Denny JA: Mengangkat Korban Sejarah yang Dilupakan Statistik

- Pengantar Buku Puisi Esai Diakui Dunia, karya Narudin Pituin, 2026

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Sejarah sering ditulis dalam angka.
Enam juta korban Holocaust.
Lima puluh juta tewas akibat Flu Spanyol.
Empat puluh juta mati kelaparan di bawah Revolusi Mao.

Angka-angka itu rapi, presisi, dan dingin. Ia memenuhi tabel, grafik, dan buku pelajaran. Namun sejarah yang hanya berupa angka adalah sejarah tanpa wajah, tanpa napas, tanpa tangisan.

Di situlah buku Puisi Esai Diakui Dunia mengambil posisi yang berbeda, bahkan melawan arus.

Buku ini menunjukkan bahwa puisi esai bukan sekadar inovasi bentuk sastra, melainkan tindakan moral: sebuah ikhtiar untuk mengembalikan manusia ke dalam sejarah yang telah terlalu lama dibekukan oleh statistik.

Puisi esai bekerja dengan cara yang sunyi tetapi radikal. Ia tidak menolak fakta; justru ia berangkat dari fakta: dari arsip, laporan, dan catatan kaki.

Namun fakta itu tidak dibiarkan membeku. Ia dipanaskan oleh imajinasi liris, hingga korban yang selama ini tersembunyi di balik angka kembali memiliki suara.

Dalam puisi esai, enam juta korban bukan lagi “enam juta”.
Ia menjadi seorang ibu yang menunggu surat yang tak pernah sampai.
Ia menjadi seorang anak yang memeluk boneka terakhirnya.
Ia menjadi seorang prajurit yang ragu, seorang algojo yang menyesal, seorang pengungsi yang karam tanpa nama.

Buku ini mengingatkan kita bahwa tragedi terbesar umat manusia bukan hanya pembunuhan massal, melainkan ketika korban bahkan tidak lagi diingat sebagai manusia.

-000-

Isu yang dibahas buku ini tidak berhenti pada pengembalian wajah korban sejarah. Ia bergerak lebih jauh.

Buku ini membentangkan beberapa poros penting: sastra sebagai tindakan, bukan sekadar estetika; puisi sebagai ruang empati global; serta hubungan erat antara bahasa, kekuasaan, dan ingatan kolektif.

Buku ini juga menyelami ketimpangan geopolitik sastra dunia yang terlalu lama dimonopoli satu poros peradaban. Kanon sastra global kerap disusun dari satu arah, sementara pengalaman Asia, Afrika, dan Amerika Latin diperlakukan sebagai pinggiran, bukan pusat makna.

Melalui pembacaan atas puisi esai, buku ini menegaskan bahwa Global South menyimpan denyut kemanusiaan yang sama sahihnya untuk menjadi pusat imajinasi dunia. Luka sejarah di selatan bukan catatan kaki peradaban, melainkan bagian utama dari cerita manusia modern.

Di dalamnya, Narudin Pituin membaca puisi esai bukan sebagai puisi yang sekadar “dikomentari”, melainkan sebagai genre yang sedang lahir. Ia membedahnya dengan ketelitian semiotik, dengan kesabaran akademik, dan dengan empati seorang penyair.

Buku ini adalah dokumentasi intelektual, sekaligus arsip sejarah sastra: tentang bagaimana sebuah bentuk baru berjuang, dipertanyakan, disalahpahami, lalu perlahan diakui.

Narudin Pituin, sebagai penulis buku ini, berdiri pada posisi yang jarang. Ia adalah sastrawan, penerjemah, sekaligus kritikus sastra.

Ia tidak menulis sebagai penggemar, melainkan sebagai saksi intelektual. Ia menempatkan puisi esai dalam peta teori sastra dunia dan mengujinya dengan pendekatan semiotika.

Ia juga membandingkannya dengan tradisi yang telah mapan, lalu menunjukkan mengapa puisi esai bukan sekadar gaya, melainkan genre.

-000-

Menurut Narudin, dalam sejarah sastra dunia, pengakuan terhadap genre baru adalah peristiwa langka. Realisme magis mengubah cara kita membaca Amerika Latin. Surealisme mengacak batas sadar dan bawah sadar. Absurdisme merangkum kegelisahan manusia modern.

Puisi esai berdiri di barisan yang sama, namun dengan watak zamannya sendiri. Jika realisme magis menyatukan realitas dan mitos, maka puisi esai menyatukan fakta dan empati.

Jika absurdisme merayakan ketidakbermaknaan, puisi esai justru menuntut tanggung jawab moral terhadap makna.

