Caleb Pomeroy: Dengan Kekuatan Besar Datang Ketidakamanan Besar
Oleh Caleb Pomeroy, kolumnis Foreign Affairs
ORBITINDONESIA.COM - Sebuah premis dasar menyatukan sebagian besar pemikiran kebijakan luar negeri: kekuatan melahirkan keamanan. Karena tidak ada kekuatan polisi global yang dapat merespons di saat-saat sulit, negara-negara harus mengakumulasi kekuatan untuk memastikan keamanan mereka.
Mereka harus membangun militer yang kuat untuk melindungi tanah air mereka dan mempertahankan kepentingan internasional yang vital. Mereka perlu memelihara ekonomi yang kuat untuk mendanai militer tersebut dan menahan tekanan keuangan.
Gagasan-gagasan ini telah memotivasi strategi selama berabad-abad, termasuk kebijakan dua negara terkuat di dunia saat ini. Presiden AS Donald Trump mengejar peningkatan militer dan kemandirian ekonomi untuk mencegah musuh, sebuah kebijakan yang oleh para penasihatnya disebut "perdamaian melalui kekuatan."
Sementara itu, pemimpin Tiongkok Xi Jinping menginvestasikan uang ke Tentara Pembebasan Rakyat dan sektor manufaktur untuk menjadikan negaranya "mandiri dan kuat."
Memang benar bahwa kekuatan dapat meningkatkan keamanan dalam hal materi semata. Tetapi keamanan juga merupakan fenomena psikologis. Para pemimpin dan warga negara sama-sama menginginkan militer yang besar agar merasa aman, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Namun, hampir tidak ada penelitian psikologis yang mendukung gagasan bahwa perasaan aman selaras dengan statistik objektif tentang kekuatan material.
Bahkan, bukti menunjukkan sebaliknya: kekuasaan membuat orang lebih skeptis terhadap niat orang lain dan dengan demikian meningkatkan kecemasan. Ternyata, yang kuat jauh lebih cenderung daripada yang lemah untuk melewatkan analisis yang cermat dan beralasan ketika mengambil keputusan.
Sebaliknya, mereka menilai ancaman berdasarkan insting dan bertindak impulsif. Sementara yang lemah tahu bahwa mereka harus berpikir kritis untuk menavigasi lingkungan mereka, yang kuat membayangkan mereka dapat mengandalkan stereotip dan jalan pintas mental lainnya untuk bertahan hidup. Akibatnya, yang kuat memandang dunia dalam istilah yang suram dan terlalu disederhanakan, sehingga menimbulkan kecurigaan dan kecemasan.
Untuk melihat apakah temuan psikologis ini berlaku untuk hubungan internasional, saya meneliti bagaimana elit kebijakan luar negeri dan orang biasa berpikir tentang kekuasaan negara dan persepsi ancaman.
Saya secara khusus melihat pemikiran para pembuat keputusan Amerika selama Perang Dingin, para pembuat kebijakan Rusia sebelum invasi Moskow ke Ukraina pada tahun 2022, dan masyarakat Tiongkok dan Amerika kontemporer. Temuan saya jelas. Negara-negara yang lebih kuat, seperti orang-orang yang lebih berkuasa, cenderung lebih tidak aman daripada negara-negara yang lebih lemah.
Para pemimpin dan warga negara mereka membayangkan atau melebih-lebihkan ancaman. Mereka berpikir secara impulsif. Dan mereka mudah terpicu. Akibatnya, mereka lebih cenderung mendukung dimulainya dan meningkatnya perang daripada individu yang merasa negara mereka lemah.
Temuan ini memiliki implikasi yang kurang menguntungkan. Saat ini, dunia ditandai oleh persaingan kekuatan besar yang kembali memanas, khususnya antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Masing-masing pihak berusaha untuk memperoleh lebih banyak kekuasaan daripada pihak lain, sebagian besar untuk merasa lebih aman.
Tetapi strategi ini kemungkinan akan memiliki efek yang berlawanan dari yang dimaksudkan. Jika Washington menjadi lebih kuat, mereka akan semakin yakin bahwa Beijing adalah ancaman. Jika Beijing menjadi lebih kuat, mereka akan memandang tindakan Washington di sekitarnya sebagai ancaman yang lebih besar.
Hasilnya bisa berupa lingkaran setan: seiring setiap negara menjadi lebih mampu, mereka akan merasa lebih tidak aman, yang mendorong peningkatan kekuatan militer lebih lanjut yang semakin meningkatkan kecemasan masing-masing pihak.***