DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Apa Itu Fenomena Supermoon dan Bagaimana Dampaknya Terhadap Bumi ?Mitos dan Realita

image
Kenali fenomena SUpermoon lengkap dengan penjelasannya.

ORBITINDONESIA.COM- Awal bulan Agustus 2023 akan dimulai dengan kehadiran fenomena alam yang menarik, yaitu Supermoon.

Pada tanggal 1 Agustus 2023, langit malam akan dihiasi oleh Bulan yang terlihat lebih besar dan lebih cerah dari biasanya, mengundang banyak perbincangan dan spekulasi mengenai efeknya terhadap manusia dan planet kita.
 
Informasi mengenai dampak Supermoon sering kali dipenuhi dengan beragam klaim tanpa dasar ilmiah yang jelas.
 
 
Beberapa di antaranya melebih-lebihkan efeknya hingga menyebabkan gempa, letusan gunung berapi, cuaca ekstrem, dan bahkan tsunami.
 
Namun, sebenarnya hanya sedikit bukti ilmiah yang mendukung klaim-klaim tersebut.
 
Lalu apa sih sebenarnya Supermoon itu? Supermoon yang juga dikenal sebagai  Syzygy Purnama Perigee atau Bulan Purnama Perigee.
 
Baca Juga: 5 Fakta Unik Seputar Fenomena Supermoon Selasa, 1 Agustus 2023 : Memikat Hati Pencinta Langit Malam Indonesia
 
Supermoon merupakan sebuah fenomena yang langka di astronomi dimana bisa terjadi ketika bulan berada pada titik terdekatnya dengan bumi dalam orbitnya.
 
Dimana pada saat itu, Bulan tampak terlihat lebih besar dan terang dari biasanya ketika berada dalam fase purnama.
 
Fenomena Supermoon sendiri sebenarnya bukan berasal dari dunia astronomi, melainkan dari astrologi dalam bidang pseudoscientific.
 
 
Hal ini memberikan kesempatan baru bagi pengamat langit untuk dijadikan ilmu pengetahuam.
 
Namun kehadiranya terkadang dihubungkan dengan berbagai klaim tak berdasar seperti akan mengakibatkan gempa bumi, letusan gunung berapi, cuaca ektrem dan lain-lain.
 
Memang benar bahwa Bulan memiliki pengaruh terhadap pasang surut Bumi, sehingga bisa jadi menimbulkan pasang air lautan.
 
 
Ketika Bulan berada dalam fase purnama atau bulan baru, posisi Bumi, Matahari, dan Bulan akan berbaris, sehingga menghasilkan pasang laut yang lebih tinggi dari hari-hari biasanya.
 
Namun, dampak pasang surut ini harus tetap diwaspadai, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir laut.
 
Pasang laut ini sering disebut sebagai pasang purnama karena terjadi ketika Matahari-Bumi-Bulan atau Matahari-Bulan-Bumi berada dalam satu garis lurus.
 
Hal ini mengakibatkan gaya pasang surut dari Bulan dan Matahari bekerja searah.
 
Terkait dengan ukuran Bulan saat Supermoon, ada pandangan yang mengagumkan bahwa Bulan tampak lebih besar dari biasanya.
 
Namun, astronom lebih suka menghindari istilah supermoon dan lebih tepatnya menyebutnya sebagai syzygy purnama perigee.
 
Istilah ini merujuk pada kondisi saat Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi.
 
Dalam kenyataannya, Bulan purnama di perigee hanya terlihat sekitar 14% lebih besar karena berada lebih dekat dengan Bumi, dan hanya 30% lebih terang dari Bulan purnama di apogee (ketika Bulan berada di titik terjauh dari Bumi).
 
Bahkan, Supermoon hanya sekitar 7% lebih besar dan 15% lebih terang dari rata-rata bulan purnama.
 
Perbedaan kecerahan ini dipengaruhi oleh pantulan cahaya dari permukaan Bulan yang berkurang secara kuadrat seiring dengan jaraknya dari Bumi.
 
 Memang sulit untuk mengamati perbedaan ukuran Bulan tanpa perbandingan berdampingan, tetapi para astronom dapat merekam perubahan ukuran Bulan melalui fotografi yang cermat.
 
Jadi, meskipun fenomena Supermoon menarik perhatian dan menghadirkan pemandangan indah di langit malam, sebaiknya kita tidak terjebak dalam berbagai mitos yang mengagumkan dan tidak teruji kebenarannya.

Sebagai gantinya, kita dapat menikmati keindahan alam ini dengan penuh rasa kagum dan apresiasi akan keajaiban yang ada di luar sana.***

Berita Terkait