Pengakuan dunia melalui BRICS Literature Award 2025 for Literary Innovation untuk Denny JA  bukan sekadar penghargaan personal. Ia adalah penanda bahwa dunia sastra sedang membuka ruang baru: ruang bagi genre yang berani memikul luka sejarah tanpa melepaskan keindahan bahasa.

-000-

Membaca buku karya Narudin, saya teringat dua buku yang relevan untuk memperkaya analisis.

Pertama, The Black Book of Communism, karya Stéphane Courtois (editor) dkk, terbit tahun 1999. Buku ini terkenal karena keberaniannya menghitung korban rezim komunis di berbagai negara: Uni Soviet, Tiongkok, Kamboja, Korea Utara, dan Vietnam, hingga puluhan juta jiwa.

Namun justru di situlah relevansinya dengan isu puisi esai. The Black Book of Communism memperlihatkan batas ekstrem pendekatan statistik.

Angka-angka yang disajikan sangat presisi, argumentatif, dan politis, tetapi hampir seluruh korban hadir sebagai kuantitas, bukan sebagai manusia.

Buku ini menjadi monumen angka. Ia penting secara historis, tetapi dingin secara empatik. Dalam konteks puisi esai, buku ini dapat dibaca sebagai teks lawan: ia menunjukkan apa yang terjadi ketika sejarah berhenti pada data.

Puisi esai hadir untuk melanjutkan pekerjaan yang tak bisa diselesaikan buku ini, memberi wajah, suara, dan luka pada korban yang di sana hanya dihitung.

-000-

Kedua, buku berjudul If This Is a Man, yang ditulis Primo Levi dan terbit dalam edisi Inggris tahun 1959.

If This Is a Man adalah salah satu karya paling kuat dalam sejarah sastra kesaksian. Primo Levi, penyintas Auschwitz, menolak angka sebagai pusat narasi. Ia memilih satu tubuh, satu rasa lapar, satu rasa malu, satu kehilangan martabat.

Buku ini tidak menyangkal statistik Holocaust, tetapi secara sadar menyingkirkannya ke latar belakang. Yang utama adalah pengalaman eksistensial korban: bagaimana rasanya diperas hingga nyaris kehilangan kemanusiaan, dan bagaimana bahasa berjuang untuk tetap bermakna di tengah kehancuran moral.

Inilah roh yang sangat dekat dengan puisi esai. Jika puisi esai mengawinkan fakta dan imajinasi liris, maka buku Levi adalah bukti bahwa kesaksian personal mampu menembus batas statistik dan mengubah sejarah menjadi pengalaman batin.

Buku ini menunjukkan bahwa sejarah baru benar-benar hidup ketika korban diberi suara, bukan sebagai angka, melainkan sebagai manusia yang bertanya: “Apakah aku masih manusia?”

Jika The Black Book of Communism mewakili sejarah sebagai kalkulasi, dan If This Is a Man mewakili sejarah sebagai kesaksian, maka puisi esai, seperti dibaca Narudin Pituin, berdiri di antara keduanya: menggabungkan ketepatan fakta dan kegetiran empati.

Di sanalah sastra menemukan tugas etiknya yang paling sunyi: menyelamatkan manusia dari kepunahan di dalam angka.

-000-

Akhirnya, buku karya Narudin ini mengajak kita merenung.

Ketika imperium runtuh, pasar menjadi debu, dan statistik diganti statistik lain, apa yang tersisa?
Yang tersisa adalah kisah.
Yang tersisa adalah ingatan.

Puisi esai hadir untuk memastikan bahwa mereka yang karam dalam arus sejarah tidak benar-benar hilang. Ia mengingatkan kita bahwa setiap angka pernah bernapas, pernah mencintai, dan pernah berharap.

Pada akhirnya, Narudin membuktikan bahwa puisi esai adalah jembatan etis; ia memaksa kita melihat sejarah bukan sebagai masa lalu yang beku, melainkan sebagai tanggung jawab kemanusiaan yang terus berdenyut hingga hari ini.

Dan barangkali, di sanalah tugas tertinggi sastra: bukan untuk menghibur dunia, melainkan menjaganya tetap manusiawi.*

Jakarta, 1 Februari 2026

REFERENSI

The Black Book of Communism, Stéphane Courtois (editor) dkk, Harvard University Press, 1999

If This Is a Man, Primo Levi, The Orion Press (edisi Inggris awal), 1959 (edisi Inggris; asli Italia 1947)

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1HeEfsCuyj/?mibextid=wwXIfr ***