DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Slamet Hendro Kusumo: Owah Gingsir, Mendem Politik

image
Pameran Satupena Jawa Timur

ORBITINDONESIA.COM - Zaman edan! Fenomena politik di satu sisi dipuja karena menggiurkan, bahwa kuasa itu dipandang sebagai hal paling puncak dalam capaian peradaban manusia.

Politik dimaknai tidak saja persoalan tentang hal-hal yang ideal, bahwa politik adalah satu cara yang sistematik untuk menata, mengatur bagi kehidupan berbangsa dan bernegera secara koneksitas. 

Akan tetapi politik juga bisa dimaknai tidak saja persoalan perebutan, kompetisi kekuasaan, tapi juga hasrat kuasa tak bertepi. Hal tersebut kadang mengubah manusia bijak menjadi liar dan jahat.

Baca Juga: Khofifah Indar Parawansa Ajak Masyarakat Jawa Timur Semakin Budayakan Literasi dengan Aktif Baca Buku

Di pihak lain, politik sangat meneror kehidupan, menghancurkan kehidupan, juga hilangnya sifat-sifat luhur kemanusiaan. 

Louis Leahy: refleksi-refleksi aliran intelektual, ketika melihat strukturisme yang bersifat ideologi akan dapat mengakibatkan apa yang disebut "kematian manusia".

Hal senada juga disampaikan oleh C. Levi-Strauss: bahwa tujuan ilmu-ilmu manusia bukanlah membentuk manusia, melainkan menghancurkannya.

Baca Juga: Gunung Semeru di Jawa Timur Kembali Erupsi Dengan Letusan Abu Vulkanik Setinggi 1,5 Km

Hubungan sosial politik sering tercederai karena beda pemahaman, pilihan dan sugesti berlebihan. Sehingga logika dipermainkan, rasa cinta dimanipulasi menjadi kebencian.

Lebih parahnya mendem politik (mabuk politik), telah menjadi gaya hidup masyarakat hedonis. 

Baik kaum elit atau masyarakat telah terpenjara oleh nafsu, ambisi, kebrutalan, dapat menghancurkan siapa saja, baik lawan maupun kawan. Di sinilah geopolitik, ekokultural, diperlakukan oleh kaum kuasa dengan banalnya. 

Baca Juga: Banjir Lahar Dingin Semeru Akibatkan Sejumlah Jembatan Putus di Lumajang, Jawa Timur, Warga Mengungsi

Tidak ada musyawarah mufakat, tidak ada empati, keadilan serta kesejahteraan yang diperjuangkan. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, bahwa sesungguhnya manusia adalah binatang politik, kejam dan ganas, kehidupannya selalu merasa terancam. 

Sehingga sering memunculkan tragedi dan menyedihkan juga terciptanya jiwa-jiwa yang sakit. Semua itu dibalut oleh ketidakpuasan, ambisi menjadi tuhannya.

Yang menyedihkan semua tindakan tersebut dibalut oleh kebaruan, logika, etik, moral dengan narasi-narasi luhur yang penuh kebohongan.

Baca Juga: Sastri Bakry: Beban Berat Ibu dan Anak

Intinya demokrasi tidak saja milik elit politik, akan tetapi juga milik setiap individu, dibingkai oleh kesetaraan yang dilindungi oleh undang-undang negara bangsa. 

Kekacauan ini disebut jaman kegelapan, dalam masyarakat Jawa, zaman ini adalah jaman kaliyuga, juga disebut cakra manggilingan, diibaratkan sebuah roda yang selalu berputar dan berubah yaitu owah gingsir. 

Jagad manungsa dengan segala perilakunya merupakan ritus kala, waktu yang berputar dengan semua perubahan apakah menjadi kebaikan, atau justru kejahatan yang silih berganti memimpin jagad. 

