Trump dan NRA: Pergeseran Sikap dan Dampaknya Terhadap Kebijakan Senjata

ORBITINDONESIA.COM – Dalam pernyataan mengejutkan, Donald Trump mengusulkan pengambilan senjata sebelum proses hukum, memicu kontroversi di kalangan pendukung hak senjata.

Donald Trump, yang dikenal sebagai sahabat pemilik senjata di Gedung Putih, memicu gejolak dengan pernyataan yang bertentangan dengan kelompok pro-senjata. Setelah penembakan massal di Parkland, Trump mengusulkan undang-undang pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat. Namun, tekanan dari NRA membuatnya mundur. Kejadian serupa terulang ketika Trump mengomentari penembakan Alex Pretti, memicu kritik dari kelompok hak senjata.

Pergeseran sikap Trump mencerminkan dinamika politik yang kompleks di sekitar kebijakan senjata di AS. NRA, yang dulu merupakan kekuatan lobi dominan, kini mengalami penurunan kekuatan akibat skandal keuangan dan konflik internal. Trump, meski sering bertentangan dengan kelompok pro-senjata, tetap menjalankan kebijakan yang mendukung hak kepemilikan senjata, seperti pembatalan regulasi era Biden dan pengurangan dana penelitian kekerasan senjata.

Sikap Trump yang berubah-ubah menunjukkan ketidakpastian dalam kebijakan senjata. Meski administrasinya mendukung hak senjata, pernyataan Trump sering kali bertolak belakang dengan tindakan kebijakannya. Ini menggambarkan tantangan yang dihadapi pendukung hak senjata dalam mempercayai Trump sebagai pembela Amandemen Kedua. Ketegangan ini juga membuka ruang bagi kelompok lain untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan NRA.

Perubahan dalam kekuatan lobi senjata dan pernyataan Trump mengindikasikan perubahan lanskap politik senjata di AS. Dalam konteks ini, pertanyaannya adalah bagaimana kebijakan senjata akan berkembang di masa depan dan apakah akan ada keseimbangan antara hak kepemilikan senjata dan keamanan publik. Ini mengundang refleksi mendalam tentang arah kebijakan senjata di negara ini.

(Orbit dari berbagai sumber, 4 Februari 2026)