam, terutama terkait masa depan Garda Revolusi dan struktur kekuasaan pasca-Khamenei.
Tetapi terlepas dari kritik itu, buku ini berhasil melakukan sesuatu yang jarang: menjelaskan Iran dari sudut pandang strategis Iran sendiri, bukan hanya dari perspektif musuh-musuhnya.
Relevansi bagi Dunia Modern dan Dunia Islam
Membaca Iran’s Grand Strategy hari ini sangat penting, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Buku ini membantu pembaca memahami bahwa konflik Iran dengan Amerika, Israel, dan negara-negara Arab bukan sekadar pertarungan ideologi agama, tetapi benturan kepentingan strategis dan memori sejarah yang panjang.
Bagi dunia Islam, buku ini juga menunjukkan bagaimana negara modern menggunakan agama, nasionalisme, dan geopolitik secara bersamaan. Iran tampil bukan hanya sebagai negara Syiah revolusioner, tetapi sebagai negara yang terus berusaha bertahan di tengah tekanan global.
Dalam konteks Indonesia, buku ini relevan untuk memahami bahwa politik Timur Tengah jauh lebih kompleks daripada sekadar narasi Sunni versus Syiah. Di balik konflik sektarian, terdapat pertarungan kekuasaan, keamanan nasional, energi, dan perebutan pengaruh global.
Penutup: Iran sebagai Negara yang Dibentuk oleh Ketakutan dan Ketahanan
Melalui Iran’s Grand Strategy: A Political History, Vali Nasr menghadirkan sebuah pembacaan yang lebih dewasa dan kompleks tentang Iran modern. Ia menunjukkan bahwa Republik Islam bukan sekadar rezim ideologis yang bergerak karena fanatisme, tetapi negara dengan strategi jangka panjang yang dibentuk oleh trauma sejarah, ancaman eksternal, dan keinginan mempertahankan diri.
Buku ini penting karena memaksa pembaca keluar dari stereotip sederhana tentang Iran. Nasr tidak meminta kita menyetujui kebijakan Tehran, tetapi meminta kita memahaminya secara historis dan geopolitik.
Iran’s Grand Strategy pada akhirnya adalah kisah tentang bagaimana sebuah bangsa yang merasa terus dikepung mencoba bertahan hidup di tengah dunia yang penuh ancaman. Dan seperti semua strategi besar dalam sejarah, strategi Iran lahir bukan hanya dari ambisi, tetapi juga dari ketakutan mendalam bahwa tanpa kekuatan dan kewaspadaan, sebuah peradaban tua dapat kembali dihancurkan oleh sejarah.***