DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

Ismawan Amir, Pria Asal Sulawesi Selatan di Tukri yang Selamat dari Gempa Ini Bercerita Peristiwa Mengerikan

image
Ismawan Amir, Pria asal Sulawesi Selatan yang Menjadi Mahasiswa di Istanbul Ticaret University.

ORBITINDONESIA - Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sulawesi Selatan, Ismawan Amir, selaku mahasiswa Istanbul Ticaret University adalah yang selamat dari bencana gempa Turki.

Ia kemudian bercerita tentang gempa dan situasi terkini di lokasi pengungsian, sewaktu dikonfirmasi dari Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu 8 Februari 2023.

Isman melaporkan dari Istanbul, pagi tadi di layar televisi, Wakil Presiden Turki Fuat Oktay merilis jumlah korban yang tewas terus bertambah menjadi 3.419.

Baca Juga: Seribuan Pekerja Asal Bali di Turki Aman, Ida Bagus Setiawan: Terus Mendata Bersama Kedutaan Besar Indonesia

Korban luka sekitar 20.534 orang. Konferensi pers itu dilakukan 24 jam setelah gempa di Turki dan sebagian wilayah Suriah.

Gempa yang berkekuatan magnitudo 7,8 itu terjadi Senin pagi sewaktu banyak orang masih tertidur. Video-video amatir yang tersebar di grup WhatsApp dan linimasa Turki menunjukkan bangunan yang runtuh, ambruk, dan jalan yang terbelah.

Orang-orang berlarian ke jalanan sambil berteriak minta tolong. Korban berjatuhan, paling banyak tertimbun di bawah reruntuhan.

Presiden Turki, RT Erdogan mengumumkan hari berkabung nasional akibat gempa bumi. Ia meminta masyarakat dan kantor perwakilan negara asing mengibarkan bendera setengah tiang hingga Ahad, 12 Februari 2023.

Baca Juga: Gempa Turki dan Suriah, Petugas PBB Kesulitan Bahan Bakar dan Hadapi Ancaman Cuaca Buruk

Pemerintah bergerak cepat melalui badan darurat Turki, AFAD. Sejak kemarin, 13.000 tim penyelamat dikirim ke lokasi terdampak gempa. AFAD juga merilis telah mengirim 2600 personil penyelamat yang datang dari 65 negara membantu penyelamatan korban gempa.

Negara-negara Uni Eropa dan Rusia juga mengirim bantuan untuk penyelamatan korban gempa. Tak hanya itu, bantuan juga datang dari Asia seperti Jepang, Malaysia, Uzbekistan, dan Taiwan.

Hujan salju

Sekarang ini, Turki menghadapi musim dingin yang ekstrem. Salju, angin, dan hujan membuat udara semakin dingin. Korban gempa di bawah reruntuhan juga mendapat ancaman baru, kedinginan.

Baca Juga: INNALILLAHI, UNICEF: Gempa Turki dan Suriah Tewaskan Ribuan Anak Anak

Begitu juga dengan penyelamat. Mereka sulit mengevakuasi korban karena cuaca belum bersahabat. Mereka berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan korban yang kedinginan di dalam reruntuhan.

Beberapa foto menunjukkan korban semalam berkumpul di sekitar api unggun untuk menghangatkan badan. Kabarnya, penyintas belum berani kembali dan tinggal di dalam rumah karena sering terjadi gempa susulan.

Meski demikian, pemerintah Turki telah menyiapkan 54 ribu tenda untuk para penyintas di lokasi gempa.

"Saya mencoba menghubungi teman-teman PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Kahramanmaras lewat bantuan Ketua PPI Istanbul tetapi belum ada jawaban. Di Group WhatApp foto-foto mereka menunjukkan sedang berkumpul di dalam aula kampus," kata pria yang pernah berkecimpung di dunia jurnalis ini.

Baca Juga: Total Korban Tewas Gempa Turki dan Suriah Tembus 7.800 Orang, Erdogan Berlakukan Darurat Bencana Tiga Bulan

"Mereka sudah tak berani kembali ke apartemen karena trauma. Semalam mereka menyalakan api unggun agar tetap hangat karena cuaca sangat dingin, dan salju yang lagi turun," ujarnya lagi melalui pesan WhatsApp yang diterima di Makassar.

Rencananya mereka akan dievakuasi oleh KBRI. Kabar terbarunya, tak ada korban jiwa dari mahasiswa Indonesia di Kahramanmaras. Hanya satu orang yang luka karena terkena reruntuhan.

Pelajar Indonesia di Turki juga sementara berusaha menggalang donasi untuk disalurkan ke korban di lokasi gempa. Kondisi medan yang sulit, sedang turun salju sehingga KBRI sarankan agar LSM dari Indonesia berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia, Kemenlu RI atau Palang Merah Indonesia.***

Berita Terkait