Bank Indonesia: Aktivitas Manufaktur Kuartal IV-2025 Masih Ekspansif

ORBITINDONESIA.COM - Aktivitas manufaktur kuartal IV-2025 masih ekspansif. Bank Indonesia (BI) melaporkan, Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) kuartal IV-2025 sebesar 51,86%, lebih tinggi dibanding 51,66% kuartal III-2025. Skor ini tertinggi sejak kuartal II-2024.

Berdasarkan komponen pembentuknya hampir semua komponen, volume produksi, volume persediaan barang jadi, dan volume total pesanan, berada di zona ekspansif (>50). Dua komponen, kecepatan penerimaan barang input dan jumlah tenaga kerja, mencatatkan kontraksi (<50). Untuk kuartal I-2026, BI memperkirakan PMI-BI berada di 53,17%.

Berdasarkan Sub Lapangan Usaha (Sub-LU), sebagian besar berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman, Industri Barang Galian Bukan Logam, serta Industri Makanan dan Minuman.

Skor PMI-BI sejalan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), yaitu kinerja kegiatan LU Industri Pengolahan tetap kuat dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) 1,18%. 

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI mengindikasikan kegiatan usaha pada kuartal IV-2025 lesu. Itu tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,61%, melambat dibanding kuartal III-2025 yang 11,55% dan kuartal IV-2024 yang 12,46%.

Meski melambat, Kinerja mayoritas lapangan usaha (LU) tercatat positif dengan SBT tertinggi pada lapangan usaha jasa keuangan, perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor.

Lalu, industri pengolahan, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Selanjutnya, informasi dan komunikasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

Dari sisi produksi, kapasitas produksi terpakai pada kuartal IV-2025 sebesar 73,15%, lebih rendah dari kuartal III-2025 yang tercatat sebesar 73,84%. Sementara keuangan usaha, menurut BI, secara umum tetap dalam kondisi baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas dengan akses kredit yang lebih mudah. 

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih tertekan pekan ini, seiring kuatnya sentimen eksternal. Hari ini pukul 13.15 WIB, rupiah melemah 0,22% ke Rp 16.925/USD. Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah akan berlanjut hingga mendekati Rp 17.100/USD dalam waktu dekat.

Data ekonomi domestik yang cukup bagus, menurut dia, belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah. Tekanan justru datang dari eksternal, mulai ketegangan geopolitik hingga arah kebijakan bank sentral global.

Ke depan, menurut Ibrahim, pemerintah perlu kembali mengoptimalkan kebijakan stimulus, khususnya untuk mendorong daya beli masyarakat. Langkah itu penting agar penguatan rupiah memiliki basis fundamental dari dalam negeri.

Ia memperingatkan, kalau tekanan global terus berlanjut, nilai tukar rupiah berpeluang menuju Rp 17.500/USD, bahkan bisa terjadi sejak kuartal II-2026.

Dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan struktural, termasuk rencana redenominasi rupiah, yang menurutnya bisa membantu menahan laju pelemahan rupiah.***