Resensi Buku Indonesia dalam Secangkir Kopi Karya Dinno Brasco
Pendahuluan: Ketika Bangsa Dibaca dari Meja Warung Kopi
ORBITINDONESIA.COM- Indonesia dalam Secangkir Kopi (2021 cetakan pertama, cetakan keempat 2024) karya Dinno Brasco merupakan sebuah karya reflektif yang menjadikan kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium pembacaan sosial, politik, dan kebudayaan Indonesia. Pertama kali terbit pada tahun 2021 dan telah mengalami empat kali cetak, buku yang direview ini adalah cetakan keempat tahun 2024, menandakan daya hidup gagasannya yang terus relevan dan menemukan pembaca baru.
Buku ini tidak lahir dari ruang akademik yang steril, melainkan dari pengalaman lapangan seorang aktivis yang lama bergumul dengan realitas masyarakat akar rumput, dinamika organisasi keagamaan, serta denyut sejarah bangsa yang bergerak pelan namun penuh ketegangan. Dinno Brasco menulis dengan kesadaran bahwa Indonesia tidak selalu bisa dipahami melalui statistik, pidato elite, atau laporan kebijakan negara. Ada Indonesia lain yang hidup di warung kopi, di teras pesantren, di sela-sela rapat organisasi, dan dalam percakapan santai yang kerap luput dari perhatian wacana resmi.
Dalam buku ini, kopi hadir sebagai simbol kebersamaan, ruang dialog, dan jeda refleksi. Ia menghangatkan, mengumpulkan, dan memperlambat waktu. Dari secangkir kopi, Dinno mengajak pembaca membaca Indonesia dengan cara yang lebih manusiawi, lebih sabar, dan lebih jujur.
Isi dan Alur Pemikiran: Kopi sebagai Metafora Sosial
Secara tematik, Indonesia dalam Secangkir Kopi bergerak dari pengalaman personal menuju refleksi kolektif. Dinno Brasco menggunakan analogi yang puitis yakni kopi sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan-persoalan besar bangsa: identitas, keberagaman, relasi agama dan negara, politik kekuasaan, hingga problem ketimpangan sosial. Setiap refleksi lahir dari pengalaman konkret, bukan dari abstraksi teoritis yang jauh dari kenyataan hidup.
Buku ini tidak memaksakan narasi besar tentang Indonesia. Ia justru membiarkan cerita-cerita kecil berbicara. Percakapan di warung kopi, dinamika kaderisasi organisasi, perjumpaan lintas kelas sosial, dan pengalaman hidup di tengah masyarakat menjadi bahan baku utama pembacaan sosial. Dari situ, pembaca diajak menyadari bahwa Indonesia bukan entitas tunggal yang seragam, melainkan mosaik pengalaman yang sering kali saling bertabrakan, tetapi tetap terikat oleh rasa kebangsaan yang rapuh sekaligus bertahan.
Kopi dalam buku ini berfungsi sebagai metafora ruang demokrasi sosial. Di warung kopi, status sosial mencair. Perbedaan pandangan tidak selalu berujung pada konflik. Perdebatan dapat berlangsung tanpa harus saling meniadakan. Dinno menangkap ruang-ruang semacam ini sebagai laboratorium sosial Indonesia, tempat nilai toleransi, dialog, dan kebijaksanaan lokal masih hidup meski sering terdesak oleh politik identitas dan polarisasi.
Namun buku ini tidak jatuh pada romantisme. Dinno tetap kritis terhadap realitas sosial yang keras: kooptasi kekuasaan, kemiskinan struktural, melemahnya etika publik, serta kecenderungan menjadikan agama sebagai alat mobilisasi politik. Kritik tersebut disampaikan dengan nada reflektif, bukan kemarahan ideologis. Ia lebih memilih mengajak pembaca berpikir ulang, merenung, dan menimbang, daripada menghakimi.
