Lidia Arista: Hangatnya Ilmu Bersama Bundo Sastri Bakry

Oleh Lidia Arista

ORBITINDONESIA.COM - Siang itu, jarum jam baru saja melewati pukul setengah dua. Udara dingin menusuk hingga ke tulang, seolah langit enggan berbagi kehangatan. Namun, cuaca yang muram tak sedikit pun melunturkan semangat kami. Hari ini bukan hari biasa. Aku, Kak Anisa, Kak Nidit, Kak Aisyah, dan Naswa telah membulatkan tekad menuju Rumah Gadang (RG), Sekretariat Keluarga Mahasiswa Minangkabau (KMM), untuk menjemput ilmu dan bertemu sosok Bundo yang luar biasa—baik dalam relasi maupun keluasan pengetahuannya.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Tepat pukul setengah tiga sore, kaki kami menapak di depan sekretariat. Tak lama berselang, kawan-kawan dari Dewan Pengurus KMM—Bang Anca dan rekan-rekan—hadir meramaikan suasana. Di ruang yang sederhana namun terasa akrab seperti rumah sendiri, kami menanti sosok yang kehadirannya telah lama kami dambakan.

Tak lama kemudian, ia hadir. Sastri Yunizarti Bakry, yang akrab kami sapa Bundo Sastri. Kehadirannya seketika mencairkan kebekuan. Wajahnya teduh, memantulkan pengalaman hidup yang panjang sebagai birokrat sekaligus sastrawan besar. Tak ada jarak yang ia bangun. Meski berkiprah sebagai Widyaiswara Ahli Utama Kementerian Dalam Negeri dan dikenal sebagai tokoh kebudayaan Minangkabau yang mendunia, ia menyapa kami dengan kehangatan seorang ibu kepada anak-anaknya di perantauan.

“Apa kabar kalian, Anak Rantau?” tanyanya lembut.
Kalimat sederhana itu langsung meruntuhkan dinding kecanggungan. Kami duduk melingkar, saling memperkenalkan diri. Percakapan mengalir ringan namun akrab, membincangkan kehidupan di tanah rantau. Tawa kami pecah berulang kali—seolah menjadi perapian imajiner yang mengalahkan dinginnya cuaca di luar. Ruangan itu mendadak hangat oleh rasa persaudaraan.

Azan Ashar pun berkumandang, memanggil kami untuk bersimpuh sejenak kepada Sang Pencipta. Seusai salat, aroma yang begitu akrab mulai menyeruak dari arah dapur. Wangi cabai yang ditumis dan gurihnya santan yang menyusut—tak diragukan lagi, itu mahakarya Bang Abdul dan kawan-kawan.

Nostalgia di Atas Sufrah

“Makan sudah siap!” seru Bang Anca.
Dengan sigap, ia membentangkan sufrah di lantai. Alas makan sederhana itu seketika menjadi panggung bagi hidangan yang menghadirkan nostalgia kampung halaman. Suasana mengingatkan kami pada tradisi bajamba di ranah Minang. Bang Fuadi diminta menyampaikan sepatah dua patah kata sambutan sekaligus memimpin doa.

Lalu tibalah saatnya menyantap hidangan. Di hadapan kami tersaji Samba Lado Tanak. Suapan pertama seolah menghentikan waktu. Pedas, gurih, dan aroma khasnya tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyentuh relung hati terdalam. Ada rindu yang tiba-tiba menggenang—rindu pada rumah, pada orang tua. Lauk itu terasa seperti pelukan dari kampung halaman. Samba Lado Tanak ini benar-benar menjadi obat rindu paling mujarab, dimasak dengan cinta oleh Bang Abdul dan kawan-kawan. Ucapan terima kasih mengalir tulus, meski sering kali hanya terucap dalam hati.

Literasi dan Jejak Sejarah

Perut kenyang, tetapi dahaga akan ilmu belum terobati. Usai makan, suasana menjadi lebih hening dan reflektif. Bundo Sastri mulai bertutur. Ia membagikan perjalanan hidupnya, prestasi yang diraih, serta karya-karyanya yang telah melanglang buana hingga ke berbagai negara. Namun yang ia sampaikan bukanlah kebanggaan diri, melainkan pesan yang menohok kesadaran kami.

“Menulislah, karena dengan menulis kalian sedang mencetak sejarah. Literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi cara kita memahami dunia dan meninggalkan jejak bagi kehidupan,” pesannya.

Kami tertegun. Ada haru yang mengendap pelan. Di hadapan kami berdiri sosok perempuan Minangkabau yang tangguh, cerdas, dan tetap rendah hati. Bundo Sastri menjadi bukti nyata bahwa akar budaya yang kuat mampu membawa seseorang terbang tinggi tanpa kehilangan tanah pijakan.

Tak terasa, azan Maghrib berkumandang. Kami salat berjamaah, lalu melanjutkan obrolan singkat sebelum Bundo pamit. Esok pagi, ia harus bertolak ke bandara menuju Kuala Lumpur. Jadwalnya padat, namun ia tetap meluangkan waktu berjam-jam bersama kami—para mahasiswa perantau.

Ujian di Perjalanan Pulang

Malam kian larut ketika kami meninggalkan sekretariat. Kami, para banat, pulang bersama menggunakan bus yang sama. Namun perjalanan pulang menyimpan “kejutan”. Di tengah jalan yang gelap, bus yang kami tumpangi mengalami kendala teknis. Sopir meminta seluruh penumpang turun dan berpindah ke bus lain. Dalam dingin yang kembali menggigit dan kepanikan kecil, kami berpindah armada.

Masalah belum usai. Bus kedua justru menurunkan kami di titik yang jauh dari tujuan. Kami harus berjalan cukup jauh di bawah temaram lampu jalan. Rasa cemas muncul saat kami menyeberangi jalan besar dengan kendaraan yang melaju kencang.

Setelah perjuangan yang mendebarkan, kami akhirnya mendapatkan angkot. Di dalam angkot yang berguncang pelan, kelelahan mulai terasa. Namun di balik itu, senyum kecil tersungging di wajah kami masing-masing. Kami pulang membawa lebih dari sekadar perut yang kenyang. Kami membawa semangat Bundo Sastri, aroma Samba Lado Tanak yang masih melekat, serta kesadaran baru: untuk mencetak sejarah, perjalanan memang tak selalu mulus, tetapi ilmu adalah bekal paling berharga untuk terus melangkah.

Malam itu, di bawah langit perantauan, kami belajar bahwa kehangatan sejati tidak datang dari cuaca, melainkan dari pertemuan yang bermakna.

Lidia Arista, Mahasiswi Universitas Al-Azhar, Mesir. ***