Ryan Ojol dan Kebaikan yang Bertumbuh dari Pekerja Gig di Jalanan
Di linimasa media sosial, kita sudah terlalu akrab dengan kisah para YouTuber dan influencer kaya raya yang membagikan uang, ponsel, atau barang mahal kepada orang lain. Kamera menyala, angka jutaan views meningkat, dan kebaikan kerap hadir bersamaan dengan viralitas konten. Namun, di antara riuh itu, ada satu sosok yang bergerak sunyi dari jalanan kota tanpa rumah produksi, tanpa sponsor besar, ia adalah Ryan Ojol.
Ryan adalah seorang driver ojek online, bukan selebritas. Ia menghabiskan hari-harinya di atas motor, menembus panas, hujan, dan kemacetan kota. Di sela pekerjaannya sebagai driver ojek online, Ryan juga aktif membuat daily vlog yang merekam kehidupan para pengemudi ojol di jalanan, tentang penumpang, tentang sesama driver, serta tentang suka duka mencari nafkah di tengah jalanan yang tak selalu mudah.
Melalui akun Instagram @ryan_nus dan kanal YouTube Ryan Ojol, Ryan menghadirkan potret keseharian yang apa adanya, jujur, sederhana, dan dekat dengan realitas kehidupan para pekerja gig, yang hidup jauh dari kemapanan.
Yang membuat Ryan berbeda bukan sekadar konten ojolnya, melainkan pilihannya untuk berbagi di tengah keterbatasan. Ia kerap membagikan sepatu, ponsel, atau kebutuhan lain kepada sesama driver ojol, orang tua di jalanan, hingga mereka yang ditemuinya secara tak terduga. Bukan dari kelebihan harta, melainkan dari hasil menabung sedikit demi sedikit.
Salah satu kisah yang membuat namanya dikenal luas adalah ketika Ryan bercerita tentang menabung dalam waktu lama demi membeli sepatu impiannya sendiri. Sepatu itu bukan simbol gaya, melainkan tanda perjuangan. Namun, dari kisah itu pula publik melihat perubahan arah: sepatu yang dulu menjadi impian, kini justru sering ia hadiahkan kepada orang lain. Seolah Ryan ingin mengatakan, bahwa kebahagiaan tak selalu berhenti di diri sendiri.
Dalam beberapa kontennya, Ryan juga menggalang donasi secara kolektif, bukan untuk sensasi, melainkan untuk membantu sesama driver ojol yang sakit, kesulitan ekonomi, atau sedang tertimpa musibah. Ia tidak memosisikan diri sebagai pahlawan.
Ia berdiri sejajar, sebagai teman seperjalanan. Donasi yang terkumpul mungkin tak selalu besar, tetapi cukup untuk menguatkan: bahwa di jalanan, masih ada solidaritas.
Ryan tidak menjual pencitraan. Ia menjual kejujuran hidup. Itulah yang membuat kontennya menyentuh. Tak jarang, momen berbagi yang ia unggah diiringi air mata, bukan air mata dramatis, melainkan air mata manusia yang merasa dilihat dan dihargai. Caption sederhana, tagar #ojol, dan kamera ponsel yang seadanya justru memperkuat pesan: kebaikan tak perlu panggung megah.
Di tengah budaya digital yang sering mengukur nilai dari jumlah like dan views, Ryan menghadirkan narasi tandingan. Bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Bahwa membantu tidak harus viral. Bahwa profesi apa pun, termasuk tukang ojek, punya ruang untuk menjadi sumber inspirasi.
Ryan Ojol mengingatkan kita pada satu hal penting: kemanusiaan sering lahir dari mereka yang paling memahami rasa kekurangan. Dari jalanan yang keras, ia menumbuhkan empati. Dari penghasilan yang pas-pasan, ia menyisihkan untuk orang lain. Dari motor yang terus berjalan, ia mengajak kita berhenti sejenak, untuk melihat, merasakan, dan peduli.
Di negeri yang sering memuja keberhasilan instan, Ryan hadir sebagai pengingat bahwa nilai hidup tidak selalu lahir dari puncak, melainkan dari ketekunan, kejujuran, dan keberanian untuk berbagi di tengah keterbatasan.