Syaefudin Simon: Isra Mi’raj dalam Perspektif Rumi
Oleh Syaefudin Simon, penulis Satupena Jakarta.
ORBITINDONESIA.COM - Isra Mi’raj sering kita baca sebagai peristiwa agung: sebuah perjalanan fisik dan ruhani Nabi Muhammad menembus batas bumi dan langit. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha.
Namun bagi Jalaluddin Rumi, penyair sufi yang menari bersama semesta, Isra Mi’raj bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah undangan abadi—perjalanan yang terus berlangsung di dalam jiwa setiap manusia.
Rumi tidak memandang Mi’raj sebagai monopoli satu tubuh, satu waktu, satu sejarah. Baginya, Mi’raj adalah kemungkinan batin. “Jangan kira Mi’raj hanya milik Nabi,” seolah ia berbisik, “karena setiap hati yang jatuh cinta pada Tuhan akan menemukan sayapnya sendiri.”
Dalam pandangan Rumi, Buraq bukanlah makhluk bersayap semata, melainkan hasrat suci—kerinduan yang murni—yang mengangkat jiwa melampaui beratnya ego.
Isra adalah perjalanan horizontal: perpindahan dari satu titik ke titik lain. Rumi menafsirkan ini sebagai perjalanan manusia di dunia—dari ambisi menuju makna, dari keramaian menuju kesadaran.
Kita berjalan, bekerja, mencinta, terluka. Semua itu adalah Isra: gerak di bumi yang sering melelahkan. Tetapi Mi’raj, kata Rumi, adalah saat jiwa berhenti berjalan dan mulai terbang.
Mi’raj bukan soal jarak, melainkan pelepasan. Semakin banyak yang kita lepaskan—kesombongan, kebencian, rasa paling benar—semakin ringan jiwa ini.
Dalam syair-syairnya, Rumi berulang kali menegaskan: Tuhan tidak ditemukan di langit ketujuh, jika hatimu masih penuh debu. Sidratul Muntaha bukan alamat kosmik, melainkan batas terakhir bahasa dan nalar.
Di sana, kata-kata menyerah, dan cinta mengambil alih. Ketika Nabi bertemu Tuhan tanpa perantara, Rumi melihatnya sebagai puncak keheningan. Bukan dialog ramai, melainkan kesatuan yang sunyi.
“Diamlah,” kata Rumi, “karena cinta telah berbicara.” Dalam perspektif ini, salat—yang dihadiahkan dalam peristiwa Mi’raj—bukan kewajiban kaku, melainkan latihan harian untuk naik. Setiap takbir adalah sayap, setiap sujud adalah pelepasan diri.
Rumi mengajak kita membaca Isra Mi’raj dengan cermin ke dalam. Berapa kali kita masih tertahan di Masjidil Haram ego?
Berapa kali kita belum sampai ke Aqsa hati—tempat yang jauh, sunyi, dan jujur? Dan berapa kali kita takut terbang karena terlalu mencintai beban kita sendiri?
Bagi Rumi, Mi’raj sejati tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi mengembalikannya dengan cinta. Nabi turun kembali ke bumi, bukan untuk bersembunyi di langit.
Itulah pesan terdalam Mi’raj: setelah melihat Yang Maha Tinggi, tugas manusia adalah merawat yang paling rendah—sesama, yang lemah, yang terluka.
Isra Mi’raj, dalam pandangan Rumi, adalah puisi yang tak pernah selesai ditulis. Ia hidup setiap kali seseorang memilih cinta daripada amarah, keheningan daripada kebisingan, makna daripada kekuasaan.
Dan setiap kali itu terjadi, langit tidak lagi jauh—ia bersemi di dalam dada manusia.***