Baca Juga: Tiga Wisatawan Asal Gresik Terseret Ombak Pantai Paseban Jember, Jawa Timur, Satu di Antaranya Meninggal

Manusia telah kehilangan kemanusiaannya, berubah menjadi Bathara Kala, Bathara adalah Dewa dan Kala adalah waktu. Ditandakan bahwa Dewa dengan serakah memakan matahari, karena ingin menghancurkan semesta alam.

Itulah gambaran tentang dampak dunia owah gingsir, banyak memunculkan aktor-aktor yang bersemayam di wilayah abu-abu, tidak jelas sikapnya dan amat merugikan keberlangsungan kehidupan manusia. 

Tanda ini juga memunculkan bahwa demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Baca Juga: Mohammad Agung Ridlo: Perlu Masukkan Penanggulangan Bencana ke Dalam Penataan Ruang untuk Kurangi Risiko

Tentang Karya: Ide karya visual (dua dimensi) dibuat atas fenomena yang terjadi di dalam jagad perpolitikan, berkecenderungan menisbikan nilai-nilai luhur lama.

Yaitu terkait dengan perilaku manusia yang mendem politik di dalam dunia kontemporer, sebuah kondisi yang selalu berubah (owah gingsir).

Karya-karya tersebut tidak berpihak pada politik praktis, tidak memihak, akan tetapi lebih kepada kecenderungan kontemplatif. Adapun karya-karya yang dipamerkan dibuat mulai tahun 2010 hingga 2023 akhir. 

Baca Juga: Fakultas Bahasa dan Seni UNP dan Delegasi IMLF Akan Berkolaborasi Dalam Sebuah Pertunjukan Seni dan Bahasa

Lokasi dan Tanggal Pameran:

Mulai Jumat 2 Februari sampai 8 Februari 2024

Kerjasama Pondok Seni Batu & SATUPENA JAWA TIMUR

Baca Juga: Satrio Arismunandar: Bencana Alam Hadirkan Pertanyaan Eksistensial tentang Makna Hidup dan Absurditas Keberadaan Manusia

di Galeri Raos Jalan Panglima Sudirman 6, Nggalik, Kota Batu

Pameran Lukisan Tunggal Slamet Hendro Kusumo

Pameran BUKUKITA SATUPENA JATIM

Baca Juga: Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Tak Persoalkan Kerja Sama Politik Daerah untuk Usung Khofifah di Pilkada Jawa Timur

Ini akan dimeriahkan dengan pembacaan puisi karya Penyair Eko Windarto, Didik Soemintarjo, Ingit Mreta Claritas, Suci Arnani, Zainul Muttaqin dkk. serta di buka langsung oleh Profesor Dr. Drs. Wahyudi M.Si., sebagai Ketua Dewan Pakar SATUPENA JAWA TIMUR. 

Tujuan dan Goal:

Bersifat edukasi kepada masyarakat agar memahami anatomi kegaduhan politik, tidak saja yang bersifat naratif akan tetapi juga fakta-fakta dan pengalaman empirik, bagaimana seorang individu berpartisipasi aktif di dalam pertumbuhan Negara Bangsa. 

Baca Juga: KH Mukti Ali Qusyairi: NU dan Muhammadiyah Pernah Gunakan Metode yang Sama untuk Tentukan Hari Besar Keagamaan

Maksudnya bahwa keberadaan demokrasi perlu ditinjau kembali secara serius. Di mana bahwa politik demokrasi telah berpaling dari filosofi ideal. 

*Slamet Hendro Kusumo, Ketua Dewan Penasehat SATUPENA JAWA TIMUR 

**Akaha Taufan Aminudin, Ketua SATUPENA JAWA TIMUR 

Baca Juga: Satrio Arismunandar: Turki Jadi Contoh Negara Muslim yang Lakukan Transformasi Kalender Islam dari Rukyat ke Hisab

Kota Batu Jawa Timur, 17 Januari 2024 ***

Sumber: Satupena Jawa Timur

Berita Terkait