Catatan dari Kediaman Dubes Iran: Ketika Solidaritas Mengoyak Ilusi Konflik Sunni-Syiah
Oleh Irsyad Mohammad
Pengamat Geopolitik dan Timur Tengah. Alumni Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan mahasiswa S2 Paramadina Graduate School of Islamic Studies (PGSI).
ORBITINDONESIA.COM- Syahdan pada tanggal 10 Ramadhan 1447H bertepatan dengan 28 Februari 2026M, dunia dikejutkan dengan syahidnya Walayatul Faqih Ayatullah Al-‘Uzma Marja’i Taqlid Imam Ali Khamenei, Sang Pemimpin Tertinggi Iran (Rahbar) akibat bom yang dijatuhkan oleh serangan gabungan pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat.
Pertama kali saya terbangun dari tidur saya selepas subuh, siang-siang di kamar saya mendengar kabar tersebut di grup Whatsapp saya syok, saya berusaha tidak percaya akan kabar tersebut dan langsung googling buat cari berita tentang hal tersebut. Mata saya terbelalak, tidak menyangka kabar tersebut benar. Awalnya kabar itu sempat disangkal Kementerian Luar Negeri Iran, baru kemudian IRIB, kantor berita resmi Iran kemudian mengkonfirmasi kabar tersebut.
Pikiran saya sempat kosong dan terdiam seribu bahasa, saya tidak menyangka di bulan Ramadhan di mana umat Islam sedunia sedang berpuasa dan khusyuk dalam ibadahnya, tiba-tiba dibangunkan dari larutan doanya. Bagaimana tidak? Imam Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran dibunuh dalam ledakan bom di mana ia meninggal bersama keluarganya – ia syahid bersama istrinya, putrinya, menantu laki-laki dan perempuan, juga cucu perempuannya.
Hal yang tidak habis pikir terdapat SD perempuan di mana 82 siswi tidak berdosa dan bersalah, dibunuh dalam serangan bom pesawat tempur itu yang jelas-jelas melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia. Apa salah siswi-siswi SD tidak berdosa itu sehingga mereka harus dibunuh? Hal yang jelas bahwa pembunuh terhadap anak-anak tak berdosa tidak dapat dibenarkan oleh alasan apa pun.
Solidaritas Islam Melampaui Mazhab
Saya membuka media sosial, beritanya ramai oleh kabar syahidnya Imam Ali Khamenei. Beberapa sahabat-sahabat saya bahkan keluarga turut mengucapkan belasungkawa untuk beliau di story, posting, ataupun status di medsos, di situ saya terharu lantaran banyak Muslimin Indonesia yang menghormati beliau karena kegigihan dan keberanian beliau sendirian melawan Amerika Serikat dan Israel.
Iran sebagai negara Muslim satu-satunya di Timur Tengah yang paling berani pasang badan membela Palestina dan menghadapi embargo ekonomi dari Amerika Serikat dan Bloknya, bahkan menjadi satu-satunya negara Islam di Timur Tengah yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat.
Hal yang paling memukau dari semua ini ialah banyak orang-orang yang mengucapkan bela sungkawa dan dukungan adalah orang-orang Muslim Sunni di Indonesia, bahkan saya banyak pejabat, public figure, influencer, dan ulama Sunni, bahkan non-Muslim sekalipun yang mendukung Iran dan mengucapkan belasungkawa atas Imam Ali Khamenei dan Iran.
Hal ini menarik mengingat Indonesia sendiri mayoritas Muslim Sunni, namun kampanye anti-Syi’ah rupanya tidak benar-benar mempan. Rupanya rakyat Indonesia menyadari bahwa kampanye anti-Syi’ah tidak lain dari propaganda zionis Israel dan imperialis Amerika Serikat yang hendak memecah belah persatuan umat Islam dan kebulatan tekad umat Islam untuk membela Palestina.
Kemanusiaan rupanya tidak melihat sekat-sekat agama hingga mazhab, tidak perlu menjadi Syi’ah untuk membela perjuangan Iran dalam melawan imperialisme Amerika Serikat dan zionis Israel. Cukup menjadi manusia dan punya hati nurani berdiri serta menyuarakan anti terhadap penindasan dan penjajahan. Sekalipun kita tidak selalu bisa melawan dengan perbuatan, selemah-lemahnya iman adalah melawan dalam hati begitu kata Rasulullah SAW.
Gelombang Simpati yang Tak Terduga
Saya mendapatkan kabar dari beberapa teman bahwa Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia mengadakan open house pada Kamis, 5 Maret 2026 di kediaman Dubes Iran di kawasan Menteng, tidak jauh dari Masjid Sunda Kelapa. Acara tersebut dimaksudkan untuk memberikan petisi dukungan dan pesan belasungkawa kepada Ayatullah Al-‘Uzma Imam Ali Khamenei serta rakyat Iran yang sedang berduka karena kehilangan pemimpinnya.
Hal ini menarik perhatian saya. Ketika tiba di sana, saya melihat rumah kediaman Dubes Iran dipadati oleh banyak sekali pengunjung dari berbagai kalangan. Hampir semuanya mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda duka.
