DECEMBER 9, 2022
Orbit Indonesia

PESANTREN: Film Ulama Perempuan yang Menginspirasi

image
salah satu adegan di Film Pesantren

ORBITINDONESIA.COM - Di Indonesia ini amat jarang ditemukan pondok pesantren yang dipimpin perempuan. Biasanya yang memimpin pondok ya laki-laki.

Tapi di antara yang jarang, ada beberapa pesantren yang menonjol. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islami di Cirebon, Jawa Barat. Pondok ini dipimpin ulama perempuan, namanya Hj. Masriyah Amva.

Saking fenomenalnya, kisah pondok pesantren ini diangkat jadi sebuah film berjudul ‘Pesantren’ yang disutradarai Shalahuddin Siregar

Baca Juga: Viral Mario Dandy Satriyo Lepas dan Pasang Tali Pengikat Tangan Sendiri, Netizen Curiga Ada Perlakuan Istimewa

Film ini sejak 24 Mei 2023 tayang premier di bioskoponline.com dengan harga tiket Rp 15 ribu.

Dalam promonya, digambarkan film ini menceritakan bagaimana sebuah pondok pesantren yang dipimpin perempuan mendidik santri untuk berpikiran luas, mendukung kesetaraan gender, dan menghargai keberagaman

Hj. Masriyah yang akrab disapa Bu Nyai memimpin Pondok ini pada 2006, menggantikan suaminya. K.H. Muhammad (Alm), yang meninggal di tahun itu.

Perjalanan Bu Nyai dalam memimpin ponpes ini penuh tantangan. Tak sedikit orangtua yang memindahkan anaknya ke pesantren lain, karena tak mau dipimpin seorang perempuan.

Baca Juga: Anak Buah Ibnu Chuldun dari Kanwil Kemenkumham DKI Beri Edukasi Bantuan Hukum di Duren Sawit Jakarta Timur

Meski sempat mendapat pro dan kontra dari berbagai pihak, Bu Nyai tidak menyerah. Tanpa Lelah, dia mengembangkan Ponpes Kebon Jambu Al Islamy.

Sekarang ini pesantrennya punya 1.000 santri laki-laki dan 700 orang santri perempuan. Bu Nyai bilang, ia sepenuhnya bergantung kepada Tuhan yang mampu memberinya kekuatan dalam memimpin Ponpes ini.

Memang Ponpes ini sempat dipimpin anak laki-lakinya, tetapi sayangnya sang anak telah berpulang juga pada 2017.

Pondok ini mencakup pendidikan SMP, Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, dan bahkan lembaga setingkat perguruan tinggi.

Baca Juga: Marak Terjadi di Indonesia, Inilah Penjelasan tentang Bullying, Jenis, dan Contohnya

Karena terkesan dengan kepemimpinan Bu Nyai, Salahuddin Siregar memutuskan untuk membuat film dokumenter mengenai pondok tersebut.

Salahuddin menunjukkan bagaimana Bu Nyai jadi bukti bahwa kesetaraan gender bukanlah hal yang merusak agama, melainkan untuk menguatkan agama.

Film ini sempat hadir di berbagai festival internasional. Antara lain terpilih untuk ditayangkan di international Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA), yang adalah festival dokumenter paling bergengsi dan terbesar di dunia.

Kita tentu berharap lebih banyak film yang menginspirasi keberagaman semacam ini diproduksi di Indonesia.***

Berita Terkait