IN MEMORIAM - Selamat Jalan, Agus Widjojo: Perwira Negara yang Memilih Jalan Rekonsiliasi dan Akal Sehat

ORBITINDONESIA.COM - Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pada Minggu malam, 8 Februari 2026, pukul 20.15 WIB, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo berpulang ke rahmatullah di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Hingga akhir hayatnya, ia masih mengemban amanah negara sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina, merangkap Republik Kepulauan Marshall dan Republik Palau.

Kepergian Agus Widjojo bukan sekadar kehilangan seorang purnawirawan tinggi TNI atau diplomat negara. Indonesia berduka karena kehilangan sosok pemikir, negarawan, dan perwira yang berani melampaui zamannya—berani berpikir jernih di tengah arus besar sejarah yang sering kali gelap dan emosional.

Perwira Intelektual dalam Tubuh TNI

Agus Widjojo dikenal sebagai perwira intelektual. Dalam perjalanan militernya, ia tidak hanya tumbuh dalam tradisi komando dan disiplin, tetapi juga dalam tradisi berpikir kritis, reflektif, dan terbuka. Ia adalah bagian dari generasi TNI yang memahami bahwa kekuatan militer sejati tidak hanya diukur dari senjata, melainkan dari legitimasi moral dan kepercayaan rakyat.

Pemikirannya banyak mewarnai diskursus reformasi TNI pasca-1998, terutama dalam isu: profesionalisme militer, relasi sipil–militer, dan peneguhan prinsip supremasi sipil dalam negara demokratis.

Dalam berbagai forum, Agus Widjojo kerap menjadi jembatan antara dunia militer dan masyarakat sipil—menawarkan bahasa yang tenang, rasional, dan tidak defensif.

Peran Penting dalam Upaya Rekonsiliasi Tragedi G30S 1965

Salah satu warisan terpenting Agus Widjojo adalah keberaniannya membuka ruang rekonsiliasi nasional terkait tragedi G30S 1965, sebuah bab sejarah yang lama terbungkus ketakutan, stigma, dan trauma kolektif.

Sebagai putra Pahlawan Revolusi Mayjen TNI (AnumertaSutoyo Siswomiharjo, Agus Widjojo memiliki legitimasi moral yang kuat untuk tetap berada dalam posisi diam atau defensif. Namun ia memilih jalan yang jauh lebih berat: jalan kemanusiaan dan rekonsiliasi.

Dengan tenang dan bermartabat, ia mendukung dialog terbuka mengenai tragedi 1965, mendorong pengakuan penderitaan korban dan keluarganya, serta menegaskan bahwa keadilan sejarah tidak harus bertentangan dengan penghormatan kepada para Pahlawan Revolusi.

Sikap ini menjadikannya figur langka—seorang anak korban langsung tragedi politik yang justru menyerukan penghentian dendam lintas generasi. Bagi banyak keluarga korban G30S PKI, sikap Agus Widjojo adalah isyarat kemanusiaan dari negara yang selama puluhan tahun terasa absen.

Ia tidak menuntut lupa, tetapi mengajak bangsa ini mengingat dengan jujur dan adil.

Diplomat yang Membawa Martabat Bangsa

Di usia senjanya, Agus Widjojo tetap mengabdi. Sebagai duta besar, ia membawa pengalaman strategis dan kebijaksanaan politik ke ranah diplomasi. Hubungan Indonesia dengan Filipina dan negara-negara Pasifik dijalankan dengan pendekatan dialog, saling menghormati, dan pemahaman geopolitik kawasan.

Ia merepresentasikan Indonesia sebagai negara besar yang tenang, dewasa, dan berwibawa, bukan dengan retorika keras, tetapi dengan keteguhan prinsip.

Warisan Moral untuk Indonesia

Agus Widjojo mengajarkan bahwa: menjadi tentara tidak berarti menutup mata terhadap luka sejarah, menjadi anak korban tidak harus memelihara kebencian, dan mencintai negara tidak selalu berarti membenarkan masa lalunya.

Ia membuktikan bahwa rekonsiliasi bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian tingkat tinggi—keberanian untuk mengutamakan kemanusiaan di atas ego politik dan trauma sejarah.

Selamat jalan, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo. Engkau telah menunaikan tugasmu dengan kepala tegak—di medan militer, di ruang pemikiran, dan di jalan sunyi rekonsiliasi bangsa.

Indonesia berutang padamu satu pelajaran penting: bahwa masa depan hanya bisa dibangun oleh mereka yang berani berdamai dengan masa lalu.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal baktimu, mengampuni khilafmu, dan menempatkanmu di sisi terbaik-Nya. Al-Fatihah.

*Satrio Arismunandarpakar SCSC (South China Sea Council). ***