Kisah Pengorbanan Erika di Depok: “Ia Menahan Truk, Agar Orang Lain Bisa Pulang”

ORBITINDONESIA.COM - Pagi itu di tanjakan Depok. Sebuah truk bermuatan berat gagal menanjak dan meluncur mundur. Klakson bersahutan. Panik langsung menyebar di jalana–sebab di belakang truk– para pemotor tak punya ruang untuk lari.

Di situlah Erika, seorang Bhayangkari– berada balik kemudi mobilnya. Erika paham betul apa yang sedang mengarah kepadanya: besi, beban, dan kemungkinan maut.

Ia bisa saja membanting setir dan menyelamatkan diri. Tetapi di belakangnya ada manusia-manusia yang akan lebih dulu menjadi korban. Maka perempuan perkasa ini memilih diam di tempat, dan sengaja "membiarkan" diri dan mobilnya menjadi "benteng"–menahan laju truk itu.

Dentuman keras terdengar, Fortuner nya ringsek berat. Mengerikan. Tapi para pengemudi motor di belakangnya selamat. Mereka bisa kembali ke rumah dan keluarganya masing-masing dengan utuh.

Di zaman ini–ketika lebih banyak orang bertanya: "apa untungnya buat saya?" Erika menjawab dengan tindakan altruis: mendahulukan orang lain–sebagai refleksi nilai bahwa "kemanusiaan tak pernah meminta imbalan".

Erika melakukannya bukan demi pujian, apalagi sorotan. Ia tak sempat memikirkan itu semua. Ia bahkan "kehilangan" mobil. Tapi pada saat yang sama ia mengajarkan sebuah nilai utama yang bahkan jarang dimiliki para pemimpin negeri ini:

"bahwa keberanian terbesar adalah mendahulukan hidup orang lain, bahkan ketika hidup kita sendiri sedang dipertaruhkan".

Dunia tidak kekurangan orang pintar (apalagi yang sok pintar), tapi dunia selalu merindukan manusia yang mau berdiri di depan bahaya agar orang lain bisa selamat.

(Oleh Herry Tjahjono) ***