Ali Samudra: Tafakur Dalam Kehidupan Muslim Modern

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Tafakur kerap disalahpahami sebagai lamunan kosong atau berpikir berlebihan yang berpotensi menggoyahkan iman. Padahal dalam Islam, tafakur justru merupakan cara iman bertumbuh secara dewasa.

Tafakur bukan berpikir tanpa arah, melainkan merenung dengan kesadaran berada di hadapan Allah. Ia adalah refleksi yang menempatkan manusia pada posisinya yang tepat: sebagai makhluk yang terbatas, bergantung, dan bertanggung jawab.

Sholat ditunaikan, tetapi tidak selalu mengubah cara berpikir. Dzikir dibaca, tetapi tidak selalu melunakkan hati. Doa dipanjatkan, tetapi tidak selalu melahirkan kejujuran diri.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita beribadah, melainkan: apakah ibadah itu masih bekerja sebagai jalan kesadaran?

Di titik inilah tafakur menemukan relevansinya kembali—bukan sebagai tambahan amalan, bukan pula sebagai praktik elitis, melainkan sebagai poros yang menghidupkan seluruh bangunan ibadah.

Al-Qur’an dan Kesadaran: Ibadah Dimulai dari Berpikir

Jika Al-Qur’an dibaca secara jujur, satu pola akan tampak jelas: Allah tidak memulai hubungan-Nya dengan manusia dari ritual atau hukum, tetapi dari kesadaran. Pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti afalaa tatafakkaruun, afalaa  ta'qilun dan afala yatadabbaruun berulang kali diajukan.

Dorongan Al-Qur’an terhadap tafakur, tadabbur, dan penggunaan akal tersebar luas dalam banyak ayat, antara lain QS. Al-Baqarah: 219, QS. Al-A‘raf: 184, QS. An-Nahl: 44, dan QS. Ali ‘Imran:190–191. Para mufasir klasik maupun modern sepakat bahwa ayat-ayat ini menunjukkan Islam sebagai agama kesadaran, bukan sekadar kepatuhan ritual.

Lebih dari 250 ayat Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir, memperhatikan, dan merenungkan makna kehidupan—suatu jumlah yang jauh melampaui ayat-ayat hukum. Ini menegaskan bahwa Islam tidak dibangun di atas kepatuhan mekanis, melainkan di atas kesadaran manusia yang hidup dan hadir di hadapan Allah.

QS. Ali ‘Imran 190–191: Poros Kesadaran Ibadah

QS. Ali ‘Imran ayat 190–191—sebuah rangkaian ayat yang dapat disebut sebagai arsitektur  kesadaran ibadah. Ayat ini tidak memulai pembicaraan dari perintah ritual, melainkan dari kesadaran kosmik: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Yang dipuji bukan orang yang banyak amal, melainkan mereka yang menggunakan akalnya untuk menangkap makna.

Ayat berikutnya menyempurnakan struktur ibadah Islam: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka bertafakur tentang penciptaan langit dan bumi.” Hampir tidak ada celah dari seluruh aktifitas hidup manusia, yaitu berdiri - duduk - berbaring -  semuanya seolah menjadi lahan bertafakur.

Doa yang muncul setelahnya—“Tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia”- bukan doa hafalan, melainkan kesimpulan batin dari kesadaran yang terbangun. Tafakur di sini tidak berhenti pada kekaguman kosmik, tetapi berujung pada kesadaran moral dan tanggung jawab akhirat.

Ketika Tafakur Hilang: Ritual Menjadi Autopilot

Inilah salah satu penyakit utama keberagamaan kita.  Ritual dijalankan dengan disiplin, jadwal ibadah terjaga, dan simbol kesalehan terpenuhi. Namun ketika tafakur absen, ibadah perlahan berubah menjadi autopilot spiritual—dikerjakan tanpa kehadiran penuh, tanpa dialog batin, dan tanpa pergolakan kesadaran. Ibadah tetap berlangsung, tetapi daya transformasinya melemah.

Dalam kondisi ini, ibadah bahkan berpotensi menjadi hijab rohani. Bukan karena ibadah itu salah, melainkan karena ia memberi rasa aman palsu: merasa sudah saleh, merasa sudah dekat dengan Tuhan, padahal batin belum sungguh-sungguh hadir di hadapan-Nya. Di titik ini, ritual bukan lagi jalan untuk terbangun, tetapi justru menjadi selimut yang meninabobokan kesadaran. Tafakur yang hilang membuat ibadah kehilangan fungsi kritiknya terhadap ego dan kehidupan, sehingga agama berhenti sebagai kebiasaan, bukan sebagai proses pembentukan jiwa.

Tafakur dalam Sholat: Menghidupkan Ibadah dari Dalam

Sholat adalah tiang agama; tafakur adalah ruh yang membuat tiang itu bermakna. Tanpa tafakur, sholat tetap berdiri secara fiqh, tetapi hampa secara batin. Tafakur menghadirkan sholat sebagai peristiwa eksistensial, di mana manusia tidak sekadar melakukan kewajiban, tetapi menyadari posisinya di hadapan Allah.

