DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Isti Nugroho, Sang Filsuf

image
Isti Nugroho

Oleh: Syaefudin Simon, Kolumnis

ORBITINDONESIA - Sahabatku Isti Nugroho Ultah ke-62, 30 Juli lalu. Sebuah usia yang matang bagi pria untuk menikmati kehidupan. Bercanda dgn keluarga. Istri yang cantik, anak yg cerdas, dan cucu yg lucu.

Itulah kondisi ideal untuk orang awam. Tapi bagi Isti, kondisi semacam itu -- bahagia dan hidup damai dengan keluarga -- sama sekali tidak ideal. Karena, hidup seperti itu membosankan.

Tak ada nuansa pemberontakan. Tak ada gejolak pemikiran. Tak ada suasana untuk membangun kalimat-kalimat filosofis yang menggetarkan. Dan tak ada kata-kata puitis yang mencerahkan kemanusiaan.

Baca Juga: Lirik Lagu Ready For Love BLACKPINK X PUBG

Kondisi di atas, jelas bukan "habitat" Isti. Isti lebih menyukai hidup seperti Socrates. Menjadi filsuf.

Bagi Socrates, menjadi filsuf harus berani hidup soliter. Tanpa istri. Itulah yang dilakukan Isti Nugroho di usia matangnya. Ia memilih bebas dari beban apa pun, kecuali filsafat, sastra, dan drama.

Aku mengenal dekat Isti sejak awal tahun 1980-an. Seorang pemuda yang selalu membawa buku filsafat, sastra, dan sosiologi di tasnya. Kesehariannya menyendiri di sudut gedung sepi di Bulaksumur, Yogya, membaca buku-buku sastra dan filsafat tadi.

Suatu ketika, Isti yang hampir tiap hari berdiskusi denganku di sudut gedung itu, aku tanya.

Baca Juga: Nikita Mirzani Kembali Pulang, Langsung Wajib Lapor ke Kantor Polisi

Isti, kecantikan seperti siapa gadis yang kau idamkan? Seperti Meriam Belina, Ida Iasha, atau Hema Malini? Isti diam.

Aku mengidolakan gadis yang indah seperti puisi Jalaludin Rumi. Tapi pemberontak seperti puisi Chairil Anwar. Bagiku Simon, gadis yang sosoknya tidak puitis, yang tidak inspiratif, adalah gadis yang tidak memiliki kecantikan apa pun.

Tragisnya, dalam perjalanan hidupnya -- Isti yang pernah dipenjara rejim Orde Baru karena dituduh menyebarkan luaskan buku-buku novelis Pramoedya Ananta Toer -- tidak menemukan gadis idamannya yang kecantikannya seperti puisi tersebut.

Isti pernah menikah -- suatu ritual manusia yang diagungkan sekaligus dilecehkan Socrates -- dengan gadis cantik yang dalam bayangannya seperti puisi Rumi dan Chairil. Ternyata, dugaan Isti keliru.

Baca Juga: Kejaksaan NTB Menangkan Perkara Gugaran Lahan ITDC di Mandalika

"Simon, wanita cantik itu ternyata butuh money, bukan puisi. Lelah aku memburu kebutuhan hartawi untuk istriku. Aku terbelenggu. Intuisi dan inspirasiku terganjal tuntutan wanita cantik yang tidak puitis." Keluh Isti.

"Sekarang, aku pilih menjadi filsuf," ujarnya. Biarlah kucari wanita-wanita puitis dalam drama dan teater yang aku sutradarai. Meski kecantikan itu hanya muncul dalam ilusi peran, tapi bagiku sudah cukup. Toh hidup hanyalah deretan peran yang silih berganti.

"Kini aku sadar hidup itu berkelana dalam imajinasi. Seperti kata Satrio Arismunandar, yang merasa hidup adalah sekadar menjalani mimpi di atas lapisan-lapisan mimpi yang tak pernah berhenti." Tambah Isti.

Di usiaku yang 62 sekarang, aku percaya apa yang dikatakan Socrates. Tambah pria yang selalu bersemangat memuji Karl Marx itu.

Baca Juga: BLACKPINK Rilis Video Musik Ready for Love, Dua Hari Capai 29 Juta Penonton di YouTube

Kebahagiaan pernikahan itu ada dua. Ujarnya. Pertama, istri membawamu pada kehidupan yang sakinah mawadah warohmah seperti diucapkan para pengkhotbah. Itu ilusi terbesar dalam kehidupan manusia.

Kedua, istri membawamu ke luar dari sistem pernikahan klasik konvensional itu. Di titik inilah istri akan lari dari kehidupanmu. Sang pria akan menjadi manusia soliter. Kesendiriannya akan menjadikan ia seorang filsuf.

Aku pilih menjadi filsuf. Ujar Isti. Buku adalah sahabat tidurku. Puisi Rumi dan Chairil Anwar adalah istriku.

Happy Birthday Isti. Filsuf dari Timuran Pojok Benteng Yogya, yang menganggap sorga sejati adalah pengembaraan abadi dalam filsafat dan puisi. ***

Berita Terkait