DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Satrio Arismunandar: Buku Direktori Penulis Bisa Mendukung Kolaborasi dan Hasilkan Karya Literasi Bersama

image
Buku Direktori Penulis Indonesia 2023 yang disusun Dr. Satrio Arismunandar dan diterbitkan oleh Satupena (Foto: Satrio Arismunandar)

ORBITINDONESIA.COM – Keberadaan buku Direktori Penulis Indonesia dapat mendukung upaya kolaborasi dan kerja sama antarpenulis, untuk menghasilkan dan mengembangkan karya literasi bersama. Hal itu dinyatakan oleh Dr. Satrio Arismunandar.

Satrio Arismunandar adalah Sekjen SATUPENA dan pembicara dalam diskusi yang membahas buku Direktori Penulis Indonesia 2023, yang diterbitkan SATUPENA. Diskusi itu berlangsung di Jakarta, Kamis malam, 4 Januari 2024.  

Diskusi yang menghadirkan Satrio Arismunandar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA. Webinar itu dipandu oleh Anick HT dan Amelia Fitriani.

Baca Juga: Sastri Bakry: Beban Berat Ibu dan Anak

Satrio yang ditugasi menyusun buku Direktori Penulis Indonesia 2023 menyatakan, gagasan penyusunan buku itu berawal dari Ketua Umum Denny JA, tahun lalu.

Basis awal data penulis dalam buku itu diambil dari data keanggotaan SATUPENA, yang pada waktu itu sudah terdaftar 500 penulis. “Namun setelah saya cek, ternyata data penulis anggota SATUPENA itu masih belum lengkap,” kata Satrio.

Data itu lalu dikembangkan ke penulis-penulis yang tidak tergabung dalam SATUPENA. Satrio mengaku, ia mengirim permintaan data penulis, dengan format tertentu, ke komunitas penulis di berbagai media sosial.

Baca Juga: Syaefudin Simon: Dari Kisah Burung Sampai Frugal Life

“Sayangnya, respons mereka tidak begitu menggembirakan. Sangat sedikit penulis yang mengirimkan data diri dan karyanya, meski jelas dikatakan ini untuk tujuan penyusunan buku direktori,” ujar Satrio.

Maka, lanjut Satrio, pihak penyusun lalu juga melakukan “gerilya pencarian data.” Yaitu, dengan mengeksplorasi berbagai situs internet dan media online, di mana terdapat data terbuka tentang penulis dan karyanya.

Dalam tanya jawab dengan peserta webinar, metode pengumpulan data ini mendapat kritik. Wartawan senior Jonminofri menyebut, penyusun direktori seharusnya minta izin pada penulis yang dikutip data pribadinya dari situs atau media online.

Baca Juga: Tjandra Yoga Aditama Raih Rekor MURI sebagai Penulis COVID-19 Terbanyak di Media Massa

Penulis Ahmad Gaus mengeritik keras. Katanya, ada sejumlah nama penulis terkemuka yang tidak tertera dalam direktori tersebut. Menurutnya, ini sangat mengganggu.

Penulis Nia Samsihono memberi masukan tentang proses baku dalam penyusunan direktori, kamus, atau ensiklopedia, yang seharusnya dilakukan secara ketat, selektif, cermat, dengan kriteria-kriteria yang jelas. Ini butuh waktu lama.

Penulis Anwar Putra Bayu mengusulkan, dalam penyusunan buku direktori penulis, sebaiknya memanfaatkan dukungan dari tim yang terdiri dari penulis-penulis senior dari berbagai daerah. Kerja besar ini tak bisa dikerjakan sendiri.

Baca Juga: Malam Lailatul Qodar

Satrio berterima kasih atas semua masukan dan kritik itu. Ia menanggapi dengan mengatakan bahwa sejak awal penyusun sudah menyadari, banyak hal dan data penulis yang belum tercakup dan diperhitungkan dalam penyusunan buku direktori ini.

Masalahnya, kata Satrio, pihak penyusun terkendala oleh waktu dan sumber daya yang terbatas. “Kalau menunggu hasil sempurna, buku ini tak akan pernah selesai,” tuturnya.

Maka, penyusun berusaha bekerja seoptimal mungkin, dengan memposisikan buku ini sebagai karya rintisan, yang akan selalu dan harus disempurnakan setiap tahun. Diharapkan, SATUPENA bisa mengalokasikan sumber daya untuk itu. ***

Baca Juga: Mohammad Agung Ridlo: Perlu Masukkan Penanggulangan Bencana ke Dalam Penataan Ruang untuk Kurangi Risiko

 

 

Sumber: Siaran Pers SATUPENA

Berita Terkait