Trump dan Ambisi Greenland: Sejarah Pembelian Wilayah AS

ORBITINDONESIA.COM – Keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland mengingatkan kembali sejarah panjang Amerika Serikat dalam ekspansi wilayah melalui pembelian dan perebutan. Keberhasilan atau kegagalan misi ini akan menentukan hubungan internasional dan posisi strategis AS.

Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, kini menjadi pusat perhatian dunia karena ambisi Amerika Serikat untuk mengakuisisinya. Langkah ini, jika berhasil, akan menjadi salah satu pembelian wilayah terbesar sejak Alaska. Namun, ancaman terhadap stabilitas NATO dan implikasi geopolitik lainnya menjadikan hal ini lebih rumit dari sekadar transaksi jual beli biasa.

Pembelian Alaska dari Rusia pada tahun 1867 menjadi salah satu contoh penting bagaimana AS memperluas wilayahnya. Dengan harga USD7,2 juta, kesepakatan ini awalnya dianggap tidak menguntungkan. Namun, demam emas Yukon dan nilai strategisnya selama Perang Dunia II menegaskan pentingnya keputusan tersebut. Sejarah ini memberikan perspektif berharga dalam memahami motivasi AS terhadap Greenland.

Ambisi Trump untuk mencaplok Greenland dapat dipandang sebagai upaya memperkuat dominasi AS di kawasan Arktik yang kaya sumber daya. Namun, pendekatan ini mengundang kritik dari berbagai pihak, termasuk sekutu di Eropa yang khawatir akan dampaknya terhadap aliansi NATO. Selain itu, implikasi etis dan legal dari rencana ini menimbulkan pertanyaan tentang hak-hak penduduk asli Greenland dan kedaulatan negara.

Apakah usaha AS untuk memiliki Greenland akan berakhir sebagai pencapaian strategis atau justru menjadi bumerang diplomatik? Sejarah pembelian wilayah seperti Alaska mengajarkan bahwa keputusan besar dapat memiliki konsekuensi yang tak terduga. Hanya waktu yang akan menjawab apakah upaya ini akan memperkuat atau justru melemahkan posisi Amerika Serikat di panggung dunia.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Januari 2026)