Izzatunnisa dan Gaya Menulis Anak Muda dari Pulau Besar

“Mulailah menulis, jangan pedulikan apa pun. Air tidak akan mengalir hingga keran dibukakan.”
Louis L’Amour

ORBITINDONESIA.COM - “Puisi esai kini kembali digandrungi. Ia terasa lebih ‘kare’ dibandingkan jenis puisi lainnya—lebih lentur dalam menuangkan ide, pilihan kata, dan unek-unek penulis. Mungkin demikian yang sedikit saya pahami tentang genre puisi ini. Soal pakarnya, tentu ada di tangan maestro seperti Pak Denny JA.”

Demikian tanggapan penyair Ahmad Gusairi dalam grup WhatsApp Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) Bangka Selatan, Rabu pagi, 14 Januari 2026, ketika ditanya tentang gaya menulis Izzatunnisa, penulis muda asal Pulau Besar, Bangka Selatan.

Dua karya Izzatunnisa—mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung—telah dimuat di media daring OrbitIndonesia.com dengan judul “Absolutisme di Balik Cakrawala Nirwana” dan “Sisyphus di Menara Sampah: Litani Gadis yang Terhenti.” Keduanya memperlihatkan keberanian estetik sekaligus kedewasaan gagasan yang jarang ditemui pada penulis seusianya.

Gaya menulisnya sarat dengan diksi yang hidup, dibalut makna yang tidak dangkal. Pembaca bukan sekadar diajak membaca, melainkan diajak mengalami. Ada pesona, ada getaran, ada keheningan yang bekerja di balik kata-kata.

Penyair Habang Yul Haidir bahkan menyebut karya-karya Izzatunnisa sebagai puisi “berkasta tinggi”, dengan susunan kata yang seolah meniupkan ruh literasi ke dalam bahasa. Sebuah pujian yang tidak berlebihan jika melihat keberanian metafor dan kepadatan makna yang dihadirkannya.

Apa pun nama dan klasifikasi genre tulisannya—puisi esai, prosa liris, atau bentuk hibrida lainnya—karya Izzatunnisa adalah rangkaian keindahan kata yang tidak terbelenggu oleh pakem berirama. Ia bebas, namun tetap bertanggung jawab pada makna.

Sering kali kita terjebak dalam perdebatan panjang tentang definisi dan teori genre, hingga lupa pada hal yang paling esensial: menulis itu sendiri. Padahal, menulis adalah seni yang memikat—memancarkan daya tarik melalui kata-kata yang dirangkai dengan kesadaran, kejujuran, dan keberanian.

Jangan biarkan gagasan brilian lenyap tanpa jejak. Pikiran-pikiran itu perlu diabadikan lewat tulisan agar dapat dibaca khalayak luas, menjadi bagian dari ingatan kolektif, dan kelak menjadi warisan peradaban.

Tulisan-tulisan Izzatunnisa seakan membuka gerbang dunia: pembaca diajak memaknai diksi dan metafor melalui gaya personal yang khas. Di sinilah letak kekuatan seorang penulis—bukan pada kepatuhan kaku terhadap aturan, melainkan pada kualitas dan efek yang ditimbulkan pada pembaca.

Gaya menulis bukan sekadar persoalan teknis. Ia bersifat retoris dan komunikatif—tentang bagaimana bahasa bekerja, bagaimana kata menyentuh, mengguncang, atau justru menenangkan pembacanya. Memainkan kata-kata adalah kemewahan intelektual yang, bila dikelola dengan baik, akan memperkuat gagasan dan memperjelas sikap penulis.

Lebih dari sekadar identitas, gaya penulisan dapat meningkatkan kualitas keseluruhan karya. Ia membangun kepercayaan pembaca dan perlahan menghadirkan pembaca-pembaca baru yang datang karena ciri khas.

Izzatunnisa memberi kita pelajaran penting: menulislah dengan caramu sendiri, dengan identitasmu, dengan keberanian khas kaum muda yang tidak takut berbeda.

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin.
Ia akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Pramoedya Ananta Toer

(Oleh Iyek Aghnia, nama pena Rusmin Sopian, penulis dan pegiat literasi yang tinggal di Toboali, Bangka Selatan) ***

Keterangan foto: Rusmin Sopian dan siswa SMAN 1 Payung.