Yang menarik, bukan hanya Muslim Syiah yang datang. Banyak sekali Muslim Sunni yang turut hadir. Bahkan beberapa non-Muslim juga terlihat ikut berdiri dalam antrian untuk menuliskan pesan simpati di buku tamu yang disediakan.
Namun ada satu pemandangan yang benar-benar tidak saya duga.
Di tengah kerumunan itu, saya bertemu seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja di Jakarta. Ia datang secara pribadi untuk menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran. Ia bahkan secara terbuka menyebut Israel sebagai penjajah dan menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina.
Pria itu mengatakan sesuatu yang cukup menggetarkan hati saya. Ia mengaku merasa malu terhadap sikap pemerintah negaranya sendiri dan meminta maaf kepada Dubes Iran untuk Indonesia, atas meninggalnya Ayatulla Ali Khamenei. Ia juga mengatakan bahwa banyak rakyat Amerika Serikat sebenarnya menentang perang dan ia mengatakan Israel adalah penjajah yang menjajah Palestina, sama seperti Belanda yang pernah menjajah Indonesia. Tentu hal ini membantah klaim bahwa rakyat Amerika Serikat mendukung Israel dan setuju atas invasi Amerika Serikat ke Iran.
Orang Amerika Serikat itu mewakili sikap rakyat Amerika Serikat yang menentang perang terhadap Iran. Bagi banyak rakyat Amerika Serikat, tidak masuk akal jika uang pajak rakyat Amerika dipakai untuk membiayai perang yang pada akhirnya lebih banyak melayani kepentingan geopolitik Israel daripada kepentingan rakyat Amerika sendiri.
Saya sempat terdiam mendengar ucapannya.
Di tengah berbagai narasi yang sering menggambarkan dunia dalam garis pemisah yang tegas antara Barat dan Timur, ternyata ada seorang warga Amerika Serikat yang berdiri di ruang tamu rumah Dubes Iran untuk menyampaikan simpati kepada rakyat Iran.
Peristiwa kecil itu terasa begitu simbolik.
Ia seakan menjadi pengingat bahwa kebenaran tidak selalu bisa disembunyikan oleh framing dan propaganda media internasional. Di balik berbagai narasi besar yang diproduksi oleh kekuatan politik global, masih ada manusia-manusia biasa yang mampu melihat kenyataan dengan hati nurani mereka sendiri.
Solidaritas yang saya lihat hari itu terasa melampaui banyak batas.
Melampaui batas negara.
Melampaui batas agama.
Bahkan melampaui batas mazhab.
Saya pun mulai menyadari bahwa narasi tentang dunia yang selalu terpecah oleh identitas sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan yang ada di lapangan.
Kadang justru di ruang-ruang sederhana seperti ruang tamu rumah seorang duta besar, kita bisa melihat wajah kemanusiaan yang lebih jujur daripada apa yang sering digambarkan dalam peta geopolitik dunia.
Senja Ramadhan di Masjid Sunda Kelapa
Selepas meninggalkan kediaman Dubes Iran bersama kawan-kawan saya, langkah kaki saya membawa saya berjalan menuju Masjid Sunda Kelapa yang tidak terlalu jauh dari sana. Senja Ramadhan mulai turun perlahan di langit Jakarta. Cahaya matahari yang mulai redup memantul di halaman masjid yang mulai dipenuhi jamaah yang menunggu waktu berbuka.
Saya duduk di salah satu sudut kantin masjid sambil menunggu adzan Maghrib.
Suasana di sana terasa kontras dengan keramaian yang baru saja saya tinggalkan. Di dalam masjid orang-orang duduk dengan tenang. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berbincang pelan, ada pula yang sekadar menatap langit senja sambil menunggu waktu berbuka.
Namun pikiran saya masih terus kembali kepada apa yang baru saja saya lihat di rumah Dubes Iran.
Saya teringat pada wajah-wajah orang yang datang hari itu. Wajah mahasiswa, aktivis, tokoh masyarakat, warga biasa, warga negara Iran di Indonesia yang berduka atas kematian pemimpinnya hinnga seorang warga Amerika yang secara terbuka mengkritik kebijakan negaranya sendiri.
Saya juga teringat pada satu pertanyaan yang sejak lama sering muncul dalam berbagai diskusi tentang Timur Tengah.
Benarkah umat Islam selalu terpecah karena konflik mazhab?
Ataukah perpecahan itu sebenarnya sering kali dibesar-besarkan oleh narasi politik global yang membutuhkan dunia Islam tetap terbelah?
Ketika azan Maghrib akhirnya berkumandang di masjid, saya mengambil kurma yang dibagikan sebagai takjil. Di sekeliling saya orang-orang mulai berbuka dengan sederhana.
Kurma, air putih, dan sedikit makanan ringan.
Di tengah suasana sederhana itu, saya menyadari satu hal.
Bahwa di balik semua perbedaan agama, ideologi politik, dan identitas, manusia tetap memiliki satu bahasa yang sama: bahasa kemanusiaan.
Barangkali justru bahasa itulah yang hari itu saya lihat di rumah Dubes Iran, lalu saya renungkan kembali di kantin Masjid Sunda Kelapa saat senja Ramadhan perlahan turun di langit Jakarta.***