DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Denny Siregar: Soal Dukung Ganjar, Banyak yang Tak Kuat Dukung Amanat

image
Denny Siregar tentang konsistensi mendukung Ganjar.

ORBITINDONESIA.COM - Mau cerita. Kalau tak salah, waktu itu tahun 2021. Pas hari pertama lebaran, dan Covid lagi tinggi-tingginya. Tiba-tiba dapat telepon dari Jakarta, "Berangkat sekarang, bapak mau ketemu di istana Bogor.."

Kaget dong, gile gua di Surabaya nih. Tapi yang menelepon memaksa dan dikirim surat buat lewat road block di sepanjang jalan dari petugas Covid. Pesawat lagi tak beroperasi waktu itu.

Akhirnya bareng Alif, Yusuf yang memang tinggal di Jatim, kami naik mobil malam itu ke Jakarta. Sampe subuh di Jakarta, tak mandi, langsung tes Covid. Di tempat tes sudah ada bang Ade dan Permadi. Eko dan Djo juga sudah nunggu. Sesudah tes, kami berangkat ke Bogor.

Baca Juga: Inilah Daftar 31 Jalan di Wilayah Jakarta Selatan yang Jadi Langganan Pengendara Motor Melawan Arah

Akhirnya sesudah melewati semua protokoler, ketemu juga dengan beliau, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Mister Joko Widodo.

Mata mengantuk banget karena semalaman belum tidur. Dan menariknya, kami ber 7 ditemui tanpa ada ajudan di samping beliau. Pintu ditutup, tak ada orang lain, supaya obrolan bebas.

Ngobrol lah kami ngalor ngidul, dan beliau ternyata hapal nama kami masing-masing. Ternyata pak Presiden penonton CokroTV dan 2045TV, channel yang aku ada di dalamnya. Dan akhirnya pembicaraan masuk ke area politik.

Beliau bertanya, "Siapa Capres yang kalian pilih nanti ?" Aku duluan menjawab, "Ganjar, pak.."

Ditanya lagi, "Alasannya apa ?" Kujawab, "Ya karena cuma Ganjar satu-satunya Capres yang tak pernah rangkulan sama kelompok intoleran dan tegas sama yang radikal." Presiden mengangguk dan bertanya ke masing-masing yang hadir, dan semua jawab Ganjar dengan tegas.

Baca Juga: Inilah Cara Paling Efektif Mengatasi Stres, Temukan Keseimbangan dan Kedamaian dalam Jalani Kehidupan

Pak Jokowi belum puas, dia terus mengorek informasi dari kami untuk memastikan apa benar kami pilih Ganjar dan jawaban kami memuaskan dia. Kami sendiri waktu itu belum pernah ada yang ketemu Ganjar.

Dan terakhir Presiden ngomong begini, "Oke, begini. Kalian kawal pak Ganjar sampai angka surveinya 30 persen, sesudah itu saya akan kawal sendiri dia ke istana..." Kami bersalaman, ada janji di sana dan akan kami kerjakan.

Waktu berjalan dan kami berhasil mengawal Ganjar Pranowo sehingga angka surveinya di atas 30 persen. Perjuangan yang tak mudah, karena Ganjar sendiri dihantam terus di internal partai. Waktu berjalan dan tampaknya Permadi sudah menyeberang. Beberapa dari kami tetap jalan sampai di tujuan.

Dan beberapa bulan lalu, seseorang datang ke kantorku di waktu malam. Sesudah berbasa basi, dia menawarkan proposal untuk gabung ke seberang dengan tawaran yang sangat menggiurkan. Bilangnya, "Pak Jokowi sudah ke seberang..."

Baca Juga: Menteri BUMN Erick Thohir Datang, Pesta Rakyat Simpedes BRI Diikuti Ribuan UMKM

Saya bangkit dari kursi, marah besar. Saya bilang, "Saya menjaga amanat Presiden untuk mengawal Ganjar sampai ke istana. Kalau dibilang tegak lurus pada Jokowi, saya ini tegak lurus sejak lama bukan baru sekarang.

Temukan saya sama pak Jokowi, saya mau tanya sendiri benarkah dia berubah dari janjinya 2 tahun lalu itu? Kalau berubah, biarlah saya yang akan mengingatkannya sendirian. Laki-laki itu yang dipegang adalah kata-katanya..."

Sang tamu pulang, gagal menyampaikan pesan. Saya tak yakin itu utusan Presiden, bisa jadi dia hanya atas nama. Sesudah malam itu, saya yakin ada yang tak beres kemudian saya ngetwit, "Ada kuda troya di istana..."

Saya akhirnya paham, kenapa beberapa teman tidak kuat memegang amanat. Tawaran pindah memang besar dan bikin silau. Sedikit sekali yang bisa tetap teguh jalan di tempatnya, banyak yang goyang. Ah, biarkan lah, itu mereka bukan saya.

Baca Juga: Empat Tahap Penghapusan Dalam Kehidupan Bagi Manusia Pekerja

Saya kadang mengutuk kenapa harus dilahirkan jadi seorang idealis? Kan lebih gampang jadi orang pragmatis atau oportunis ? Bisa kaya raya apalagi dalam posisi sekarang.

Tapi mungkin memang itu jalannya. Manusia itu baru punya nilai ketika dia menjaga komitmen dan konsistensinya.

Saya berharap, semoga tulisan ini sampai pada Presiden. Hanya untuk mengingatkannya kembali akan janjinya kepada kami. Perintah sudah dilaksanakan dan sekarang tinggal menunggu apa yang akan beliau lakukan.

Pemilu kali ini emang gila, serasa dikocok ulang. Untung ada secangkir kopi yang menemani. Pahitnya menyadarkan bahwa di tengah semua kegilaan, hanya yang rasional yang bisa bertahan.

Seruput.

Denny Siregar ***

Berita Terkait