Gaya Penulisan dan Sikap Intelektual
Salah satu kekuatan utama Indonesia dalam Secangkir Kopi terletak pada gaya penulisannya yang cair, komunikatif, dan reflektif. Dinno Brasco menulis seolah sedang berbincang langsung dengan pembaca. Bahasanya sederhana, tetapi tidak dangkal. Di balik kesederhanaan itu, terdapat kesadaran historis dan sosial yang matang.
Dinno tidak menampilkan diri sebagai guru yang menggurui atau ideolog yang mengklaim kebenaran tunggal. Ia memosisikan dirinya sebagai sesama warga bangsa yang sedang berpikir keras tentang Indonesia. Sikap intelektual ini membuat buku terasa jujur dan terbuka. Pembaca tidak dipaksa untuk sepakat, tetapi diajak berdialog dan merefleksikan pengalaman masing-masing.
Dalam buku ini, agama, khususnya Islam, hadir sebagai sumber etika sosial, bukan sebagai identitas eksklusif atau alat legitimasi kekuasaan. Islam dibaca sebagai nilai yang mendorong keadilan, keberpihakan pada yang lemah, dan tanggung jawab moral terhadap bangsa. Pendekatan ini menjadikan buku ini relevan bagi pembaca lintas latar belakang, baik religius maupun nonreligius.
Konteks Sosial dan Posisi Buku
Buku ini lahir di tengah situasi Indonesia yang mengalami polarisasi identitas, ketegangan politik, dan kelelahan publik terhadap konflik wacana yang bising. Dalam konteks tersebut, Indonesia dalam Secangkir Kopi hadir sebagai suara yang menenangkan tanpa menjadi apatis. Ia menawarkan jeda berpikir di tengah kegaduhan, mengajak bangsa ini untuk duduk sejenak, menyeruput kopi, dan berbicara dengan kepala dingin.
Posisi buku ini menarik karena berada di antara esai kebudayaan, catatan aktivisme, dan refleksi kebangsaan. Ia tidak terjebak dalam jargon akademik, tetapi juga tidak kehilangan kedalaman analisis. Karena itu, buku ini dapat dibaca oleh mahasiswa, aktivis, kader organisasi, maupun masyarakat umum yang gelisah melihat arah perjalanan bangsa.
Relevansi bagi Indonesia Hari Ini
Empat tahun sejak pertama kali diterbitkan, dan kini hadir dalam cetakan keempat tahun 2024, Indonesia dalam Secangkir Kopi justru terasa semakin relevan. Di era media sosial yang serba cepat, reaktif, dan emosional, buku ini mengajarkan pentingnya kelambatan berpikir. Ia mengingatkan bahwa memahami bangsa tidak bisa dilakukan dengan reaksi instan, melainkan dengan kesediaan mendengar, merasakan, dan merenung.
Buku ini juga menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh elite politik atau kebijakan negara, tetapi oleh percakapan sehari-hari warganya. Dari warung kopi hingga ruang organisasi, dari diskusi kecil hingga pertemuan panjang, masa depan Indonesia diseduh sedikit demi sedikit.
Penutup: Merawat Indonesia dari Hal-Hal yang Sederhana
Indonesia dalam Secangkir Kopi adalah buku yang sederhana dalam bentuk, tetapi serius dalam isi. Ia tidak menawarkan solusi instan, tidak pula menjanjikan teori besar tentang Indonesia. Namun justru karena itu, buku ini terasa jujur dan membumi.
Dinno Brasco menunjukkan bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus melalui retorika heroik atau slogan besar. Cinta itu juga hadir dalam kesediaan untuk duduk bersama, menerima perbedaan, dan berpikir pelan tentang masa depan bersama. Seperti menikmati secangkir kopi, pahit namun menghangatkan, buku ini mengajak pembaca merawat Indonesia dengan kesadaran sehari-hari.
Buku ini layak dibaca sebagai refleksi kebangsaan yang manusiawi, tenang, dan penuh tanggung jawab moral. Ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar proyek politik, melainkan pengalaman hidup yang harus terus dirawat, satu percakapan demi satu percakapan.***