Asrul Sani Abu: Mengapa Warkop Azzahrah, Memiliki Jaringan Warkop Terbanyak di Sulawesi?
Oleh Asrul Sani Abu
ORBITINDONESIA.COM - Awal bulan. Awal tahun. Awal niat.
Saya duduk ngopi selepas zuhur. Bukan ngopi biasa. Ini ngopi yang mengandung rencana. Ngopi yang berbicara tentang masa depan. Dua jam lebih kami larut dalam percakapan tanpa terasa waktu bergerak pelan, seperti sengaja memberi ruang untuk kita berfrekuensi bersama.
Di hadapan saya duduk H. Abdullah M. Umar. Pemilik jaringan warung kopi dengan cabang terbanyak di Sulawesi: lebih dari 20 outlet. Usianya kepala empat. Masih muda. Jauh lebih muda dari saya yang sudah kepala lima. Tapi dari cara bicaranya, dari cara ia menimbang kata, saya tahu: ini bukan anak muda biasa.
Kami membicarakan kolaborasi. Tentang Azzahrah Group. Tentang mimpi yang tidak kecil: menuntaskan jaringan Sulawesi Selatan, lalu keluar. Menyapa nasional.
Bahkan ibu kota. Targetnya jelas 2040: menjadi jaringan warung kopi terbesar di Indonesia.
Namun yang membuat pertemuan ini istimewa bukan jumlah cabang. Bukan peta ekspansi. Bukan proyeksi omzet.
Yang membuat saya diam-diam terpesona adalah nilai yang dipegang.
Kami bicara tentang sistem kerja sama syariah. Tentang profit sharing yang adil. Tentang bisnis yang tidak sekadar menghitung cuan, tapi juga berkah.
Tentang pendiri Azzahrah yang sejak awal menanamkan satu prinsip sederhana namun mahal: bisnis harus mendekatkan, bukan menjauhkan, dari Allah.
Setiap outlet, kata beliau, harus memudahkan orang beribadah. Ada musala. Atau setidaknya masjid yang dekat. Karena rezeki bukan hanya soal uang yang masuk, tapi juga doa yang tidak terputus.
H. Abdullah mengulang satu hadis Nabi dengan nada tenang namun tegas: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Lalu ia bicara soal niat. Apakah bisnis ini hanya untuk diri sendiri? Untuk keluarga? Atau untuk umat?
Penampilannya? Sederhana. Sikapnya? Ramah. Kehidupannya? Membumi.
Ia masih mengantar dan menjemput anak-anaknya. Tujuh orang jumlahnya. Ia menikmati kebersamaan itu, seolah semua kesibukan bisnis tidak pernah lebih penting daripada keluarga.
Namun ada satu disiplin yang tidak bisa ditawar: sistem keuangan.
Walaupun ia pemilik, setiap makan dan minum tetap dihitung. Dicatat sebagai BPO biaya pengambilan owner. Anak, istri, bahkan orang tua tetap bayar. Semua diperhitungkan saat pembagian profit per tiga bulan. Tegas. Rapi. Adil.
Ada satu cerita yang membuat saya benar-benar berhenti menilai dengan ukuran biasa. Anaknya, Fatimah Azzahrah. Masih kuliah. Namun bekerja sebagai pelayan di Warkop Azzahrah.
Banyak orang heran. Banyak yang bingung. Anak pemilik warkop terbesar di Sulsel melayani tamu.
Di situlah pendidikan karakter bekerja. Diam-diam. Dalam.
Dalam pertemuan itu hadir pula Pak Khairuddin, pengusaha furnitur dan perumahan yang memperkenalkan saya dengan beliau. Kami berdua mendengarkan kisah lain yang membuat dada terasa lapang: sedekah subuh.
Setiap hari. Seratus ribu rupiah. Bahkan saat sempit. Ditambah satu kebiasaan yang jarang disebut orang sukses: selalu meminta petunjuk kepada Allah, dan selalu meminta doa dan arahan kepada ibu.
Saya pulang dari pertemuan itu dengan satu perasaan: hormat. Bukan karena skala bisnisnya. Tapi karena arah hidupnya.
Semoga 2027 Azzahrah Group sudah melangkah melebarkan cabangnya ke nasional.
Dan suatu hari nanti, kita tidak hanya mengenal Azzahrah sebagai jaringan warkop terbesar, tetapi juga sebagai contoh bahwa bisnis bisa tumbuh tanpa kehilangan jiwa.
Dan beliau juga berminat untuk menambah outlet warkop di properti kami di area Malengkeri sebagai area sibuk yang sudah lama menjadi incarannya.
Setelah 2 jam rapat selesai. Ia pamit. Ia harus menjemput anak pulang sekolah.
Ia menutup pertemuan dengan doa bersama, dengan al fatihah dan terima kasih. Dengan harapan agar persahabatan ini tumbuh menjadi kemitraan yang baik di masa depan.
Ngopi selesai. Niat baru saja dimulai, karena segala sesuatu sesuai dengan niatnya. Dan sesuai dengan persangkaan kita. Kitapun berjanji untuk mengatur pertemuan kembali untuk melakukan action selanjutnya.
(Asrul Sani Abu, penulis buku Catatan Ngopi dan Pengurus APINDO SULSEL) ***