Blontank Poer: Jokowi Memang Layak Dimusuhi - Catatan Seorang #buzzerRp
Oleh Blontank Poer, wartawan/kolumnis
ORBITINDONESIA.COM - Andai Pak Jokowi tidak meninggalkan banyak kenangan baik bagi masyarakat se-Nusantara... Andai Pak Jokowi mau memuaskan kepentingan para politisi, terutama elitnya…
Mungkin ia tidak akan mengalami gangguan hingga hari ini, dan entah sampai kapan. Saya yakin, menjelang Pemilu 2029, serangan akan kian brutal.
Perbaikan infrastruktur jalan darat ada banyak. Tol Trans Jawa, jalan Trans Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Lampung hingga Padang hampir terhubung tol sepenuhnya.
Sementara, program Dana Desa telah menyulap jalan-jalan perdesaan yang dulu jelek, terutama di pedalaman (baik Jawa, Sumatra maupun luar Jawa lainnya) menjadi jauh lebih bagus.
Akibatnya, biaya logistik menjadi murah. Sayur atau buah-buahan hasil pertanian bisa dibawa sendiri ke pasar tidak lewat tengkulak. Keuntungan bisa dimaksimalkan. Begitu pun komoditas dagangan dari Lampung ke pedalaman Jawa bisa dikirim lebih cepat, mengurangi jumlah yang membusuk akibat antrian panjang masuk kapal di Bakauheni.
Tak mengagetkan jika aneka survei menjelang berakhirnya masa jabatan kepresidenan, popularitas Pak Jokowi masih di atas 75 persen. Dan, Pak Jokowi tidak membeda-bedakan proses pembangunan wilayah.
Daerah yang dikenal tidak banyak mendukung kemenangannya dalam pemilu (seperti Sumatra Barat) tak lantas dikucilkan dari proyek perbaikan wilayah. Beda banget dengan zaman Orde Baru, di mana suatu daerah pemilunya dimenangkan PDI atau PPP, jangankan jalan jadi bagus. Listrik saja tak akan kunjung tersambung.
***
Politisi Indonesia hanya mengenal dua pilihan: berteman sosok populer, atau membunuh popularitas orang lain.
Seseorang yang popularitasnya tinggi akan diajak berteman demi keuntungan diri dan kelompoknya. Sebaliknya, jika tidak bisa dirangkul, akan dihabisi kredibilitasnya. Asumsinya, jika netral sekalipun berpotensi mengganggu. Sebab dia bisa mendukung lawan politiknya dalam kompetisi atau rivalitas.
***
Sejak 2022 akhir, saya meyakini dukungan personal Pak Jokowi akan mengarah ke Prabowo, jika kontestasi pilpres akan diikuti Anies, Ganjar dan Prabowo. Pak Jokowi tahu karakter Anies, sebab pernah jadi jubir kampanye dan menterinya. Sedang terhadap Ganjar, beliau jelas lebih paham.
Andai ada kandidat keempat, mungkin akan dipertimbangkan arah dukungannya. Itu ramalan saya. Dan, dibandingkan Anies atau Ganjar, Prabowo lebih unggul dalam banyak hal. Ya soal jam terbang, reputasi politik, kemampuan finansial, dan banyak lagi. Tetapi, yang utama adalah: Prabowo jauh lebih mandiri, berdaulat atas dirinya sendiri!
Lihat saja hingga sekarang, meski sisi negatifnya bisa diprediksi (dan terbukti), tak ada satu elit atau kekuatan politik dan ekonomi yag berani melawan Pak Prabowo. Itu kunci dan faktual!
Soal dalam negeri bisa diurus lewat aneka cara negosiasi. Namun ketika berhadapan dengan negara-negara besar (termasuk tokoh kunci ekonominya), saya yakin Pak Prabowo lebih bisa bernegosiasi dengan kepala tegak. Berani setara, seperti yang dilakukan Pak Jokowi dulu.
Pak Jokowi sangat paham geopolitik. Juga sangat mengerti perilaku politik elit dan oligarki di dalam negeri. Bagaimana membangun relasi dengan kekuatan-kekuatan sosial-budaya-politik di dalam negeri pun dihitungnya secara cermat.
Maka, tak aneh jika sejak masih menjabat hingga sekarang, semua yang nyata jejak relasionalnya, akan dihabisi. Kedekatannya dengan Pak Prabowo berusaha dihancurkan sedemikian rupa.
Pun kedekatannya dengan kiai-kiai dan tokoh NU dari pusat hingga daerah, akan disoal terus. Apalagi, aliansi Jokowi-NU cukup efektif untuk meminggirkan kelompok-kelompok Islam pragmatis, juga yang menjadi proksi internasionalisasi paham Islam sektarian dan politis, sehingga selama sepuluh tahun terakhir terasa lebih adem dinamika politik nasional kita.
Saya curiga, apa yang diutarakan Islah Bahrawi dengan menyeret dan mengadu domba Pak Jokowi dengan Gus Yaqut lewat polemik kuota haji, sudah dirancang dan diperhitungkan dengan matang. Entah ada hubungannya dengan kekuatan politik kalah pilpres atau tidak, tapi penegasan Ferdinand Hutahaean yang lompat ke PDIP dari Demokrat juga layak dicermati.
Jangan-jangan, itu masuk bagian dari proyek mendeligitimasi Pak Jokowi. Tujuan jangka pendeknya, agar dalam Pemilu mendatang tidak punya lagi power yang memadai.
Sebab ke mana arah dukungan politik Pak Jokowi, bukan tidak mungkin akan diikuti para pecintanya. Setidaknya, ratusan orang yang tiap hari datang berkunjung, yang tidak menyusut jumlahnya sejak Pak Jokowi pulang kampung seusai menjabat. ***