Berdiri dalam sholat menghadirkan kesadaran identitas: siapa aku, dan di hadapan siapa aku berdiri. Ruku melatih kerendahan ego dan pengakuan keterbatasan—bahwa tidak semua dapat dikendalikan oleh kehendak manusia. Sujud menjadi puncak kepasrahan dan kejujuran terdalam, ketika manusia meletakkan pusat kesadarannya serendah mungkin di hadapan Yang Maha Tinggi. Tanpa tafakur, semua gerakan itu tetap ada. Namun dengan tafakur, jiwa ikut bersujud, dan sholat kembali berfungsi sebagai ruang pembentukan kesadaran, bukan sekadar pemenuhan kewajiban.

Sayyidul Istighfar: Doa sebagai Manifestasi Tafakur

Di antara doa yang diajarkan Nabi SAW, Sayyidul Istighfar menempati posisi yang istimewa—bukan karena panjang lafaznya, tetapi karena kedalaman kesadaran yang dikandungnya. Jika doa ini dibaca dengan kacamata tafakur, maka tampak jelas bahwa setiap kalimatnya adalah satu lapisan kesadaran eksistensial manusia.

Kalimat pembuka, “Allahumma anta rabbī”, bukan sekadar pengakuan teologis. Ia adalah pembongkaran ilusi kemandirian manusia. Di sini seseorang berhenti sejenak dan menyadari bahwa hidupnya tidak berdiri sendiri; ada Zat yang mengatur, memelihara, dan menentukan arah.

Ungkapan “lā ilāha illā anta” melanjutkan kesadaran itu dengan pelepasan berhala-berhala halus: ego, prestasi, pengakuan sosial, dan rasa cukup pada diri sendiri. Ini adalah tafakur tauhid dalam bentuk paling jujur.

Ketika doa itu berkata, “khalaqtanī wa anā ‘abduka”, manusia dipaksa menatap identitasnya dengan jernih: ia makhluk, bukan pusat. Ia hamba, bukan pemilik kendali mutlak. Di titik ini, kesombongan spiritual runtuh tanpa perlu dipatahkan oleh kata-kata keras.

Bagian “wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu” adalah puncak kejujuran diri. Tidak ada klaim kesempurnaan. Tidak ada pembelaan diri. Yang ada hanyalah pengakuan: aku berusaha semampuku. Inilah tafakur yang membebaskan manusia dari kepura-puraan religius. Kemudian datang kalimat yang paling berat bagi ego modern:

“a‘ūdzu bika min sharri mā shana‘tu” — aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Bukan menyalahkan keadaan. Bukan menyalahkan orang lain. Tetapi mengakui tanggung jawab moral secara utuh.

Selanjutnya, “abū’u laka bini‘matika ‘alayya” adalah tafakur syukur: melihat nikmat Allah bukan sebagai hak, tetapi sebagai karunia. Dan “wa abū’u bidzanbī” adalah tafakur dosa: keberanian mengakui kesalahan tanpa topeng kesalehan.

Doa ini ditutup dengan kalimat yang sangat menentukan: “faghfir lī fa innahu lā yaghfirudz-dzunūba illā anta”. Di sini, seluruh sandaran dilepaskan. Tidak ada lagi harapan pada amal, reputasi, atau simbol kesalehan. Yang tersisa hanyalah rahmat Allah.

Di sinilah kita melihat bahwa tafakur dalam Islam tidak berhenti pada pikiran, tetapi berujung pada doa yang jujur dan merendahkan diri. Sayyidul Istighfar menjadi manifestasi nyata dari tafakur sebagaimana digambarkan dalam QS. Ali ‘Imran 190–191: kesadaran kosmik yang berujung pada pengakuan diri dan permohonan keselamatan.

Tafakur dalam Kehidupan Modern

Tafakur tidak berhenti di sajadah. Ia hadir saat gagal, saat sukses, saat kehilangan, dan saat diuji. Tafakur mengubah pertanyaan manusia dari “mengapa ini terjadi?” menjadi “apa makna dan tanggung jawabku?”

Di era media sosial yang serba reaktif, tafakur menjadi penanda kedewasaan iman: diam sebelum menilai, merenung sebelum menghakimi, dan sadar sebelum bereaksi.

QS. Ali ‘Imran 190–191 telah memberi peta yang utuh: dzikir yang menyertai hidup, tafakur yang menerangi makna, doa yang lahir dari kesadaran, dan tanggung jawab moral yang nyata.

Tafakur bukan kemewahan spiritual, melainkan kebutuhan muslim modern agar tidak kehilangan dirinya di tengah kesibukan beragama. Jika ibadah adalah perjalanan, maka tafakur adalah kesadaran bahwa kita sedang berjalan—dan di sanalah ibadah kembali menemukan maknanya sebagai jalan pulang manusia kepada Tuhannya.***

Pondok Kelapa, 16 Januari 2026

(Pengantar Diskusi Ba'da Sholat Jumat, 16 Januari 2026 Masjid Baitul Muhajirin - Pondok Kelapa - Jakarta Timur)

*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin. ***